*Bismillahirrahmanirrahim*
Skandal ijazah palsu adalah fenomena yang sering terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia dan Jepang. Namun, cara kedua negara ini menangani kasus, skandal tersebut sangat jauh berbeda.
Di Indonesia, skandal ijazah palsu seringkali berlarut-larut dan tidak segera diselesaikan, sedangkan di Jepang, skandal tersebut dapat diselesaikan dengan cepat dan efektif.
Tinjauan Moral.
Dari tinjauan moral, skandal ijazah palsu adalah tindakan yang tidak etis dan tidak bermoral, sangat memalukan.
Menggunakan ijazah palsu untuk memperoleh keuntungan pribadi atau jabatan adalah bentuk penipuan dan pengkhianatan yang dapat merusak kepercayaan masyarakat dan mengurangi kualitas layanan publik.
Berkuasa dengan bermodalkan Ijazah palsu adalah langkah awal munculnya petaka rezim Drakula penghisap darah segar. Pelan- pelan rakyat menjadi lemah tak berdaya lalu mati.
Seleksi Administratif.
Dalam proses seleksi administratif, penting untuk memastikan bahwa semua dokumen yang diserahkan adalah asli dan sah. Namun, di Indonesia, seringkali terjadi bahwa dokumen palsu dapat lolos seleksi dan digunakan untuk memperoleh keuntungan atau jabatan.
Jeruk Minum Jeruk.
Pepatah “jeruk minum jeruk” dapat digunakan untuk menggambarkan fenomena skandal ijazah palsu di Indonesia. Artinya, masalah cenderung dipelihara dan tidak dituntaskan. Boleh jadi dari skandal tersebut banyak yang terlibat dan turut serta menikmati dan menguntungkan dari hasil skandal haram.
Skandal ijazah palsu seringkali berlarut-larut dan tidak segera diselesaikan karena berbagai alasan, seperti lemahnya sistem pengawasan dan penindakan, serta proses hukum yang lambat dan tidak efektif.
Beternak Masalah.
Fenomena skandal ijazah palsu di Indonesia juga dapat digambarkan sebagai “beternak masalah”. Artinya, masalah cenderung dipelihara dan tidak dituntaskan, sehingga menciptakan masalah baru yang lebih besar. Skandal ijazah palsu dapat merusak kepercayaan masyarakat dan mengurangi kualitas layanan publik, sehingga perlu ditangani dengan serius dan efektif.
-888-
Perbandingan dengan Jepang.
Viral pemberitaan skandal Ijazah palsu, media mainstream Asahi Simbun Jepang memberitakan bahwa Takubo akan mundur sekira tanggal 7-8 Juli 2025.
Di Jepang, skandal ijazah palsu dapat diselesaikan dengan cepat dan efektif. Kasus Maki Takubo, Wali Kota Ito di Prefektur Shizuoka, yang terbukti menggunakan ijazah palsu, dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Takubo mengakui kesalahannya dan berencana untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
Maki Tabuko terbukti menggunakan ijazah palsu ia mengaku bahwa dirinya tidak lulus dari Universitas Toyo seperti yang tercantum dalam prifil resminya saat kampanye.
Takubo berencana menyerahkan bukti ijazah dan buku tahunan kepada jaksa dalam waktu 10 ingga 14 hari. Dan setelah itu akan segera mundur dari jabatan Walikota.
Ketua DPRD Kota Ito Hiromichi Nakajima berharap Takubo segera mundur demi menjaga ketertiban dan kepercayaan publik.
Sangat simple proses skandal ijazah palsu di Jepang. Bandingkan di sini di negeri yang punya Pancasila sakti, selalu berkelit dan pantang mengaku, tudak gentleman, seperti kata Muchtar Lubis, ciri-ciri manusia Indonesia antara lain : Munafik dan tidak bertanggung jawab.
Parpol Pengusung dan KPU.
Gerbang utama seleksi terkait ijazah palsu dalam konteks figur yang ingin mencalonkan diri sebagai Pejabat Publik, tentu melalui Parpol pendukung dan pengusung, terakhir di meja KPU. Ini lembaga yang bertanggung jawab kepada pubik atas perbutan serta tindakannya.
Seumpama uang palsu, kita bawa ke Supermarket untuk belanja, jika mereka kasirnya ragu tentang keaslian uang tersebut, maka segera dia periksa dengan teliti dibantu alat khusus detektor uang palsu.
Mengapa detektor yang sama tidak dibuat peruntukan khusus untuk mendeteksi keaslian ijazah tersebut.
Persoalannya ada kecenderungan suka mempersulit hal-hal yang mudah dan sebaliknya. Jika bisa dihambat mengapa harus dipercepat. Sikap yang jujur, adil dan profesional sangat diperlukan dalam pelayanan publik. Bukan untuk kepentingan Politik Kekuasan yang beraroma anyir.
-888-
Pelajaran bagi Indonesia.
Dari perbandingan tersebut, Indonesia dapat belajar beberapa hal untuk meningkatkan efektivitas dalam menangani skandal ijazah palsu. Pertama, memperkuat sistem pengawasan dan penindakan. Kedua, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kejujuran dan integritas. Ketiga, mempercepat proses hukum dan membuatnya lebih efektif.
Penutup.
Skandal ijazah palsu adalah fenomena yang serius dan dapat memiliki dampak yang signifikan pada masyarakat. Perbandingan antara Indonesia dan Jepang menunjukkan bahwa Jepang memiliki sistem yang lebih efektif dalam menangani skandal tersebut. Dengan mempelajari pengalaman Jepang, Indonesia dapat meningkatkan efektivitas dalam menangani skandal ijazah palsu dan menciptakan masyarakat yang lebih jujur dan berintegritas.
والله اعلم بالصواب
C11072025, Tabik🙏












