Coganews.co.id I Tangsel –Dalam tulisan ini saya merekam ulang ketika Prof. DR Azyumardi Azra masih berstatus mahasiswa dan aktivis kampus di UIN (dulu IAIN) Jakarta tahun 1980an. Dia pernah menjadi Ketua Umum HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Ciputat, dan juga pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah tempatnya kuliah di era itu.
Kesibukannya di organisasi ini tidak membuat pengembangan intelektualnya atau juga tuntutan studinya terhambat jamaknya oleh kebanyakan aktivis. Justeru dengan kiprahnya di organisasi intra dan ekstra universiter. Azyumardi Azra yang akrab dipanggil kak Edi ini menjadi lahannya menggerakkan pengembangan intelektual di kampus tersebut.
Diskusi-diskusi kelompok (Grup diskusi mahasiswa) banyak berdiri, Diskusi isu-isu aktual dengan mengundang narasumber dari luar ber level nasional. Sebut saja Akbar Tandjung (sa’at menjadi Ketua KNPI), Nurcholis Madjid, Dawam Rahardjo, Dahlan Ranuharjo. Bukan itu saja, Victor Tanja penulis buku HMI Dalam Orang luar juga diundang untuk bicara tentang pemikirannya, biar tahu persis sudut pandangnya.
Kemudian tradisi keilmuan sebagai bagian pengembangan intelektual digalakkan, ditekankan harus banyak membaca buku bagi teman-temannya dan sangat ditekankan kepada adik-adiknya di organisasi dan di kampus. Ruh pengembangan intelektual ini cukup masif. Buku-buku yang aktual dan kontekstual mau dan akan terbit tak luput dari pantauan. Bagi yang punya uang jajan lebih bisa beli langsung. Dan bagi yang kantongnya agak tipis atau juga kering terpaksa numpang gantian baca dan pinjam meminjam.
Terbersit juga indikator, harus bawa buku untuk dibaca pada setiap kesempatan. Apakah sambil nunggu atau dalam bis kota. Terasa asing jika tidak mengikuti alam atau atmosfer ruh keilmuan ini. Begitu juga kunjungan ke perpustakaan kampus (internet belum hadir). Belama-lama membaca buku atau sumber lainnya di perpustakaan serta peminjam sebagai anggota. Pokoknya perpustakaan banyak pengunjung.
Seiringan dengan itu bursa buku sering diadakan dengan mengundang para penerbit dan bedah buku. Baik itu diadakan oleh tingkat komisariat ( untuk organisasi ekstra) ataupun perfakultas oleh organisasi intra.
Pendidikan Pers dan Jurnalistik. Azyumardi Azra sa’at itu sudah menjadi wartawan tetap di Majalah Panji Masyarakat milik Rusdi Hamka (Putra Buya Hamka). Linear dengan skil praktisnya. Literasi bidang ini terus diadakan secara berkala. Dunia tulis menulis ini harus dimiliki bagi seorang calon intelektual, agar pemikiran atau gagasan keilmuannya mudah ditransfer kepada pihak lain. Sangat betul.
Maka era itu tidak mengherankan di UIN (IAIN) Ciputat banyak melahirkan penulis-penulis muda serta media-media ilmiah kampus, meskipun masih pakai mesin Stensil (Teknologi Cetak masih sangat terbatas untuk mahasiswa) sa’at itu. Masing-masing Fakultas atau Komisariat cenderung berlomba-lomba menerbitkan penerbitan.
Tulisan Ilmiah Populer yang sudah dikoreksi para senior banyak dikirim ke media masa nasional. Kompas, Pelita, Merdeka, Neraca dan lainnya. Setiap pagi para calon intelektual muda ini sudah mencari koran-koran tersebut, sesuai dengan tulisannya sudah dikirim ke Suratkabar apa. Begitu bangganya, ketika melihat dan membaca Tulisan Opini yang dikirimnya sudah terbit. Perlu dimaklumi pada era orde baru Suratkabar atau majalah sangat terbatas tidak seperti era reformasi yang bebas tanpa kendali pemerintah. Tanpa yang namanya SIUPP ( Surat Izin Usaha Penerbit), STT (Surat Tanda Terbit) atau sejenisnya..
Pengalaman saya pertama kali menulis Resensi Buku Sunaryo dengan judul Menimba Semangat Sunaryo. Suatu ketika, saaya belum sempat baca. Ketika ketemu teman di sela jam kuliah. Teman bilang, Kar, saya sudah baca tulisan Anda di Pelita. Aduh rasanya bukan main, serasa kita sudah masuk bagian dalam kategori intelektual muda. Sudah sah. Begitu seakan interprestasinya.
Lantas langsung bergegas mencari Suratkabar Pelita di Sekretariat Senat Tarbiyah. Maklum, sudah agak malas mengontrolnya sudah diterbitkan atau belum. Lantaran sebelumnya tulisan saya sering dikembalikan lewat pengiriman Pos. Media waktu itu sangat selektif menerbitkan Tulisan Opini. Selain dilihat dari pembahasan dan analis materi dan kontekstual. Juga sangat dipertimbangkan sisi Keamanan. Mahasiswa cenderung isinya mengkritik pemerintah.
Kemudian juga saya termasuk yang rada malas dan malu konsultasi tulisan dengan para senior. Tetapi karena di samping lingkungan atau kampus yang cukup mempengaruhi dan menggoda semangat pengembangan intelektual. Juga pertanyaan-pertanyaan yang menjadi beban moral akademis. Seperti kata Kanda Azyumardi Azra suatu ketika “Jangan baca buku atau tulisan orang lain terus. Kapan tulisan/buku ente dibaca orang.
Bagi saya ini dunia baru, lantaran saya sebelumnya bersekolah di daerah yang serba kurang, terutama buku dan pola belajar banyak membaca. Belajar buku pelajaran saja hanya menjelang ujian semester. Maka ada teman yang berkuliah di Palembang rada heran setelah membaca tulisan saya yang dipublikasi tersebut. “Koq ada perubahan spektakuler dan pundamental” katanya. Seolah tak percaya. Begitulah lantaran tradisi keilmuan yang dibangun di lingkungan dan kampus oleh para senior sangat menentukan.
Tidak cukup itu saja bagian pengembangan intelektual. Pelatihan Research dan Penelitian sangat digalakkan. Dunia penelitian menjadi bagian penting. Di lingkungan HMI Cabang Ciputat pernah ada HP2M (Himpunan Penelitian Dan Pengembangan Masyarakat.). Berkumpul para aktivis dan intelektual muda, selain Azyumardi Azra teman-temannya mas Komarudin Hidayat, Fachry Ali, Hadimulyo, Kurniawan Zulkarnain dan lain.
Alhamdulillah, ketika berkerja sebagai Peneliti Komunikasi Sosial di Litbang Departemen Penerangan sa’at itu cukup memperlancar menjalan Tupoksi lembaga dan pengumpulan nilai untuk kenaikan pangkat jabatan peneliti tidak ada kendala. Dalam Diklat Penelitian yang diadakan oleh Departemen Penerangan sering berada dalam sebagai peserta terbaik.
Idealisme untuk menambah bobot intelektual muda juga menjadi ciri khas. Ada sebuah kecenderungan jika mahasiswa sibuk pacaran. Maka bisa dicap tidak masuk kategori calon intelektual muda tersebut. Sa’at itu terbangun manusia Kutu Buku. Sibuk berkutat dengan buka dan membaca buku, sehingga tidak punya waktu untuk mengurus lawan jenis (istilah anak muda pacaran). Sementara kaum hawa di kampus atau organisasi banyak juga yang jadi aktivis. Di HMI ada yang namanya KOHATI, Korp HMI wati. Artinya sangat jamak jika dekat atau mengurus teman yang berlainan jenis, dalam pengertian lebih intensif.
Maka ketika ada kebijakan pemerintah untuk mengebiri gerak mahasiswa yang dikenal NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus). Ingat Haryono Dema sa’at itu mengugat pemerintah lewat Interplasi Sulaiman dkk di Fraksi PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Ramailah isu NKK dan BKK di kampus. Di kalangan HMI, waktu Konperca. Di samping memang betul-betul membahas NKK dalam respons terhadap kebijakan pemerintah, sebagai bagian rekomendasi Konperca (Konprensi Cabang). Juga menyinggung tentang Normalisasi Kehidupan KOHATI (NKK).
Kata Hadits nabi Muhammad Saw. Bila meninggal manusia terputus amal ibadahnya. Kecuali tiga. Shodaqoh Jariah, Ilmu yang bermanfa’at dan anak yang Sholeh selalu mendoakannya.
Selamat jalan kanda Prof DR. Azyumardi Azra, MA. Kanda orang baik. Insyaa Allah apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw dalam Hadits tersebut engkau miliki semua. Aamiin yaa robbal aalamiin. Alfaatihah.








