Dunia Itu Senda Gurau dan Permainan : Perspektif Al-Qur’an Tentang Makna Kehidupan Sementara

Oleh MS.Tjik.NG

 

*Bismillahirrahmanirrahim*

_Abstraksi_

Memaknai kehidupan di dunia sebagai transito, untuk selanjutnya maju bergerak beligat bak gasing dililit seutas tali dilempar dan berputar lalu pelan-pelan melambat dan akhirnya berhenti total.

Memahami kehidupan dunia yang fana, penuh dengan permainan dan senda gurau semakna dengan judul lagu “Dunia Panggung Sandiwara” yang dilantunkan penyanyi gaek Ahmad Albar.

Al-Qur’an secara eksplisit menyebut dunia sebagai lahwun wa la‘ibun (لعب ولهو), senda gurau dan permainan, menandakan sifat sementaranya kehidupan duniawi dibandingkan dengan kekekalan akhirat. Kajian ini bertujuan mengupas makna filosofis, teologis, dan eksistensial dari istilah tersebut dalam ayat-ayat al-Qur’an dan pemaknaannya dalam kehidupan umat Islam kontemporer.

Pendekatan yang digunakan adalah analisis tematik (mawḍū‘ī) terhadap ayat-ayat yang mengandung konsep lahw dan la‘ib, disertai pandangan ulama tafsir klasik dan modern. Kajian ini menunjukkan bahwa dunia bukan untuk ditolak total, namun perlu diposisikan sebagai sarana, bukan tujuan utama. Akhirat harus menjadi orientasi utama setiap amal.

_Pendahuluan_

Kehidupan dunia menjadi panggung utama manusia dalam menjalani eksistensinya. Namun dalam perspektif al-Qur’an, kehidupan dunia digambarkan sebagai senda gurau dan permainan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah dunia tidak penting? Bagaimana umat Islam seharusnya memaknai kehidupan duniawi?

Konsep lahwun wa la‘ibun mengundang pemikiran mendalam tentang nilai-nilai hidup, tujuan penciptaan, dan orientasi amal manusia. Tulisan ini hendak mengkaji ayat-ayat tersebut secara mendalam, serta refleksinya dalam kehidupan modern.

READ  Sistem Kelistrikan Sumatra Berangsur Pulih, PLN Lakukan Penormalan Layanan Hingga Ke Masyarakat

Pembahasan

1.Terminologi: Lahw dan La‘ib

Lahw (لهو) berasal dari kata kerja lahiya yang berarti “lalai” atau “terlena”, biasanya digunakan untuk sesuatu yang melalaikan dari sesuatu yang lebih penting.

La‘ib (لعب) berarti “bermain”, menunjuk pada aktivitas yang menghibur tapi tanpa tujuan serius.

Imam al-Rāghib al-Aṣfahānī dalam al-Mufradāt menjelaskan bahwa:

_”Lahw (لهو) adalah sesuatu yang menyibukkan seseorang dari hal yang lebih penting, sedangkan la‘ib adalah sesuatu yang dilakukan tanpa kesungguhan.”_
(al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān)

2. Ayat-ayat Al-Qur’an Terkait

a) Surah Al-Ankabut (29): 64

_”Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya kampung akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.”_

b) Surah Al-Hadid (57): 20

_”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, hiburan, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak”._

Ayat ini menunjukkan tahapan-tahapan keterikatan manusia terhadap dunia, dari hal yang ringan (main-main), hingga yang kompetitif (lomba kekayaan).

c) Surah Al-An‘am (6): 32

_”Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan permainan dan senda gurau, dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa”._

3.Tafsir dan Pandangan Para Ulama

Ibn Kathir menafsirkan bahwa dunia, dengan segala kenikmatannya, akan segera sirna dan digantikan dengan kehidupan akhirat yang lebih kekal.

Al-Qurṭubī menyatakan bahwa permainan dan hiburan dunia ini memang ada manfaatnya, tapi tidak boleh membuat kita lalai dari tugas utama sebagai hamba Allah.

READ  HD Lakukan Groundbreaking Duplikat Jembatan Pulau Rimau, Penghubung Strategis 3 Kecamatan dan 29 Desa

Sayyid Qutb dalam Fi Ẓilāl al-Qur’ān menyatakan bahwa penggunaan istilah ini untuk mengguncang kesadaran manusia dari keterlenaan terhadap dunia, agar kembali menata orientasi hidup.

4.Relevansi dengan Kehidupan Modern

Konsep ini menjadi sangat relevan di era digital, kapitalisme, dan hedonisme saat ini. Banyak orang menjadikan dunia sebagai tujuan utama: mengejar harta, jabatan, ketenaran, dan kepuasan jasmani tanpa menyadari bahwa semua itu hanya sementara.

Tugas seorang Muslim bukan mengabaikan dunia, tetapi menempatkannya dalam proporsi yang benar: sebagai wasilah (sarana), bukan ghayah (tujuan).

_Kesimpulan_

Al-Qur’an dengan sangat indah menggambarkan dunia sebagai lahwun wa la‘ibun untuk menegaskan kefanaan dan kerapuhan hidup duniawi.

Sementara itu, akhirat ditegaskan sebagai kehidupan yang sejati. Seorang Muslim harus cerdas mengelola kehidupannya: menggunakan dunia untuk menanam pohon amal dan akan panen raya di akhirat kelak.

والله اعلم بالصواب

C05082025, Tabik,🙏

Referensi :

1. Al-Qur’an al-Karim.
2. Al-Rāghib al-Aṣfahānī. al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān. Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 2003.
3. Ibn Kathir. Tafsir al-Qur’an al-‘Aẓīm. Kairo: Dar al-Tayyibah, 1999.
4. Al-Qurṭubī. Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2000.
5. Sayyid Qutb. Fī Ẓilāl al-Qur’ān. Kairo: Dar al-Shuruq, 1992.
6. Quraish Shihab. Tafsir al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
7. Haidar Bagir. Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau. Bandung: Mizan, 2017.