Coganews.co.id. Jakarta – Perang 5 Hari 5 Malam yang terjadi di Bumi Sriwijaya tahun 1947, perlawanan rakyat terhadap penjajah Jepang mau diangkat ke layar lebar dalam bentuk Film Kolosal. Tim pekerjaan besar ini dipimpin Ir. Hafiz Mustafa ini sudah dua kali mengadakan pertemuan dan diskusi dengan penulis skenario Aristo. Rujukan bukunya salah karya Almarhum H. Abi Hasan Said, Bumi Sriwijaya Bersimbah Darah serta beberapa referensi lainnya.
Menurut M. Syarman Maula, tokoh yang masih hidup pelaku sejarah ini tinggal dua orang. Diantaranya Emil Salim mantan menteri di era Soeharto dan cendekiawan muslim. “Satu lagi tokoh yang tinggal di Palembang”, kata Syarman yang kental dengan khas senimannya.
“Time line sudah selesai dibuat. Begitu juga sinopsis dan proposalnya. Insyaa Allah di bulan Maret ini sudah bisa diadakan FGD (Focuss Group Discussion)”, kata Hafiz Mustafa dalam rapat kemarin, Rabu, 08/03/2023 , bilangan Selatan Jakarta.
“FGD ini sangat perlu, agar penjaringan pendapat, ide dan pemikiran untuk karya besar ini lebih paripurna”, kata Syarman yang menggagas FGD ini. “Dan biar FGD ini maksimal output yang diinginkan, maka harus dilakukan tiga kali di Jakarta dan Palembang dengan target audiens yang berbeda”, timpal H. Aidil Adha yang pernah menjadi Asisten Sutradara film semasa kuliahnya di Bengkulu.
Disamping mengangkat jasa besar para pejuang melawan penjajah dulu, telah banyak mengorbankan jiwa, darah dan harta demi untuk Indonesia dalam melawan dan mengusir’penjajah.
“Sejarah ini bagian dari sejarah Indonesia, dunia internasional sangat memperhitungkan, karena gejolak perlawanan di daerah dengan semangat patriotisme dan heroisme masih berlangsung ketika itu”, kata Aristo penulis skenario.
“Kita harus bangga dengan para pejuang dari daerah kita. Tanpa mereka akan terkesan kita tidak punya andil atau saham mendirikan NKRI ini”, kata Drs. H. Azkar Badri, M. Si dosen Ilmu Komunikasi STAI MAA Jakarta pada kesempatan itu.
Target akhir misi Film ini, mengaktualisasi nilai-nilai kejuangan terutama kepada generasi muda di daerah atau berasal dari Bumi Sriwijaya (Sumatera Bagian Selatan), cinta terhadap bangsa dan negara, sebagaimana para pejuang merebut dan mempertahankan NKRI”, katanya.
(H. Azkar Badri)







