Coganews.co.id. Palembang,- Manusia pada prinsipnya telah diciptakan berpasang-pasangan, hal ini sudah tertuang dan menjadi fitrah manusia secara seksama, bahkan ini juga dipertegas oleh Allah SWT didalam firmannya yakni QS-An Nissa;
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya. Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” [An-Nisa (4): 1].
Kita sering kali mendengar istilah perempuan merupakan rahim peradaban, hal ini menegaskan peran perempuan sangat fundamental sebagai seorang ibu yang menjaga, melahirkan dan mendidik anak-anaknya. Belakangan ini kita sama-sama sering mendengar dan maraknya suatu fenomena yang kita kenal sebagai childfree.
Susan Robert dalam tulisannya mengatakan fenomena “Childfree” lahir dan berkembang memiliki arti keputusan atau niatan seseorang untuk tidak memiliki anak. Fenomena ini bukan hal yang baru terdengar di telinga kita semua, fenomena Childfree menurutnya sudah berkembang semenjak abad ke-16 dan semakin popular hingga saat ini.
Indonesia sendiri saat ini, dominan warga masyarakatnya sudah sangat populer dengan istilah Childfree ini , seolah satu pegangan prinsip yang banyak diilhami oleh masyarakat Indonesia kala itu yakni banyak anak banyak rezeki sudah usang dan dianggap tidak berlaku lagi serta dianggap pemikiran tersebut merupakan kerangka berpikir yang konservatif dan layak untuk dihilangkan.
Namun, seiring berkembangnya fenomena “Childfree” tersebut juga bukan tidak akan memiliki dampak yang cukup progresif bahkan hingga terhadap perkembangan suatu negara, kita pasti dalam beberapa kesempatan ini selalu mendengar tentang bonus demografi yang akan terjadi di Indonesia pada tahun 2045 nanti.
Bonus demografi ini sendiri memiliki arti yang cukup komperhensif , kondisi yang akan terjadi di suatu negara dengan mayoritas penduduk memiliki usia produktif antara rentan 18-65 tahun, hal ini akan sangat berdampak terhadap melesatnya perekonomian Indonesia karena tingginya usia produktif yang dapat memenuhi kebutuhan pasar untuk menggerakan roda perekonomian semakin maju dan bukan tidak mungkin menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara digdaya.
Tentunya, fenomena Childfree yang hadir dan berkembang akan sangat berdampak terhadap krisis demografi untuk Indonesia secara berkepanjangan, opini ini lahir bukan tanpa sebuah alasan, bayangkan saja jika paham ini menjalar dan berkelakar sehingga dominan masyarakat mengamini hal ini terjadi, tentunya secara makro pertumbuhan dan perkembangan kuantitas masyarakat akan menurun karena kurang minatnya masyarakat dalam memiliki generasi setelahnya.
Hal ini, akan sangat menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat, apalagi jika Indonesia berhasil memanfaatkan bonus demografi yang digadang akan kita dapatkan pada tahun 2045 nanti, tentunya hal ini akan menjadi masalah besar jika kuantitas masyarakat pada tahun itu tidak sesuai dengan jumlah dan kebutuhan pasar yang harus terisi.
Namun, terlepas daripada implikasi yang akan terjadi pada fenomena childfree ini terhadap perkembangan ekonomi makro Indonesia kedepannya pada tahun 2045 nanti, penulis juga mempunyai perspektif yang hadir jika fenomena ini tidak selamanya buruk. Banyak dampak-dampak positif yang bisa hadir dari adanya fenomena Childfree ini dalam kehidupan individu. Keluarga ataupun pasangan seperti dapat fokus terhadap karir, Pendidikan, pasangan ataupun target-target pencapaian hidup yang sudah direncanakan.
Dilematisasi terhadap keuntungan dan kekurangan tentu tidak akan ada habisnya, fenomena Childfree harus dapat sama-sama kita ilhami dengan serius. Jika memang hal ini dirasa menguntungkan untuk diri sendiri tentunya juga pasti memiliki pertimbangan yang cukup matang, jangan sampai nanti kita hanya terbawa oleh trend fenomena ini sehingga lupa akan esensi dan kebutuhannya. Sebagai perempuan kita memiliki kuasa atas diri kita sendiri, pahami setiap butir proses yang kita lalui dan hasilnya kita akan dapat mengetahui apa yang memang seharusnya kita butuhkan.(Rilis)







