Puasa Berakhir. Tapi Bukan Yang Terakhir

Oleh: Azkar Badri. Dosen Ilmu Komunikasi Dan Konsultan Komunikasi

 

Coganews – tenggerang, 19 maret 2026 – Bulan puasa segera berakhir. Tamu yang dinanti-nantikan setiap tahun segera pergi. Tamu yang membawa keberkahan dari Allah SWT untuk ummat manusia, khususnya ummat Islam.

Betapa tidak, di bulan Ramadhan, bulan Gebyar Pahala, voucher pahala di segala lini ibadah. Ibadah Wajib dilipatgandakan 70 kali lipat, dan ibadah Sunnah disetarakan nilai pahalanya dengan ibadah Wajib. Allah memotivasi agar ummat bisa berburu pahala.

Tidak tanggung-tanggung, pada 10 malam terakhir puasa Allah SWT menurunkan Doorprize Pahala yang luar biasa. Malam Lailatul Qodar, nilai pahalanya setara dengan 1000 (seribu bulan), 83 tahun 4 bulan. Betapa dahsyatnya. Subhanallah. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mendapatkannya. Aamiin yaa robbal alamiin.

Gebyar Pahala ini Allah berikan/turun kepada ummat nabi Muhammad Saw. Sebagai bentuk Maha Rahman dan Rahim Allah SWT. Bentuk kompensasi atau konversi umur manusia ummat Nabi Muhammad relatif singkat atau pendek, tidak seperti ummat Nabi yang lain mencapai ratusan tahun. Alhamdulillah.

Hal tersebut dalam bentuk transaksi pahala. Lebih jauh lagi, ibadah-ibadah tersebut merupakan bentuk ta’abud, tunduk patuh kepada perintah Allah sebagai ummat ciptaanNya dalam mencari Ridho Allah SWT.

READ  1 PDP Covid 19 di Muba Meninggal Dunia

Di bulan Ramadhan ini, diinjeksi kembali semangat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Allah memberikan penyegaran lewat bulan puasa. Allah tidak menurunkan nabi lagi atau kitab suci lagi sebagai panduan dan sekaligus pengontrol kehidupan manusia. Kata Allah, telah Aku sempurnakan Islam agamamu, yang dipedomani Al-Qur’an dan Hadits.

Al-Qur’an menyebutkan, puasa mendidik manusia agar taqwa (lebih meningkatkan Ketaqwaannya). Puasa penggodokan mentalitas manusia agar lebih baik lagi, baik dalam melakukan ibadah vertikal kepada Allah SWT. Maupun ibadah horizontal, sesama manusia. Tidak mendzalimi manusia lain. Hak manusia lain terampaskan, dinikmati sendiri atau terbatas kelompok tertentu. Akhirnya, ada yang pestapora dan ada yang merana. Audzubillah mindzalik.

Parameter Taqwa, antara lain, 1. Takut Kepada Allah, dimana selalu menyadari kehadiran Allah dan takut melanggar perintah Nya. 2. Patuh pada perintah Allah, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. 3, Sabar dan Syukur, sabar dalam menghadapi cobaan dan syukur atas nikmat Allah, 4 Mengutamakan akhirat, dalam pengertian lebih mengutamakan kehidupan akhirat daripada dunia.

READ  ABPEDNAS Muratara ancam segel Kantor Bupati Muratara

Sifat-sifat ketaqwaan seperti tersebut sekarang ini sudah banyak tercerabut, terjadi degradasi dalam diri manusia, pengaruh hidup hedonisme, individualisme dan materialisme, seakan akan hidup lama di muka bumi. Keduniaan sudah dijadikan isme-isme baru. Sifat sedemikian rupa inilah yang harus dikikis dan disiram kerohanian setiap waktu. Paling tidak setahun sekali melalu madrasah Ramadhan.

Sebentar lagi puasa 1447 segera berakhir. Mudah-mudahan tidak yang terakhir, kita diberi umur panjang untuk ketemu lagi bulan Ramadhan di tahun 1448 H, aamiin.

Kata guru saya dulu, manakala kalian senang akan berakhirnya bulan puasa. Maka nilai keimanannya perlu dipertanyakan. Sangat logis statement ini. Iya, bulan yang penuh berkah dan pahala berlipat ganda, tentu sangat disayangkan cepat berlalu dan pergi.

Terasa dengan tidak maksimal memanfaa’tkan bulan mulia ini. Tinggal penyesalan yang ada. Tergantung masing-masing. Kita berharap Ramadhan ini bukan yang terakhir. Masih ketemu lagi di Ramadhan 1448 mendatang. Aamiin yaa robbal alamiin. Semoga.