KH. Zen Syukri dan Tradisi Cawisan: Warisan Spiritual Masyarakat Palembang

MS.Tjik.NG

 

*Bismillahirrahmanirrahim*

Pendahuluan

Tradisi keagamaan masyarakat Palembang memiliki kekhasan yang membedakan dengan daerah lain di Nusantara. Salah satu yang masih lestari hingga kini adalah “Cawisan”, sebuah bentuk majlis ta’lim sederhana di mana masyarakat berkumpul untuk membaca Al-Qur’an, berdzikir, bershalawat, dan mendengarkan nasihat agama. Tradisi ini berfungsi bukan hanya sebagai sarana pendidikan Islam, tetapi juga sebagai wadah silaturahmi dan pengikat sosial.

Di balik popularitas Cawisan, ada sosok ulama yang memainkan peran penting dalam mempopulerkan dan merawat tradisi ini, yaitu KH. Zen Syukri. Beliau dikenal sebagai kiai yang tawadhu’, sederhana, dan lembut dalam menyampaikan dakwah. Kehadirannya menjadikan Cawisan lebih dari sekadar forum pengajian: ia menjelma menjadi ruang spiritual yang menenangkan, tempat masyarakat belajar agama sekaligus mendapatkan keteladanan akhlak.

Artikel ini bertujuan mengupas secara ilmiah-populer tentang peran KH. Zen Syukri dalam menghidupkan tradisi Cawisan, serta bagaimana warisan spiritual ini tetap relevan dalam kehidupan masyarakat Palembang kontemporer.

Biografi Singkat KH. Zen Syukri

KH. Zen Syukri lahir dan besar di Palembang. Sejak muda beliau menekuni ilmu agama melalui jalur tradisional pesantren, berguru pada para ulama kharismatik lokal.

Dalam perjalanan dakwahnya, KH. Zen Syukri dikenal sebagai sosok yang tidak haus jabatan dan penghormatan. Ia lebih memilih hidup sederhana, dekat dengan masyarakat, dan memberikan ilmu dengan penuh kelembutan.

Sikap tawadhu’ beliau tampak dalam keseharian: selalu menerima tamu dengan ramah, tidak membeda-bedakan strata sosial jamaah, serta konsisten hadir dalam majlis Cawisan yang digelar secara rutin. Hal inilah yang membuat jamaah merasa dekat dan terikat, bukan hanya secara spiritual tetapi juga emosional.

READ  Tak di Izinkan Jemput Anaknya, Puluhan Penggiat Macan Tutul Geruduk Sekolah Bethesda

Cawisan: Definisi dan Sejarah Singkat

Secara etimologis, cawisan dalam bahasa Jawa berarti warisan atau bekal. Di Palembang, istilah ini bergeser maknanya menjadi pengajian atau majlis ta’lim yang diwariskan turun-temurun.

Cawisan biasanya dilaksanakan:

Secara rutin: mingguan, bulanan, atau dalam momentum tertentu.

Bersama-sama: di masjid, surau, atau rumah jamaah.

Kegiatannya meliputi pembacaan surah Yasin, tahlil, dzikir, shalawat, dan nasihat agama.

Pesertanya meliputi bapak-bapak, ibu-ibu, hingga pemuda.

Cawisan berfungsi sebagai sarana pendidikan Islam rakyat, terutama bagi mereka yang tidak sempat menempuh pendidikan pesantren. Di dalamnya, masyarakat belajar membaca Al-Qur’an, mengenal dasar-dasar fiqh ibadah, serta memahami nilai akhlak.

-888-

Peran KH. Zen Syukri dalam Tradisi Cawisan

1.Penguat Spiritualitas Masyarakat

KH. Zen Syukri menjadikan Cawisan sebagai wahana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Lewat lantunan dzikir dan doa, beliau membimbing jamaah untuk mendekat kepada Allah dengan hati yang khusyuk.

2.Pendidikan Islam yang Merakyat

Melalui Cawisan, beliau menyampaikan ajaran Islam dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Hal ini membuat masyarakat yang beragam latar belakang petani, pedagang, buruh dapat menerima ilmu dengan gembira.

3.Wadah Silaturahmi Sosial

Cawisan juga difungsikan sebagai ruang kebersamaan. KH. Zen Syukri menekankan pentingnya ukhuwah Islamiyah, saling membantu dalam kesusahan, dan menjaga kerukunan antarwarga.

4.Keteladanan Akhlak

Ketawadhuan dan kelembutan beliau menjadi teladan nyata. Bagi jamaah, kepribadian KH. Zen Syukri sama berharganya dengan ilmu yang diajarkan.

Cawisan sebagai Warisan Spiritual dan Sosial

Warisan KH. Zen Syukri bukan hanya teks-teks pengajian, melainkan tradisi yang hidup. Cawisan kini tetap dijalankan oleh masyarakat Palembang sebagai bentuk penghormatan sekaligus keberlanjutan dari ajaran beliau.

READ  DPRD Muratara Sepakati 6 Raperda di Perdakan

Beberapa aspek penting dari warisan ini:

1.Aspek Spiritual: menjaga kedekatan umat dengan Al-Qur’an, dzikir, dan doa bersama.

2.Aspek Edukatif: menjadi sekolah rakyat yang mengajarkan dasar-dasar Islam secara berkelanjutan.

3.Aspek Sosial: memperkuat solidaritas sosial dan membangun budaya tolong-menolong.

4.Aspek Budaya: menjadi bagian dari identitas keislaman khas Palembang.

-888-

Relevansi Cawisan di Era Modern

Di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial, tradisi Cawisan tetap memiliki relevansi:

Sebagai benteng moral masyarakat dari pengaruh negatif modernitas.

Sebagai jembatan lintas generasi, di mana nilai-nilai Islam disampaikan dari orang tua ke anak.

Sebagai sarana moderasi beragama, karena mengajarkan Islam dengan kelembutan, bukan kekerasan.

KH. Zen Syukri telah menunjukkan bahwa dakwah yang lembut dan merakyat bisa membekas lebih dalam dibandingkan ceramah yang keras dan penuh amarah.

Kesimpulan

Tradisi Cawisan adalah salah satu kekayaan spiritual masyarakat Palembang yang berfungsi sebagai wadah ta’lim, dzikir, dan silaturahmi. KH. Zen Syukri merupakan tokoh penting yang mempopulerkan tradisi ini, bukan hanya lewat pengajian, tetapi juga lewat teladan hidupnya yang tawadhu’, sederhana, dan lembut.

Warisan beliau masih dirasakan hingga kini: Cawisan tetap hidup di tengah masyarakat, menjadi bekal spiritual yang menguatkan iman, membangun ukhuwah, dan menjaga identitas Islam Palembang.

Dengan demikian, KH. Zen Syukri dan tradisi Cawisan layak dikenang sebagai salah satu warisan peradaban Islam Nusantara yang khas, sederhana namun penuh makna.

والله اعلم بالصواب

C11082025, Tabik 🙏