Dispertanikan Muratara Gerak Cepat Periksa Kerbau Mati

Coga Daerah12 Dilihat

COGANEWS.CO.ID | MURATARA– Dinas Pertanian dan Perikanan (Dispertanikan) Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), memberi pelayanan surveillance dan lapangan terhadap hewan kaki empat kerbau.

Pelayanan tersebut menanggapi wabah penyakit ternak kerbau, di Kabupaten Muratara dalam beberapa waktu ini.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Ade Meiri Siswi melalui petugas paramedik, pada Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Mafriandi HA melakukan surveillance dan pelayanan lapangan.

Surveillance dilakukan dengan mengambil sampel jeroan dan otak ternak pada Desa Rantau Kadam, Kecamatan Rupit untuk lakukan pemeriksaan pada laboratorium

Dari sampel tersebut, Dinas Pertanian dan Perikanan memberikan simpulan sementara. Ternak kerbau tersebut hasil diagnosa terkena Penyakit SE (Septicaemia Epizootica) atau ngorok.

“Namun untuk hasil lebih lanjut, setelah hasil laboratorium di balai veteriner Lampung keluar,” kata Mafriandi, Jum’at 19 Mei 2023.

Penyakit ngorok (tagere) atau nama lainnya penyakit Septicaemia Epizootica (SE), merupakan penyakit yang sering menyerang hewan/ternak ruminansia khususnya sapi dan kerbau yang sifatnya akut atau fatal.

Penyakit ini sering terjadi terutama saat musim hujan tiba. Apabila sapi belum memiliki daya kekebalan tubuh terhadap penyakit SE.

READ  Pastikan Kesiapan Layanan SPKLU jelang mudik Lebaran, Direktur Retail & Niaga bersama Manajemen PLN S2JB inspeksi bersama

Penyakit Hewan Kaki Empat
Dan dalam kondisi ketahanan tubuh yang menurun, maka dapat menyebabkan terjadinya serangan penyakit SE yang menyebabkan kematian pada ternak sapi.

Oleh karena itu, pelaksanaan pemberian vaksinasi SE sangat perlu secara rutin, khususnya untuk daerah yang rawan penyakit SE, terutama pada saat sebelum terjadinya perubahan musim.

Salah satu penyakit hewan menular yang perlu mendapat perhatian adalah penyakit Septicaemia Epizootica (SE), penyakit ngorok ini penyebabnya oleh bakteri Pasteurella SP.

Hewan sehat akan tertular oleh hewan sakit atau carier, melalui kontak atau melalui makanan, minuman dan alat-alat tercemar. Ekskreta hewan penderita (saliva, kemih dan tinja) juga dapat mengandung bakteri Pasteurella.

Bakteri yang jatuh pada tanah, apabila keadaan serasi untuk pertumbuhan bakteri (lembab, hangat, teduh), akan tahan kurang dari satu minggu. Dan dapat menulari hewan-hewan yang digembalakan pada tempat tersebut.

Penyakit ini sering menyerang kerbau, bersifat akut dengan kematian tinggi dan menimbulkan kerugian yang cukup besar

READ  Aspirasi Rakorcam Wujudkan Banyuasin Bangkit, Adil dan Sejahtera

Hasilnya adalah kerbau yang terindikasi terjangkit penyakit SE akan menunjukkan, gambaran gejala klinis berupa peningkatan suhu tubuh.

Lalu respirasi, pulsus/denyut jantung, hewan berbaring, timbul leleran dan anoreksia.

Perhatikan Gejala Pada Hewan Ternak
Gambaran hematologis yang menunjukkan berupa perubahan jumlah leukosit, eusinofil, netrofil dan monosit.

Sedangkan gambaran serologis yang menunjukkan berupa peningkatan titer antibodi.

“Kami meminta segera laporkan kepada petugas peternakan bila menemukan ternak yang memperlihatkan gejala-gejala SE,” katanya.

Lanjutnya, segera harus pisahkan ternak sakit atau yang dugaan terserang SE dari hewan ternak lainnya.

Lakukan vaksinasi SE secara teratur setiap tahun, kandang ternak yang sakit, atau yang terduga sakit sanitasi dengan benar.

Ia juga menegaskan untuk mewanti dan pengawasan ketat terhadap keluar masuk ternak. Ternak yang baru datang harus jalani karantina.

“Ternak yang mati akibat SE maka segera kubur atau bakar, jangan hanyutkan ke sungai. Karena akan mengakibatkan masalah lingkungan, dan akan menular ke pada ternak lain,” Ujarnya (AAN)