Coganews.co.id | Palembang – Kota dengan sejuta daya tarik yang dikenal dengan kuliner khasnya Pempek dibingkai dalam indahnya panorama jembatan Ampera berpadu aliran Sungai Musi serta juga gagah dikenal secara nasional sebagai Kota Olahraga berstandar internasional yang sudah sering mengadakan berbagai event mendunia lainnya.
Namun, tidak bisa dipungkiri setiap musim hujan, banjir selalu menghantui wilayah dengan bentangan seluas 400,61 km² yang dihuni oleh lebih dari 1,6 juta penduduk ini.
Mengamati hal demikian Dede Irawan, Formatur Ketua Badan Koordinasi (BADKO) HMI Sumbagsel 2021-2023 menyampaikan,
“Masa pandemi ini seharusnya momentum untuk berbenah oleh semua pihak dalam segala aspeknya termasuk dalam penanganan masalah banjir di Kota Palembang sebagai repsentasi nya dari Provinsi Sumatera Selatan.
Tentu banjir yang terjadi disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia, kita perhatikan di Kota Palembang saat hujan dengan intensitas yang tinggi selalu mengkhawatirkan. Karena banyak titik strategis yang kebanjiran seperti kawasan PTC hingga Sekojo, Sekip, Simpang DPRD Provinsi, sepanjang jalan Ar Rivai hingga kawasan Simpang Polda.

Banyak teman-teman kita dari kalangan Mahasiswa yang ngekos dan masyarakat lainnya bahkan tidak bisa tidur, kehilangan barang-barang berharga akibat hanyut, rusak oleh banjir belum lagi kemacetan parah bahkan kecelakaan diberbagai titik. Ini menjadi evaluasi bagi semua pihak yang bertanggung jawab. Jangan ada menutup mata.”
Lanjut oleh eks Pengurus PB HMI dengan tagline khas nya HMI Futuristik ini bahwasanya, tentu kita mengapresiasi Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang mengatasi masalah banjir ini dengan optimalisasi perbaikan drainase dengan terus fungsi kolam retensi di beberapa titik, seperti di kawasan Simpang Polda Palembang. Sehingga volume banjir yang terjadi di sejumlah kawasan Palembang yang langganan tergenang saat ini mulai mereda dan tertangani dengan baik, termasuk jumlah titik genangan yang sudah banyak berkurang, dari 60 titik saat ini hanya menjadi 30 titik.
BADKO HMI Sumbagsel juga mengkaji jangan sampai berbagai proyek Pemerintah berpotensi berisiko masalah baru seperti Daerah Aliran Sungai (DAS) Sekanak Lambidaro, Boang, Bendung, Buah, Juaro, Batang, Sriguna, Aur dan Kertapati.
Hasil analisis menunjukkan penyebab banjir antara lain adalah : (a) intensitas hujan 101,48 mm/jam menyebabkan berkembangnya 0,375 ha pada 44 lokasi di sepuluh DAS; (b) kapasitas drainase tidak mencukupi, seperti pada DAS Lambidaro, kapasitas saluran 13,89 m3/dtk sedangkan debit banjir 187.303 m3/dtk; (c) Tinggi pasang Sungai Musi 0,7 – 2,2 m, sehingga terjadi aliran balik menuju hulu sungai kecil sejauh 1100 m – 3500 m; (d) peningkatan jumlah penduduk sebesar 17,32% mengakibatkan peningkatan luas area bangunan sebesar 43,57%; (e) pendangkalan sungai akibat dari 45, 3% masyarakat yang tinggal di pinggir sungai membuang sampah ke sungai.
Adapun solusi penanggulangan yang direkomendasikan adalah rehabilitasi saluran sesuai dengan debit, pengerukan sungai, pembuatan kolam retensi, penertiban bangunan liar yang berada di pinggir sungai, pengarahan kepada masyarakat tentang kebersihan lingkungan sungai. (Danaz)







