Muhammad Daud Beureueh: Pejuang Kemerdekaan yang Fenomenal

MS.Tjik.NG

Bismillahirrahmanirrahim

Abstrak

Muhammad Daud Beureueh merupakan salah satu tokoh sentral dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Aceh. Ia dikenal sebagai ulama, pemimpin militer, dan tokoh politik yang memainkan peran penting baik dalam masa penjajahan Belanda maupun dinamika pasca kemerdekaan.

Tidak hanya melawan penjajah, ia juga mengkritik keras kebijakan pemerintah pusat yang dianggap mengingkari janji kepada rakyat Aceh.

Artikel ini menggambar kan kiprah Teungku Daud Beureueh dari masa muda hingga akhir hayatnya, termasuk usulan masyarakat Aceh agar ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, yang mendapat dukungan dari berbagai tokoh nasional termasuk Menko Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra.

*Pendahuluan*

Daerah Aceh memiliki sejarah panjang dalam kancah perjuangan kemerdekaan.

Dalam sejarah itu, nama Muhammad Daud Beureueh muncul sebagai simbol perlawanan dan keikhlasan dalam memperjuangkan prinsip Islam dan keadilan. Ia bukan hanya tokoh daerah, tetapi sosok nasional yang memiliki kontribusi signifikan dalam pembentukan identitas bangsa Indonesia.

*Latar Belakang dan Pendidikan*

Muhammad Daud Beureueh lahir di Beureueh, Pidie, pada 17 September 1899. Ia tumbuh dalam lingkungan religius dan mendapatkan pendidikan Islam tradisional di dayah. Belakangan, ia menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama di Mekkah, tempat ia terpengaruh oleh pemikiran pembaruan Islam.

Sepulang ke tanah air, ia mendirikan Dayah Beureueh yang menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam. Tak hanya mengajar, Daud juga membentuk jaringan ulama dan santri yang kelak menjadi basis perlawanan terhadap kolonialisme.

*Kiprah dalam Perjuangan Kemerdekaan*
Daud Beureueh memainkan peran aktif dalam perang kemerdekaan melawan Belanda. Ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan dipercaya sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo. Ia menjadi pemimpin strategis dalam mempertahankan kemerdekaan RI di wilayah Aceh, yang kala itu menjadi salah satu basis kuat republik.

Dalam masa Revolusi Fisik, ia dikenal tidak hanya sebagai komandan militer, tetapi juga sebagai pemersatu masyarakat Aceh yang majemuk dalam satu tujuan: kemerdekaan dan keutuhan NKRI.

*Ketegangan dengan Pemerintah Pusat*

READ  Wabup Muratara terima 500 Sertifikat Untuk Rakyat Program Startegis Nasional PTSL

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, hubungan antara Aceh dan pemerintah pusat mulai renggang. Pemerintah pusat menghapus status Aceh sebagai provinsi dan meleburkannya ke Sumatera Utara.

Rakyat Aceh merasa dikhianati, karena daerah yang telah menyumbang emas dan dukungan logistik kepada republik justru tidak dihargai.

Daud Beureueh sebagai pemimpin Aceh memprotes keras keputusan ini. Ia mengajukan tuntutan agar Aceh diberi otonomi luas serta jaminan penerapan syariat Islam sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas lokal.

*Pemberontakan DI/TII Aceh*

Puncak dari ketegangan itu terjadi pada 20 September 1953, ketika Daud Beureueh memproklamasikan bahwa Aceh bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin oleh Kartosoewirjo di Jawa Barat.

Deklarasi ini dilandasi bukan hanya oleh cita-cita tegaknya syariat Islam, tetapi juga kekecewaan terhadap pengabaian pemerintah pusat. Gerakan tersebut mendapatkan dukungan luas dari masyarakat Aceh, namun juga menghadapi tekanan dari pemerintah melalui operasi militer.

*Akhir Pemberontakan dan Rekonsiliasi*

Setelah satu dekade bergerilya di hutan Aceh, situasi mulai berubah. Di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno dan TNI, pendekatan damai diutamakan. Tahun 1962, Daud Beureueh menerima ajakan damai dan mengakhiri aksi pemberontakannya.

Pasca-konflik, ia tidak kembali ke panggung politik. Ia hidup sederhana hingga wafat pada 10 Juni 1987. Namun, namanya tetap dikenal dan dikenang sebagai tokoh bersih, jujur, dan konsisten terhadap prinsip.

*Usulan Gelar Pahlawan Nasional*

Dalam dua dekade terakhir, berbagai elemen masyarakat Aceh, termasuk ulama, tokoh adat, akademisi, dan pemerintah daerah, terus mendorong agar Muhammad Daud Beureueh diakui sebagai Pahlawan Nasional. Usulan ini didasarkan pada:

Peran aktif dalam perang kemerdekaan.

Kepemimpinan dalam mempertahankan republik.

Keteladanan moral sebagai ulama dan negarawan.

Jejak perjuangan politik dan spiritual yang berintegritas.

Upaya ini mendapatkan momentum pada 2024-2025, di mana berkas usulan resmi telah dikirimkan oleh Pemerintah Aceh ke Kementerian Sosial RI.

*Dukungan dari Yusril Ihza Mahendra*

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menko Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra), menyatakan dukungan terbuka terhadap usulan tersebut. Dalam salah satu pernyataannya, Yusril mengatakan:

READ  Sekda : Dentist Goes To School harus rutin di SD dan SMP

> “Daud Beureueh adalah pejuang sejati. Tidak ada alasan untuk menolak beliau sebagai Pahlawan Nasional. Perbedaan pendapat dan jalur perjuangan pascakemerdekaan seharusnya tidak menutup jasa besar beliau terhadap republik ini.”

Yusril juga menegaskan bahwa banyak tokoh nasional yang pernah “berseberangan” dengan pemerintah tapi tetap diberi gelar pahlawan karena kontribusi utamanya pada fase perjuangan.

*Relevansi dan Warisan Perjuangan*

Muhammad Daud Beureueh adalah representasi perjuangan Aceh yang kompleks: spiritual, militer, politik, dan ideologis. Ia menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu berakhir di medan tempur, tetapi juga dalam perdebatan nilai dan keadilan.

Konsistensinya terhadap prinsip, serta sikapnya yang mengutamakan martabat dan kesetiaan terhadap rakyat, menjadi warisan penting bagi generasi muda Indonesia hari ini. Ia layak dikenang, dihormati, dan dijadikan panutan.

*Penutup*

Muhammad Daud Beureueh bukan sekadar tokoh Aceh, melainkan figur nasional. Dari medan perang hingga arena dakwah, ia telah mendedikasikan hidupnya untuk Islam dan Indonesia. Pemberontakannya terhadap pemerintah bukan bentuk pengkhianatan, melainkan ekspresi ketidakpuasan terhadap janji-janji kemerdekaan yang diabaikan.

Melalui usulan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional, bangsa Indonesia dapat meneguhkan kembali semangat rekonsiliasi, penghargaan terhadap sejarah lokal, dan pengakuan atas pluralitas jalan perjuangan dalam mencapai cita-cita kemerdekaan.

Teungku Muhammad Daud Beureueh (MDB) sangat pantas untuk dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional
Pemerintah tak beralasan untuk menolak.

Kiprah dan jejaknya nyata terukir dalam realitas dan sejarah tak terbantah.

والله اعلم بالصواب

C11072025, Tabik 🙏

————–
Refrensi :

1. Nazaruddin Sjamsuddin. Pemberontakan Daud Beureueh: Tinjauan dari Segi Nasional. LP3ES, 1985.
2. Ali Hasjmy. Sejarah Perjuangan Umat Islam Aceh. Bulan Bintang, 1980.
3. C. van Dijk. Rebellion under the Banner of Islam. Brill, 1981.
4. M. Nur El Ibrahimy. Daud Beureueh dan Gerakan DI/TII di Aceh. Laporan Penelitian IAIN Ar-Raniry, 1998.
5. Yusril Ihza Mahendra. Pernyataan Media Terkait Usulan Pahlawan Nasional untuk Daud Beureueh, 2024.