Mudik Lebaran* Oleh Azkar Badri. Dosen Ilmu Komunikasi

 

Coganews – tanggerang, 16 maret 2026 – Mudik lebaran atau pulang kampung tradisi yang sudah berurat berakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia umumnya, terutama yang berasal dan dilahirkan di kampung atau desa. Tradisi ini sudah menjadi budaya dan tidak bisa dihilangkan.

Tidak ada parameter. Dikatakan pulang kampung itu, berapa jauh jarak tempuhnya menetap dengan daerah asalnya. Tak terbatas antarpulau, antarnegara bahkan antara kota dan desanya.

Padahal sebetul awalnya karena sudah lama tidak bertemu kedua orangtuanya, saudaranya, temannya dan orang-orang terdekat lainnya. Timbul rasa rindu mendalam lantaran sudah lama tidak bertemu dan bahkan berita atau kabar sesamanya.

Faktor itu yang membelahnya, lantaran karena secara fisik jaraknya berjauhan, akses darat susah ditembus oleh semua orang. Akses internet masih belum ada. Berkirim surat sampainya memerlukan waktu lama. Bahkan suratnya melalui Kantor Pos nyasar dulu ke tempat lain. Kirim Kartu Ucapan Lebaran sampai ke penerima terkadang sudah setengah bulan pasca lebaran.

Dulu, kalau anaknya mau merantau ke kota, baik untuk sekolah atau kerja. Keberangkatannya diadakan selamatan dan diantar dengan tangisan. Laiknya pelepasan ke Medan Juang. Seolah ini pertemuan terakhir. Padahal merantaunya masih lokal, masih dalam radius ke ibukota provinsinya. Bukan nyeberang lautan. Tapi memang sa’at itu meskipun lokal tapi akses daratnya satu Minggu, kalau pakai transportasi sungai. Kebanyakan orang yang tinggal di alur sungai (misalnya Sungai Rawas/Anak Sungai Musi mau ke Kota Palembang).

Mudik Lebaran waktu itu cukup seru. Baik orang-orang kampung yang menunggu kedatangannya. Mereka menghitung hari dari kebiasaan kedatangannya setiap lebaran. Rumah dan kamarnya sudah bersih dipersiapkan, bahkan sampai makanan kesukaannya.

Bagi pemudik, terutama yang tidak punya kendaraan (kelas menengah ke bawah), dia harus berjejer antrian panjang untuk mendapatkan tiket kereta api misalnya. Apesnya, antri berdesakan. Pas gilirannya tiket sudah kehabisan. Bisa beli lewat calo harganya sudah melambung tinggi. Bisa berlipat-lipat. Terkadang cekcok berakhir dengan berkelahi. Bagi yang rada nekat, naik dulu bayar di atas. Terkadang kucing-kucing dengan petugas pemeriksa tiket.

READ  Safari Jum'at Bupati Muratara di Mesjid Al-intiqom Desa Pantai.

Bagi yang naik bus, rebutan mendapat tempat. Bus belum sampai ke terminal pemberangkatan, penumpang sudah rebutan naik di jalan. Terkadang ada juga yang masuk dari jendela.

Begitu potret masyarakat bawah (populasi terbesar) berjuang untuk bisa lebaran di kampung. Belum lagi seperti cerita Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin, belum lama ini ketika melepaskan peserta Mudik Bersama KAMSRI, dia pernah dulu menabung setahun buat Mudik Lebaran pulang kampung.

Sekarang sudah era Teknologi Informasi dan Komunikasi. Sekejap mata bisa berkirim dan berbalas berita di WhatsApp, bahkan bisa bertatap muka di Dunia Maya, Video Call bisa kapan saja dan berbiaya murah. Tak perlu berkirim surat lagi, juga tak perlu lagi malam-malam antrian di wartel.

Persoalan kangen, kerinduan yang mendalam merupakan esensi pundamental mudik lebaran. Sudah tidak masuk lagi agenda penting dari hajatan besar ini setiap tahun. Berarti mestinya animo pulang lebaran di era sekarang sudah jauh berkurang. Berkurangnya sangat signifikan. Tapi ternyata tidak.

Karena mudik lebaran pulang kampung mempunyai ruh spritualitas. Bagian dari semangat beragama, bersilaturahim lebih afdhol jika bertatap muka langsung, terutama bagi kedua orangtua dan saudara tua serta orang-orang yang perlu dihormati lainnya, dengan harapan mendapat ridho mereka dan keberkahan dari Allah SWT. Semacam injeksi semangat baru, magnet keagamaan ini menjadi modal dan dapat meningkatkan etos kerja setelah kembali lagi ke kota tempat mencari nafkah.

Bagi yang orangtuanya sudah tiada. Ziarah ke makamnya dalam waktu yang baik, masih bulan puasa atau hari rayanya. Meskipun berdo’a dimanapun dan kapanpun bisa. In syaa Allah sampai kepadanya. Tapi kebanyakan yang beranggapan, kalau langsung di depan makamnya lebih berasa (pakai bahasa generasi sekarang). Istilah Sayid Agil Siradj, dalam kelakarnya. Orang NU sampai di dalam kuburpun masih menjalin Silaturahmi (maksudnya Ziarah).

READ  Separuh Wilayah Muba Terkena Banjir, Pemkab Maksimalkan Antisipasi Hingga Evakuasi

Mudik Lebaran sekarang ini sudah berkembang ke arah wisata, rekreasi atau refreshing. Bukan hanya kangen dengan sesama manusia, baik keluarga maupun teman semasa kecil, tetapi kangen juga dengan makanan khas daerahnya dan khas disuguhkan pada Hari Raya. Makanan-makanan yang bahkan menjadi favoritnya ketika itu.

Karena sudah berkembang menjadi wisata, tentu menambahkan income pelaku ekonomi UMKM di daerah setempat. Oleh sebab itu pemerintah dan masyarakat daerah tujuan mudik harus cerdas membuat paket-paket wisata, baik makanan khas, Cenderamata maupun lokasi wisatanya. Dan hal-hal lain yang bisa membuat mereka ini berlama-lama di kampung halaman.

Pergeseran lain, imbas pemudik terhadap urbanisasi. Pemudik yang berhasil dan sudah mapan di kota sering membawa sanak atau adiknya ikut ke kota, agar bisa merubahkan masa depannya. Bagi orang desa ini cukup menarik dan menggiurkan. Seiring dengan kemajuan desa dan banyak lapangan kerja. Banyak perkebunan besar kelapa sawit dan berikut pabrik produksi/hilirisasi. Kehidupan ekonominya sudah berjalan. Bahkan desa sudah berubah menjadi kota. Indikator masyarakat kota, perdagangan dan jasa menjadi sumber kehidupan dan penghasilan masyarakat setempat. Bahkan banyak masyarakat yang sudah menetap di kota mencari makan di desa, buka usaha-usaha ekonomi.

Pemudik dari kalangan mapan, tidak bisa lagi menunjukan keberhasilannya. Karena di desa sudah banyak lahirnya saudagar-saudagar atau pebisnis muda yang bisa lebih mapan.

Selamat pulang kampung. Salam untuk kampung halaman. Selamat lebaran. Mohon Ma’af Lahir Batin.