Site icon Informasi Terkini Berita Sumsel

Generasi Futuristik Bukanlah Seperti ‘Layangan Putus’

Coganews.co.id | Palembang – Era digitalisasi merupakan pintu gerbang peradaban dengan accesibility power tanpa henti, gerak langkah yang praktis, arus informasi dan komunikasi yang sangat cepat serta inovasi teknologi yang memanjakan setiap kita di segala sudut kehidupan.

Apa yang kita nikmati dan saksikan hari ini merupakan hasil ‘jerih payah’ orang-orang yang telah berpikir maju dan berani bermimpi besar pada masanya yang kita bisa sebut tokoh-tokoh futuristik dimana pemikiran nya melampaui masanya.

Banyak juga dibully, diremehkan, dianggap impossible bahkan dicap gila.

Seperti Abu Nawas sosok Ilmuwan sekaligus Pujangga Besar pada masa keemasannya yang sering dianggap gila, Imam Syafi’i, Imam Al Ghazali, Thomas Alva Edison, Albert Einstein dan ada juga Galileo Galilei yang menemukan teori heliosentris bahwa bumi itu bulat, Matahari sebagai pusat tata surya yang akhirnya menjadi tahanan rumah sampai kondisi sangat memprihatinkan hingga kematian nya.”

Era digitalisasi ini dengan banyaknya kemuktahiran teknologi yang ada jangan sampai membuat kita seperti ‘Layangan Putus‘.

Demikian Papar Dandi Nazor dalam mengisi Dialog di RRI Pro 1 Palembang pada acara Lintas Palembang Sore dengan tajuk “2022, Saatnya Menjadi Generasi Futuristik” dengan host kece Husni, pada Jum’at (07/01/2021).

Lanjut Pengurus BADKO HMI Sumbagsel Departemen Informasi Komunikasi dan Digitalisasi Inovasi (Infokom dan Digvasi) ini, setidaknya ada 3 hal yang harus generasi muda miliki: Pertama, integritas, terus perbanyak karya, bersuara dan bergerak meskipun terkesan tidak dilihat, diacuhkan ataupun tidak harus menunggu perintah. Kedua, be The FAST One *(Fathonah, Amanah, Shiddiq, Tabligh).

Selalu berupaya gercep (gerak cepat) dalam mencapai goals. Jika menjadi yang pertama tentu akan menjadi legacy dan kesan yang tak terlupakan sehingga secara otomatis menjadi yang terbaik dengan prinsip tetap cerdas, bisa dipercaya, jujur dan menyampaikan sesuatu tepat ukuran dan tepat aturan.

Ketiga, menciptakan panggung sendiri, generasi Futuristik tentunya tidak lagi mencari ‘panggung’ tapi menciptakan panggung itu sendiri. Bisa melalui kajian,tulisan, diskusi, turun langsung ke jalan, karya inovasi dan gerakan konkret lainnya yang langsung berdampak bagi bangsa dan umat.

Mengenai generasi Futuristik jangan sampai seperti ‘Layangan Putus’ dengan kepo host Husni menanyakan apa itu penjelasannya terhadap sosok energik CEO Sinergi Institute tersebut,

Kita harus berdaya dengan prinsip yang kuat, tidak mudah putus asa, putus target apalagi sampai putus silaturahmi karena banyaknya gesekan dan keberagaman apalagi di dunia kepemudaan saat ini.

Ibaratkan layangan, seberapa pun kuatnya ‘angin’ yang menerpa kita harus bisa memainkan iramanya. Semakin tinggi, semakin kencang, jangan sampai kita lose control. Tetap miliki integritas dan komitmen yang kuat, itu aja kok, it’s my dream!” .

Mengenai ‘Layangan Putus‘ dari kacamata kepemudaan masa kini Dandi Nazor juga mengutip pendapat Prof. Dr. Sutinah, M.S., pakar Kepemudaan dan Keluarga masa kini bahwa kita dituntut untuk pandai membaca tanda-tanda yang ada di lingkungan sekitar kita, sehingga kita tidak mudah ‘putus‘ atau terjerumus.

Dalam diskusi yang quality time ini dikupas juga seputar isu-isu terkini, mengenai peran elemen Kepemudaan dalam pembangunan daerah hingga kasus pelecehan dan kekerasan seksual menjadi perhatian masyarakat saat ini.

(Danaz)

Exit mobile version