Coganews.co.id | Palembang
oleh : Dandi Nazor ( Sekjen HPP Muratara)
When you change your thinking
You change your beliefs
When you change your beliefs
You change your expectations
When you change your expectations
You change your attitude
When you change your attitude
You change your behavior
When you change your behavior
You change your performance
When you change your performance
You change your destiny
When you change your destiny
You change your life
(John C Maxwel, Developing The Leader Within You)
Harmonisasi tubuh manusia memberikan inspirasi kuat bagaimana hidupnya sebuah himpunan atau organisasi kepemudaan yang kokoh dan berkelanjutan. Kepala yang menjadi pusat koordinasi untuk melihat, mendengar, mencium dan merasakan segala hal dengan lebih cepat. Tangan kanan yang dengan sigap tanpa disuruh jika tangan kiri gatal dan sakit oleh digigit nyamuk. Pun saat perut sakit, melangkah pun jadi lunglai, sekujur tubuh menjadi lemas. Semua bersinergi saling merasakan. Right?
Menilik organisasi kepemudaan pertama berdirinya di negeri ini, Boedi Oetomo yang lahir pada 20 Mei 1908 di Jakarta serta pengggagas jelas konsep Kemerdekaan Indonesia yang dipelopori oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dengan tujuan mulia untuk mensinergikan semangat ‘anak-anak muda perantau’ dari segala penjuru negeri yang ada di luar maupun dalam negeri.
dr. Wahidin Sudirohusodo menyadari bahwa untuk meloncat tinggi sejajar dengan bangsa lain dan mencapai tujuan besar tidak saatnya lagi para pemuda bertahan dalam watak ego sentris atau Meng-Aku-kan Diri apalagi didalam sebuah organisasi atau himpunan. Tidak ada kata aku, tapi kita. Niat mulia kita untuk kemerdekaan bersama untuk Memajukan Tanah Air kita.
Kongres Budi Utomo yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 3 sampai 5 Oktober 1908. Dikupas tuntas mengenai dua prinsip perjuangan, yaitu golongan muda yang ingin berjuang menghadapi kolonial dan golongan tua yang ingin berjuang secara sosio-kultural. Semuanya bersinergi tanpa adanya Meng-Aku-kan diri. Semuanya saling mengayomi, merangkul dan terus berkolaborasi.
Well, kita sadari kalaulah dulu perjuangan ‘pemuda zaman dulu’ para leluhur kita menghadapi kolonial yang terlihat jelas dengan segala amunisi, tank dan berderet alutsista perang lainnya. Maka sejatinya, perjuangan kita anak-anak muda hari ini akan lebih berat karena kita menghadapi berbagai perang multidimensi dari kanan, kiri, atas dan bawah bahkan dari dalam diri kita sendiri yang setiap waktu berdatangan silih berganti.
Himpunan ini yang berjuang dengan niat mulia untuk Merajut Persaudaraan, Mengukir Sejarah dan Memajukan Tanah Kelahiran terus mendidik para kader untuk selalu ber-Sinergi (Silaturahmi Energi) dalam bergerak bertindak dan berdampak konkret bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Geserkan segala kata-kata “Aku” menuju konsep sinergi “Kita”.
Salam Persaudaraan!









