Firman Allah SWT : Huwalladzi ba’atsa fihim rosulan minkum yatlu ‘alaim ayatihi wayuzakkihim wayu’allimu humul kitab wal hikmah wa inkanu min qoblu lafi dholalin mubin (Dialah yg mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar- benar dalam kesempatan yang nyata). QS : Al Jumu’ah : 2 Terjemahan Kementerian Agama RI.
Zat Tuhan Yang Maha Agung (Allahu Akbar) dg Sifat-Nya Yang Maha Suci (Subhana Allah) yang Terstruktur, Sistimatis dan Masif (TSM) dan betul betul dilaksanakan dg loyatas tanpa batas (100 %) yang terintegrasi pada sifat Baginda Rasulullah Saw yang Shddiq, Amanah, Tablig, dan Fathonah. Sehingga (segenap energi) morel dan spirituel Baginda Saw tercurah tanpa ashobah (tersisa) diserap oleh masyarakat di dua kota Haromain (Makkah dan Madinah) selama 23 tahu.
Formulasinya sebagai berikut:
I. Dengan sikap mentalnya yg humble, Muhammad Saw memperkenalkan ke muka umum tentang Zat Tuhan Yang Maha Esa dan sifat-Nya Yang Maha Suci melalui kalimat syahadat Tauhid (La Ilaha Illa Allah) dan kalimat syahadat Rasul (wa Muhammadun Rasulullah) melalui QS Al Fatihah.
II. Menegakkan foundasi agama Islam secara intensif yg terintegrasi ke pelaksaan sholat fardhu 5 waktu sebagai kunci ibadah dan kunci pembuka pintu syurga, serta suatu ibadah yang pertama kali dihisab oleh Allah SWT. Kepercayaan ini bersumber pada kedua hadits riwayat Imam Ahmad dan Imam Al Baihaqi).
III. Dengan sikap yang Itsar dan Futuwa (mementingkan kepentingan umat dan tidak melayani dengan harapan minta dilayani, baik oleh Allah SWT apalagi oleh umatnya, maka keyakinan umat atas jerih payah yang dikorbanan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak pembohong (Shiddiq),bukan pengkhianat (Amanah), tidak menyembunyikan (Tabligh), dan tercerdik (Fathonah). Tingkat ekselarasi daya juang membantu Ijtihadiyah Baginda Rasulullah Saw yang bersifat Mahabbah dan Makrifah (penyinta yang bijaksana) untuk membebaskan umat-nya dari berpegang teguh pada kepercayaan kemusyrikan secara turun temurun selama era fatrah dan berhijrah kepada keimanan, Allahu Akbar semakin mencemaskan Abu Lahab, sebagai tokoh kafir Quresy, paman kandung baginda Rasulullah Saw sendiri.
Ad. I.
1.1. Sudah tidak terbantahkan bahwa indikator (tanda atau kriteria) Zat Tuhan Maha Agung (Allahu Akbar) dan Sifat-Nya Maha Suci (Subhana Allah) yang diperkenalkan oleh Baginda Rasulullah Saw kepada umatnya merujuk pada 7 ayat QS Al Fatihah sebagai Ummul Kitab, dimana terintegral pada keagungan ciptaan alam semesta yang setiap tarikan nafas dinikmati oleh segenap umat, baik oleh yang beriman maupun oleh yang kafir.
1.2. Bahwa 7 ayat surat Al Fatihah itu mempunyai hitungan huruf sebanyak 161 huruf yang habis dibagi 7, dengan hasil pembagiannya = 23. Kita terkadang merasa tidak begitu perduli apa relevansinya angka yang sekecil itu tertimbang banyaknya angka angka dibalik jeruji baja yang tersembunyi di rumah. Tetapi yang satu ini hakikatnya sangat signifikan dan tidak bisa ditiru oleh pemimpin besar sejak manusia pertama Adam as hingga pemimpin terakhir di bumi ini. Apa itu? Ya, Itulah masa perjuangan Baginda Rasulullah Saw yang dimaulidkan ke dunia ini telah ditaqdir menjadi Rahmatan Lil’alamin. khususnya selaku Nabi dan Rasul selama 23 tahun dengan hasil muntaz yaitu memakmurkan kota Makkah dan Madinah yang dikenal Haromain.
Dari gerbang kota Haromain ini pula penyebaran kesempurnaan agama Islam secara Terstruktur, sistimatis dan masif (TSM) dalam waktu yg sangat singkat mampu membebaskan era fatrah selama 600 th- an. Tetapi de fakto pula sudah tidak terbantahkan bahwa di negara mayoritas Islam tapi nyatanya berbudaya tidak islami. Dan justeru sebaliknya di negara yang minoritas Islam namun berperadaban Islami.
1.3. Bahwa kedua lafaz Jalalah yakni yang merujuk pada Zat Allahu Akbar dan sifat-Nya Subhana Allah yang Memuja dan Memuji KeMaha Agung Allah yang telah menciptakan, memiliki, menjaga dan mencurahkan segenap nikmatNya yang telah dinikmati oleh hamba-Nya.
Kemudian hal yang menarik, ungkapan ini dituturkan ketika bangkit dari rukuk dalam setiap sholat, Mil ussamawati wamil ulardhi wamil uma syi’ta min syain ba’du). Namun apabila hamba-Nya yang memuja memuji-Nya di sela sela kesibukan sholat walau terselinap di kelopak hatinya, namun Allah SWT mendengarnya. Oleh sebab itulah maka ungkapan demikian dituturkan pula setiap bangkit dari rukuk yaitu: Sami’allahu Liman Hamidah (Allah mendengarkan bagi orang yang memuji-Nya). Adapun sesuatu obyek pujian adalah selalu merujuk pada ayat surat Al Fatihah nomor 4 dan 5 yang baru saja diucapkan oleh yang sholat yaitu : (4) Maliki yaumiddin dan (5) Iyya-Ka na’budu wa iyya-Ka nasta’in (tanpa diterjemahkan).
1.4. Jumlah huruf pada kalimat Allahu Akbar yang berjumlah 10 huruf, dituturkan di dalam sholat fardhu 5 waktu (= 17 rakaat) sebanyak 107 x yaitu pada setiap Takbir Intiqol (perpindahan antar rukun), dimana satu diantaranya dijadikan pin/password pada pembukaan sholat, dimana dikenal dengan sebutan Takbirotul Ihrom. Mengapa? Sebab Allahu Akbar berkapasitas dan kapabilitas sebagai ZAT Tuhan Yang Maha Agung yang tidak berhajat kepada SIFAT yakni kepada Subhana Allah Yang Mengagungkan ZAT Nya sendiri selaku pencipta alam semesta dengan Kemuliaannya-Nya yang tanpa pamrih, tanpa pertolongan, tanpa alat selain dari Kalamnya-Nya KUN (Jadilah) maka FAYAKUN (Terjadilah) yang sangat bermanfaat bagi alam semesta.
Selanjutnya kalimat Allahu Akbar ini dituturkan dalam setiap rakaat sholat pada takbir intiqol sebanyak 5 x. Sementara jumlah rakaat sholat fardhu dalam 24 jam sebanyak 17 rakaat. Jadi total penuturannya = 95 x.
1.5. Jumlah huruf pada kalimat Subhana Allah sebanyak 10 huruf yang tuturkan dalam setiap rakaat sholat sebanyak 9 x . Sehingga total penuturan Subhana Allah sebanyak 158 x. Namun demikian mengingat lafaz Jalalah berkapasitas dan kapabilitas sebagai SIFAT tentu saja sangat berhajat kepada ZAT Allahu Akbar, yaitu dimana saja ada Sifat maka disitu pula ada ZAT. Dengan demikian dapat difahami bahwa setiap yang sholat bertutur Allahu Akbar, maka secara instan diikuti pula penuturan Subhana Allah, baik ketika bertakbirotul Ihrom, rukuk, dan sujud, kecuali hendak berdiri sehabis dari duduk antara dua sujud. Mengapa? Karena untuk menjaga kemurnian pembukaan lembaran permulaan rakaat demi raka’at berkutnya yang lazimnya dimulai ta’udzu yang dilanjutkan penuturan basmalah (menurut imam Alghozali).
Ad. III.
3.1. Kafasitas dan kapabilitas Baginda Rasulullah Saw yang Rahmatan Lil ‘Alamin, pengemban visi dan misi untuk mensosialisasikan dan membumikan kesempurnaan Agama Islam relevansinya dengan teori dan praktek sholat sebagai sarana dan prasarana memunggah fitrah Gemah Riva Loh Jinawi untuk Indonesia Raya sebaimana telah dirumuskan, tentu saja secara signifikan satu satunya tolok ukur teori dan praktek sholat fungsional sholat, yaitu : Wa aqimis sholata lidzikri – innas sholata tanha ‘anil fakhsya-i wal munkar – waladzikrullahi Akbar (QS : Al ankabut : 45).
Artinya: Dirikan sholat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya sholat untuk mencegah pelaku dari tindakan yang buruk dan tidak terpuji, dan keutamaan mengingat Allah lebih besar.
3.2. Juga tidak terbantahkan, bahwa tersendat dan terseok esoknya untuk menyukseskan setiap visi dan misi sumber daya kepemimpinan disebabkan faktor mental dan spiritual yang telah disinyalir oleh Sang Pencipta pemimpin dalam segala institusi kelembagaan pemerintah maupun swasta adalah karena pengamalan sholat fardhu tidak fokus mengingat Allah SWT semata di dalam sholatnya dan tidak secara intensif meng- Agungkan Kebesaran Zat Allah dan ke- Agungan Kesucian Sifat Allah yang terintegrasi pada ayat nomor 4 dan 5 dari surat Al Fatihah yg baru saja dibaca oleh pihak pelaku perbuatan sesuatu apapun yang bersifat keji dan mungkar. Bahkan yang secara intensif diingat oleh pihak yang sholat adalah yang bersifat ecek ecek, makar dan hoaks. Padahal keutamaan mengingat Allah jauh. Lebih besar infek dan benefitnya.
3.3. Bahwa selama negara yang warganya mayoritas Islam namun Ulamanya tidak mensuffirt alias menyemangati untuk memberdayakan peradaban Islami, maka percuma atau OMON OMON doang untuk memberantas koruptor tetapi justeru memberikan amnesti dan abolisi serta uang lesangong bagi personifikasi kementerian yang terjaring OTT KPK.
3.4. Bahwa hendak berekspresi kepada kedua ormas besar Islam agar secara intens mensuffirt Umaro berlaku adil dan beradab, agaknya jauh panggang dari api. Mengapa? Karena justeru menjadi legalitas dalam perbisnisan sumber daya tambang dan sumberdaya transportasi online. Sehingga menterjun bebaskan kasta Ulama sebagai Maha guru melorot ke karat leval pedagang. Oleh karena itu terjadilah jungkir balik, dimana seharusnya Ulama yang mengundang dan mengumpulkan Umaro untuk merekonstruksi keadaan perjuangan Merah Putih, melainkan justru sebaliknya Umaro yang dikasih insentif untuk meredam hingar bingar rakyat yang menuntut peri keadilan sebagai akibat Kifrah Ulama yang salah Kaprah.
Wallahu a’lam bishshowab.
Kgs. Hasballah Sky.
06.09.25 M/ 13.03.17 H.









