Jangan Biarkan Sejarah Dijadikan Legitimasi Rezim

 

_(Proyek Penulisan Ulang Sejarah Bangsa KemenBud)_

_MS.Tjik.NG_

*_Bismillahirrahmanirrahim_*
_Penulisan Sejarah memiliki banyak pendapat tentang cara meneliti sejarah secara objektif. Sejarah harus diteliti demi dirinya sendiri, bukan karena ada agenda atau dengan terlalu banyak asumsi. Ini kata sejarawan Jerman pendiri Historiografi modern, Leopold Von Ranke, (1795 – 1886)_.

*_Sartono Kartodirdjo_*, _Bapak sejarah Indonesia sebagai pelopor penulisan sejarah menekankan penulisan sejarah lewat pendekatan multidimensi dan ilmu-ilmu sosial_

_Baik Ranke maupun Taufik, bahwa penulisan Sejarah kudu objektif dan sangat menekankan prinsip kehati-hatian dan ketelitian_

_Penulisan sejarah Indonesia yang objektif dan akurat sangat penting untuk memahami perjalanan bangsa ini. Namun, upaya Menteri Kebudayaan untuk menggagas penulisan sejarah RI harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menjadi alat legitimasi rezim tertentu. Sejarah harus ditulis berdasarkan fakta dan bukti historis, bukan untuk kepentingan politik atau ideologi tertentu_.

_Terkait gagasan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon tengah menyiapkan rencana proyek “Penulisan Ulang Sejarah Indonesia”. Artinya Sejarah Inonesia yang selama ini ditulis dan dipelajari oleh anak-anak sekolah dan mahasiswa dan masyarakat umum ada yang tidak benar, tidah sahih alias ngawur_

*_Taufik Abdullah,_*_Dalam momen ceramah sejarah (21/01/2016) mengatakan : “Sejarah Indonesia sering dianggap “plintat plintut” . Tidak semua bisa dipercaya. Apalagi setelah pada era Orde Baru sejarah banyak diplintir”._

_Nawaitu dan Gagasan mulia dari Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, untuk merevisi dan penulisan ulang sejarah bangsa patut kita apresiasi. Ini langkah positif untuk menyingkirkan guratan sejarah bangsa yang keliru dan mengambil fakta dan realitas sejarah yang valid dan sahih_

_Mengapa penulisan Sejarah Bangsa tidak valid dan melenceng, bias kemana-mana?. Apakah faktor politik, suku dan etnis tertentu sehingga penulis sejarah menjadi tidak fair dan tidak objektif_

*_Revisi Sejarah Bangsa_*
_Proyek penulisan ulang sejarah Republik Indonesia, mendapat sorotan sejumlah Sejarawan. Diharap rencana Penulisan ulang sejarah ini tidak mengubah dan mengabaikan babak kelam sejarah Indonesia, utamanya menyangkut tragedi atau mengenai pelanggaran HAM berat yang pernah dilakukan negara, tulislah sejarah apa adanya_

READ  Pemkab Muba Bakal Lakukan Pemekaran di Dua Wilayah Kecamatan

_Hasil tulis ulang sejarah tentu akan jadi bahan ajar di Sekolah. Menurut Fadli Zon Buku itu untuk merevisi sejarah kolonialisme Indonesia selama 350 tahun_

_Sejarawan Asvi Warman Adam mengingatkan, soal unsur kebaruan dalam penulisan sejarah, buku sejarah pada prinsipnya harus memiliki “unsur kebaruan”. Sebab hal itulah yang membedakan satu karya sejarah dan sejarah yang lain._

_Penulisan sejarah Indonesia secara konsisten tentu ditulis pada saat Indonesia telah meraih kemerdekaan_
.
_”Sejarah ditulis oleh pihak pemenang” frase ini bermakna, kira-kira sejarah akan ditulis suka- suka yang menang, yang cendrung distorsif dan subjektif_ .

_Sementara dalam konteks Indonesia Merdeka itu bukan hadiah dari pihak Belanda maupun Jepang. Maksudnya tidak ada yang perlu untuk selewengkan, dihilangkan dalam rangkaian fakta sejarah bangsa yang dilakukan oleh para pejuang dan masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke, mereka disebut sebagai pelaku sejarah_

*_Muatan Sejarah Amerika_*
_Disini sekilas kita membandingkan bagaimana AS menulis sejarah bangsanya, meliputi :_

_Dalam membentuk narasi sejarah Amerika, disamping ditulis oleh para Sejarawan yang tetkenal kredibilitas dan kejujuran. Turut melibatkan pelaku Sejarah, misalnya : George Washington. Presiden pertama AS, Thomas Jefferson, Benjamin Frankkin_

_Ada muatan sejarah, meliputi priode Pra-Columbus, kolonisasi Eropa, Revolusi Amerika Perkuasan Wilayah_
_Perang Saudara, Perang Dunia dan Perang Dingin_

_Termasuk Politik pembentukan pemerintahan federal dan perubahan . Ekonomi, perkembangan ekonomi AS dari pertanian ke Industri._
_Sosial budaya, termasuk perjuangan hak-hak sipil dan perkebangan budaya Amerika termasuk Sastra seni dan musik_

*_Mengapa Penulisan Sejarah Penting?_*

_~ Sejarah membantu kita memahami akar masalah dan keberhasilan bangsa_
_~ Sejarah membentuk identitas dan kesadaran nasional_
_~ Sejarah memberikan pelajaran berharga untuk masa depan_

*_Taufik Abdullah,_* _Sejarawan kondang pernah mengatakan bahwa “Indonesia sebagai bangsa yang tidak suka dicatat. Itu terkait dengan tradisi, kita gak punya tradisi mencatat. Kita punya tradisi mengingat”_

READ  Wali Kota Palembang Ratu Dewa menerima penghargaan Pekat IB Awards 2025

_Dapat dipahami, bahwa Sejarah Indonesia kebanyakan merupakan hasil kenangan orang-orang yang mengalami peristiwa yang konon terjadi secara langsung_

_Memang sejarah bukan perkara “kepastian”. Sejarah bukan untuk dihafal oleh generasi selanjutnya, karena sejarah seputar kearifan dan kejujuran_

*_Bahaya Penulisan Sejarah sebagai Legitimasi Rezim_*

_~ Sejarah dapat digunakan untuk membenarkan tindakan rezim tertentu_
_~ Penulisan sejarah yang bias dapat memperburuk konflik dan memecah belah bangsa_
_~ Objektivitas dan akurasi sejarah dapat terganggu oleh kepentingan politik_

*_Bagaimana Penulisan Sejarah yang Baik?_*

_~ Berdasarkan fakta dan bukti historis_
_Objektif dan tidak bias_
_~ Mengakomodasi berbagai perspektif dan sudut pandang_
_~ Memberikan pelajaran berharga untuk masa depan_

*_Seperti kata Ibnu Khaldun,_* _Siapa yang tidak mengkaji sejarah, ia hanya hidup di masanya. Dan sebaliknyna siapa yang mengkaji sejarah, ia hidup sepanjang masa_

_Maka penulisan Sejarah yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan adalah sebuah keniscayaan_.

_Sejarah sebuah negara itu sakral artinya, negara Repubik Indonesia yang dulu tidak ada, menjadi setelah momentum kemerdekaan yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945_

_Kemerdekan RI direbut melalui perjuangan berdarah-darah dan pertempuran, perang grilya menyabung nyawa tidak hanya melalui pena dan diplomasi saja.Pantas jika Sejarah Bangsa ditulis dengan tinta emas dan dibingkai dengan kejujuran dan ketulusan, karena itulah bentuk apresiasi kita kepada para pahlawan kusuma bangsa_.

_Penulisan sejarah Indonesia harus dilakukan dengan hati-hati dan objektif agar tidak menjadi alat legitimasi rezim tertentu. Sejarah harus ditulis berdasarkan fakta dan bukti historis, bukan untuk kepentingan politik atau ideologi tertentu._

_Dengan demikian, kita dapat memahami perjalanan bangsa ini dengan lebih baik dan membangun masa depan yang lebih baik_.

والله اعلم بالصواب

_C080525,Tabik🙏_