Rindu Tertahan. Panggilan Datang

(Sebuah Catatan Kecil Seorang Jurnalis ke Tanah Suci). Oleh : Azkar Badri

 

Alhamdulillah, setelah perguliran waktu cukup panjang, saya bersama isteri mendapat panggilan lagi, hadir di Masjidil Harom menghadap Ka’bah kiblat dalam nyata. Tanpa disangka atau diduga, tidak perlu persiapan berlama-lama. Itulah namanya Panggilan Allah. Allah Maha Besar, jika dia berkehendak tidak ada orang satupun untuk menghambatNya atau menundakanNya.

Pertama kali, tahun 2005 atas izin Allah diperkenkanNya menunaikan Ibadah Haji melalui Jalur Mandiri. Sekarang pas 20 tahun, Alhamdulillah panggilan Ka’bah terulang lagi. Secara kalender cukup lama dan panjang dalam perhitungan waktu. Rindu tertahan. Panggilan datang. Subhanallah. Sudah sekian lama menunggu dan menanggung rindu, 20 tahun. Bisa dibayangkan. Betapanya.

Tahun 2005 Ibadah Haji dan tahun 2025 Ibadah Umrah. Meskipun Ibadah Haji sudah tentu di dalamnya ada ibadah umrah. Ibadah umrah, hanya umrah ansich. Umrah semata. Namun semuanya bersentuhan dengan Ka’bah secara nyata sebagai Kiblat ummat Islam sedunia.

Dalam menunaikan ibadah haji dulu usia relatif muda, masih di angka 40 an tahun. Sekarang tentunya sudah mencapai angka di atas 60 tahun. Karena usia masih relatif muda, saya ditugaskan sebagai Ketua Regu yang diberikan tugas memanage para peserta/jema’ah haji 20 orang. Bagaimana mereka bisa menjalankan ibadah dengan nyaman dan aman pada prosesi ibadah haji. Tidak semata-mata mengurusi ibadah untuk individual semata. Tetapi harus memikirkan ibadah teman-teman yang lain. Ada tanggung jawab sosial dan moral serta tanggung jawab spritual keagamaan.

Waktu itu terfikir, tidak apalah kalau hari ini, tidak terlalu puas melaksanakan ibadah dalam bidang Sunnah. Dan insyaa Allah pada suatu sa’at nanti bisa kembali lagi menunaikan ibadah di hadapan Ka’bah. Alhamdulillah, rindu tertahan panggilan datang, tepat 24 Juni sampai 2 Juli 2025 dapat bersimpuh menghadap Ka’bah mengharap ridho Allah terlaksana juga.

READ  Liburan Nataru Makin Asyik Pakai Mobil Listrik, Begini Kata Pengguna

Di tahun ini, pelaksanaan ibadah umrah bersama travel Jalan Mulia, terasa nyaman dan puas. Pasalnya, Tim Leader (TL) ustadz Fernandi dan Muthowifnya ustadz Miqdat masih cukup muda dan berpengalaman. Dan tidak kalah pentingnya mereka sangat sabar dan telaten. Tidak pernah terlihat diraut mukanya, rasa kelelahan, rasa jenuh dan menanggung beban. Mereka tampaknya rasa ikhlas dan apresiatif dalam pelayanan jama’ah. “Kita disuruh dari kampus terjun ke masyarakat. Agar tahu persis kondisi masyarakat yang sebenarnya”, kata ustadz Miqdat dalam acara yang dikemas oleh para jama’ah, Temu Pisah Kangen suatu malam.

“Jadi masa liburan ini kita pergunakan terjun ke masyarakat. Kalau pulang ke Indonesia, biayanya cukup besar. Maka sasarannya masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri. Jama’ah haji dan umrah adalah masuk dalam target sasarannya”, kata mahasiswa Yaman ini yang berasal dari Riau.

Juga karena jumlah jama’ahnya tidak terlalu gemuk, hanya ada 31 orang. Selain cukup terorganisir juga rasa keakraban dan kohesi sosialnya cepat merekat. Serasa sebuah keluarga besar yang satu tujuan, hanya mencari ridho Allah. Rukun-rukun saja, tebar senyuman dan tebar canda selalu mewarnai dalam interaksi sosial sesama. Alhamdulillah tidak ada pergesekan. Rukun selalu, insyaa Allah tali silaturahmi tetap terjalin sesama. Kata agama, rapatkan terus tali silaturahmi sesama orang baik, orang Sholeh dan Sholehah. Jangan pernah renggang atau terputus sama sekali. Boleh jadi diantaranya akan Mengabsenkan kita di pintu Surga Allah suatu kelak nanti. Aamiin.

Perjalanan kali ini betul-betul terasa ridho Allah. Hotel tempat menginap di up grade dari fasilitas yang disesuaikan harga. Alhamdulillah di Madinah mendapat Hotel Bintang 5 yang dekat dengan Masjid Nabawi. Begitu pula di Makkah diakomodasikan pada Hotel Bintang 4. Juga tidak terlalu jauh dengan Masjidil Harom. Jika sholat jama’ah beriman ke Masjidil Harom. Suara imam masih terakses dalam Mushola Hotel. Artinya masih dalam lingkaran Masjidil Harom.

READ  Yakin Muba Bakal Semakin Maju, Delapan Fraksi DPRD Muba Sampaikan Pandangan Umum

Komunikasi sehari-hari. Komunikasi pasar, bahasa Indonesia cukup dimengerti banyak orang non Indonesia. Belanjapun bisa pakai rupiah langsung. Tak perlu repot-repot ke money changer, tukar uang. Rupiah bisa langsung bertransaksi.

Bahkan yang menarik, di Kebun Kurma. Pelayan atau Penjaja Barang, semuanya orang Indonesia, ada yang dari Cianjur, ada yang dari Padang dan daerah lain di Indonesia.

Hal ini sempat ditanya pada Ence dari Cianjur, kumaha Ce. Menurutnya, orang Indonesia Sangat Ramah, gampang tegur sapa dan cepat akrab. Komunikasi yang seperti ini saya ingat dengan Teori Komunikasi Harmoko di era orde baru, Komunikasi Sambung Rasa. Agar pesan cepat tersampaikan kepada masyarakat. Istilah Harmoko, Penyampaian Pesan Pembangunan Melalui pintu dan bahasa rakyat (masyarakat).

Kembali kepada sujud pada Allah di dinding Ka’bah. Alhamdulillah durasi waktu yang dapat saya menikmati cukup lama dan cukup puas. Tak ada yang menghalangi atau yang menggangu. Setahan lamanya saya. Mohon ampun untuk saya dan untuk orang-orang yang dicintai serta orang lainnya. “Yaa Allah panggilkan keluarga saya besar, teman-teman dan jama’ah masjid saya, agar mereka cepat hadir di sini beribadah kepadaMu serta menyaksikan kebesaranMu yaa Allah”. Itu antara lain do’a tersampaikan ketika sujud kepada Allah di dinding Ka’bah.

Tanpa terasa, waktu pulang ke Indonesia sudah menghitung jam. Thowaf Wada’ prosesinya berjalan. Terasa perpisahan yang mendalam, sembari berdo’a di hadapan Ka’bah. “yaa Allah, jangan terlalu lama, hadirkan lagi saya disini bersama keluarga saya. Alfaatihah.