Masih Adakah Pancasila, Ir. Suparman Romans, Yan Coga Aktivis Pemuda Sumsel

Coga News, Coga Opini274 Dilihat

20 Menit Bersama Ir. Suparman Romans dan Yan Coga Aktivis Sumsel

Sebuah Refleksi Perjalanan 55 Tahun Pancasila Yang Sakti

Coganews.co.id | Palembang – Ekslusif Opini mengupas perjalanan 55 tahun Pancasila yang sakti bersama Ir. Suparman Romans didampingi Yan Coga, Sabtu (26/9/2020).

Assalamualaikum, Saya merasa sedikit surprise saat adik-adik dari organisasi kemahasiswaan yang jadi inisiator dialog Kebangsaan meminta saya untuk menjadi salah satu nara sumber bersama beberapa tokoh yang saya anggap berkompeten untuk membedah Pancasila.

Meskipun saya merasa masih dangkal terhadap keilmuan saya tentang Pancasila, namun demi menghormati undangan adik-adik mahasiswa pergerakan Extra kampus, saya mencoba untuk menyampaikan sebatas pemahaman dan wawasan saya tentang Pancasila.

Menurut hemat saya, membedah Pancasila tentu terlebih dahulu harus memaknai 5 sila yang terkandung didalamnya.

Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Unsur ketuhanan yg dijadikan sila pertama menunjukkan sekaligus membuktikan bahwa negara kita meletakkan nilai-nilai spiritual yakni sebuah keyakinan tentang kekuasaan Tuhan Sang Pencipta alam semesta sebagai pilar utama, yang mengartikan bahwasanya berdirinya bangsa ini merupakan sebuah takdir yg telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Sila pertama ini sekaligus jawaban bagaimana sikap dan tindakan kita sebagai anak bangsa terhadap faham komunis yg atheisme, apapun alasannya dan bagaimanapun kondisinya sepanjang Pancasila menjadi landasan kehidupan bangsa Indonesia maka komunis tidak boleh dan tidak bisa di tolerir untuk hidup serta berkembang di negara kita.

Jelas dan tegas, Indonesia diperuntukkan bagi rakyatnya yg berketuhanan.

Sila Kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Dari sila kedua ini tentu kita bisa memaknai, bahwasanya negara kita menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan menyangkut persamaan hak bagi seluruh warga negara untuk mendapatkan pengayoman serta perlindungan dari pemerintah, mendapatkan keadilan IPOLEKSOSBUDHANKAM berdasarkan konstitusi yang di atur secara bermartabat dan beradab, dgn prinsip-prinsip kesetaraan sebagai warga negara untuk melaksanakan tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dapat disimpulkan bahwa negara kita tidak mentolerir segala tindakan radikalisme, terorisme, premanisme, serta tindakan-tindakan yang melanggar hak asasi manusia.

Sila Ketiga, Persatuan Indonesia.

Sila ini menggambarkan sekaligus menggugah kesadaran kita sebagai anak bangsa, bahwa apa yan telah diperjuangkan oleh para pahlawan serta founding kita untuk merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan, mewajibkan kita selaku warga negara untuk menjaga serta memelihara keutuhan NKRI dari Sabang hingga Merauke tanpa kompromi.

READ  Herman Deru (HD) Dukung Upaya Cegah Tangkal Covid-19

Upaya untuk memecah belah bangsa kita yang dilakukan oleh kelompok-kelompok anti persatuan harus kita lawan. Berbagai isu yg mengancam keutuhan NKRI baik isu kiri (komunisme) maupun isu kanan (radikalisme).

Jika tidak disikapi secara seksama oleh seluruh elemen bangsa ini (pemerintah dan rakyat), maka niscaya kita akan menjadi bangsa yg tercerai berai, dan tentu saja ini merongrong serta mengancam kesaktian Pancasila.

Sila Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Sila keempat mencerminkan sistem demokrasi yang kita anut serta pola pemerintahan yang dijalankan dengan tetap berpijak pada kedaulatan rakyat berdasarkan asas musyawarah yg demokratis melalui perwakilan.

Jika kita maknai maka sesungguhnya rakyatlah yang memiliki kekuasaan dalam sistem pengelolaan negara, karena rakyatlah yang memilih presiden, MPR dan DPR, melalui pemilu secara langsung.

Namun dalam implementasi kekuasaannya, rakyat cenderung masih lemah dalam posisi mengawal serta mengawasi institusi yg telah dipilih tersebut.

Bahkan seolah-olah rakyat cuma sekedar menjadi alat eksploitasi kepentingan bagi orang-orang yang telah dipilih untuk mewujudkan ambisi mereka menggapai kursi kekuasaan dgn mengatasnamakan rakyat.

Maka akhirnya muncullah berbagai kebijakan maupun peraturan-peraturan yang justru tidak mencerminkan kepentingan rakyat, bahkan seolah-olah ada konspirasi kekuasaan dari para pemangku kebijakan pemerintahan (eksekutif, legislatif, yudikatif), yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, sementara kepentingan rakyat seolah-olah terabaikan.

Sila Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Sila penutup yang mempertegas komitmen negara kepada rakyatnya, bahwa tujuan akhir dari bangsa ini adalah terwujudnya kesejahteraan lahir batin bagi seluruh rakyat tanpa pengecualian, dan ini adalah kewajiban, tugas dan tanggung jawab bagi para pemimpin bangsa ini.

Kalimat yang memiliki nilai-nilai luhur dan cita-cita mulia dari para founding bangsa Indonesia, yang dititipkan mereka untuk para pemimpin kita masa kini dan masa depan.

Pertanyaannya, sudahkah kita mencapai pelabuhan sejahtera ? Apa yg kita rasakan dan hadapi saat ini adalah sebuah realita dimana posisi bangsa ini, apakah telah berjalan sesuai track impian idealisme para founding ataukah kita masih berkutat dengan sebuah pencarian jatidiri sebagai bangsa yang telah menikmati hasil kemerdekaan.

READ  Plt Bupati Hernedi Serahkan DIPA dan TKDD 2022

Itulah lima sila yang terkandung didalam Pancasila, yang secara konstitusi menjadi pedoman kehidupan bagi seluruh bangsa Indonesia.

Kita juga masih terus diingatkan sejarah kelam 55 tahun yang lalu dimana Pancasila diuji dalam sebuah peristiwa berdarah yang menumbalkan para pahlawan kita, diantaranya para jenderal yang menjadi pemimpin sekaligus pengawal keamanan Negara.

Mereka para pahlawan revolusi yang gugur mengorbankan nyawanya demi menjaga kesaktian Pancasila, ditengah isu adanya upaya penggulingan rezim yang berkuasa.

Kita hanya membaca sejarah, karena hanya orang-orang tua kita sebagai pelaku sejarah yang mungkin saat ini telah mendahului kita semua, yang tahu fakta apa yang sebenarnya terjadi saat itu, dan kita selaku generasi penerus, hanya mampu meraba dalam gelap, karena fakta sejarah yang otentik masih terus diperdebatkan oleh para elit politik dan elit kekuasaan saat ini, dimana masing-masing pihak saling bersikukuh bahwa sejarah versi merekalah yang paling benar.

Kita hanya mampu menonton sekaligus menunggu, sampai kapan drama kekuasaan ini akan berakhir dengan ending yang kita impikan bersama yakni KESEJAHTERAAN.

Mungkin kita hanya mampu menggumam dalam hati Wahai para elit politik dan elit kekuasaan yang ada disana, kapan kalian akan berhenti membuat kegaduhan bagi negeri ini ?Sudah terlalu letih kami dipertontonkan drama yang memuakkan, dengan lakon-lakon picisan kalian yang saling menelanjangi satu pihak dengan pihak lainnya.

Stop buat gaduh, karena bangsa ini butuh para pemimpin yang ber nurani, bukan yang ambisi. Dan jika kita bertanya “Masih Adakah Pancasila Saat Ini? “, maka saya ingin menjawab “DIA MASIH ADA, TAPI ROHNYA SEDANG BERKELANA MENCARI PULAU IMPIAN YG TAK KUNJUNG TAMPAK”. Ujar Suparman Romans di dampingi Aktivis Sumsel Yan Coga.

Wallahulmuwafiq ilaa aqwamitthoriq, Wassalamualaikum wrwb.

Salam takzim,

  • Suparman Romans Ketua DPW Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (PEKAT IB) Provinsi Sumatera Selatan.
  • Pengurus DPP Ikatan Keluarga Besar Pejuang Dan Purnawirawan TNI POLRI (IKPURABRI).
  • Alumni Pengurus Pemuda Panca Marga Sumatera Selatan