Kunjungi Dapur Bunda Rayya, Ustad Derry Sulaiman Kasih ‘Nutrisi Rohani’ di Masa ‘PPKM’

Coga Religi410 Dilihat

Alarm Kematian di Masa PPKM (Perbanyak Pahala Kita -untuk- KeMatian)

Coganews.co.id | CINDE, Palembang – Dunia adalah tempat kita meninggal, bukan tempat kita tinggal, demikian petikan nasihat dari Ustad Derry Sulaiman, ulama bersahaja yang juga seniman inspiratif Indonesia.

Selasa, 27 Juli 2021 bertempat di Dapur Bunda Rayya kedatangan silaturahmi dari salah satu Ustad Muda kebanggaan tanah air Ustad Derry Sulaiman yang didampingi keluarga bersama Baba Sena dan ustadz Fikri serta rombongan lainnya.

Disamping diajak menikmati ‘nutrisi makan siang’ dengan aneka sajian inovasi dari Yus Eliza dengan panggilan akrabnya Bunda Rayya dengan menu hits nya Mak Joda, pempek dan pindang tekwan khas Palembang, dibalut makan siang dengan pindang harum, ikan panggang, sambal matah lezat dan lalapan-lalapan penguat imun.

Suasana quality time ini semakin terasa juga dengan sajian kembali ‘nutrisi rohani’ dari Ustad Derry Sulaiman seraya melantunkan syair-syair menggugah menusuk hati dan tentunya sangat relevan dengan situasi Ibu Pertiwi saat ini, dimana digempur oleh kebutuhan ekonomi dan gigitan pandemi.

Dengan petikan gitar dan tatapan teduh, sejuk nan penuh telepati Ustad Derry Sulaiman melantunkan lagu nya,

“Bersyukurlah atas segala apa yang kita dapatkan
Karna semuanya begitu indah
Bersabarlah atas segala musibah yang menghampiri
Karna semuanya tak akan lama

Sedih sementara, bahagia sementara
Sakit sementara, sehat sementara
Miskin sementara, kayapun sementara
Dunia sementara, akhirat s’lama-lamanya
Berharaplah hanya kepada Allah Yang Maha Segalanya

Yakinkan hati hanya kepadanya
Dunia ini tempat meninggal, bukanlah tempat kita tinggal

Kita semua kan kembali padanya
Sedih sementara, bahagia sementara
Sakit sementara, sehat sementara
Cantik sementara, tampanpun sementara
Dunia sementara, akhirat s’lama-lamanya”

Dalam suasana pandemi Covid-19 dengan lahirnya banyak varian barunya, entah memiliki korelasi atau tidak kita akhir-akhir ini selalu mendapat kabar akan kematian sahabat, tetangga, pejabat, ulama dan bahkan orang-orang yang tidak kita kenal dari pelosok desa hingga kota. Seolah menjadi ‘infodemi’ banyak sekali ini kita temukan di grub-grub WhatsApp, Instagram, televisi, koran dan dari mulut ke mulut.

READ  Ketua BKMT Muba Lantik HISBI BKMT Kecamatan Keluang Periode 2024 - 2029

Kita tidak perlu hectic apalagi berlebihan menyikapi ini, karena kitapun sedang menunggu giliran akan kematian itu. Karena ajal sudah pasti datang, maka pertanyaannya adalah, apakah kita telah siap menghadapainya ?

Hari ini bukan hanya makan saja yang ditentukan waktunya 20 menit, kehidupan kita juga sudah jauh-jauh hari ditentukan waktunya.

Sebentar lagi kita akan merayakan Hari Kemerdekaan RI Ke 76, acara 17 an, biasanya kita melalui organisasi atau komunitas akan mengadakan acara dengan terlebih dahulu membuat proposal. Meski kadang acaranya hanya beberapa jam, namun mempersiapkan proposal acara jauh lebih lama waktunya. Sementara untuk perjalanan hidup yang lama, tidak banyak orang yang kemudian menyiapkan proposal kehidupannya. Terlebih lagi proposal kematian, mungkin sedikit orang menuliskan proposal kematiannya.

READ  Bupati Devi Buka Langsung Acara STQH ke II Tingkat Kabupaten Muratara

Sebagai manusia cerdas kita mesti merancang Proposal Kematian kita, dimana rancangan yang ditulis dengan maksud untuk mendeskripsikan perencanaan untuk menyiapkan datangnya kematian.

Perencanaan dalam proposal diperkuat dengan tujuan setiap aktivitas yang telah direncanakan, sehingga seluruh aktivitas hidupnya akan sejalan dengan target kematian yang diinginkan. Kondisi kematian yang wajib menjadi target adalah akhir ajal yang husnul khotimah. Manfaat proposal kematian juga bisa menjadi pemahaman bagi orang-orang disekitar seperti keluarga, sahabat dan tetangga untuk ikut memahami dan menjadi pendorong bagi target kematian yang diinginkan. 

Proposal biasanya diawali oleh latar belakang pemikiran. Latar belakang pemikiran dalam proposal kematian adalah firman Allah : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Pada kesempatan itu Bunda Rayya juga menyarankan di masa pandemi ini untuk tetap menjaga pola makan karena sehat dan sakit kita berasal dari apa yang kita makan, tambah konsumsi vitamin dan tentu rajin beribadah apalagi dalam usaha dan bisnis dengan metode marketing langit yang sehat secara dunia dan akhirat, sehingga bisa membantu masyarakat sekitar juga.

(Danaz)