A. Musthofa Warka, Memaknai Prosesi Ibadah Haji

Coga News134 Dilihat

Coganews.co.id I Tangsel -H. Ahmad Musthofa Warka, S.Pd, MA dalam Khotbah Idul Adha di lapangan Tabanas, Kedaung Pamulang Tangerang Selatan, 10/06/2022, di hadapan sekitar 500 orang jama’ah mengatakan, dengan mengutip Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.

” Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan Haji kepada mu. Oleh karena itu berhajilah. Barang siapa yang melaksanakan Haji karena Allah. Lantas tidak berkata keji dan tidak berbuat fasik, maka akan diampuni dosa-dosa nya hingga bersih seperti sa’at ia dilahirkan oleh ibunya. Dari satu umroh ke umroh yang lain adalah menghapus dosa-dosanya yang dilakukan diantara keduanya. Dan ibadah haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali dimasukkan ke dalam surga”, katanya di awal khotbah.

“Pakaian Ihram diwajibkan kepada siapapun yang berhaji. Pakaian Putih Polos dan tidak berjahit sehelai benangpun. Hall ini selain menempatkan dirinya ke puncak kepatuhan. Juga harus merasakan kehinaan diri di dasar yang paling dalam. Seolah-olah, ia berkata, Ya Tuhanku sesungguhnya aku tidak memiliki apapun bagi diriku. Inilah aku berdiri tegak di hadapan Mu”, jelasnya.

“Seperti baru lahir dari Rahim ibu, tiada harta, tiada pangkat, tiada apapun yang kumiliki selain sehelai pakaian Putih yang menutup auratku”, lanjutnya.

“Begitu juga Thowaf”, katanya. “Orang yang berjalan mengelilingi Ka’bah diserupakan Malaikat Muqorrobin yang sedang mengelilingi ‘Arsy”, katanya dengan menggelegar.

“Sa’i dari Sofa ke Marwah”, sambungnya. “Jauh sebelum perintah Ibadah Haji, bukit Sofa dan Marwah berjarak sekitar 450 meter ini menjadi saksi sejarah perjuangan seorang ibu, Siti Hajar dalam menyelamatkan putranya Ismail dari kehausan. Kisa ini pula mengajarkan kepada kita, bahwa kita wajib berusaha atau berikhtiar dalam kehidupan ini untuk memperoleh sesuatu yang baik”, analoginya. “Dan bagi orang yang sedang melaksanakan Sa’i diumpamakan orang sedang mondar mandir kebingungan, diantara ujung Mizan/Timbangan amalnya pada hari perhitungan amal umat manusia. Dia dalam kecemasan apa yang akan diputuskan oleh Allah SWT terhadap dirinya. Apakah dosanya akan diampuni atau tidak. Demikian penjelasan Imam Ghozali,” katanya.

READ  Jelang Kemerdekaan RI, PLN Tingkatkan Kompetensi Petugas untuk Jaga Keandalan Listrik di Tais

“Maka kita harus selalu berdoa meminta ampun kepada Allah SWT”, pintanya.

“Wuquf di Padang Arofah, sebagai penentu Ibadah Haji seseorang “, paparnya.

“Di sisi lain berkumpulnya jama’ah di tempat itu sebagai gambaran situasi kelak di Padang Mahsyar, dimana ketika itu seluruh umat manusia berkumpul mengikuti nabinya masing-masing sambil mengharap syafa’at dari mereka”, urainya lebih jelas.

“Maka itu takutlah kepada Allah SWT dan bertaqwalah kepada-Nya agar kita ditakdirkan dalam golongan orang-orang selamat dari siksa Nya”, ajakannya.

Sementara itu, di Masjid AL Ikhlas jalan Tabanas ini melaporkan, untuk tahun ini bisa mendistribusikan daging hewan qurban kepada 505 warga yang berada di sekitar masjid ini. “Tahun ini ada penurunan sedikit hewan qurban, biasanya sampai 800 warga yang bisa terdistribusi”, kata H. Syarisman Wiryadi Ketua DKM. (H. Azkar Badri)*A. Musthofa Warka, Memaknai Prosesi Ibadah Haji* Coganews.co.id I Tangsel -H. Ahmad Musthofa Warka, S.Pd, MA dalam Khotbah Idul Adha di lapangan Tabanas, Kedaung Pamulang Tangerang Selatan, 10/06/2022, di hadapan sekitar 500 orang jama’ah mengatakan, dengan mengutip Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. ” Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan Haji kepada mu. Oleh karena itu berhajilah. Barang siapa yang melaksanakan Haji karena Allah. Lantas tidak berkata keji dan tidak berbuat fasik, maka akan diampuni dosa-dosa nya hingga bersih seperti sa’at ia dilahirkan oleh ibunya. Dari satu umroh ke umroh yang lain adalah menghapus dosa-dosanya yang dilakukan diantara keduanya. Dan ibadah haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali dimasukkan ke dalam surga”, katanya di awal khotbah. “Pakaian Ihram diwajibkan kepada siapapun yang berhaji. Pakaian Putih Polos dan tidak berjahit sehelai benangpun. Hall ini selain menempatkan dirinya ke puncak kepatuhan. Juga harus merasakan kehinaan diri di dasar yang paling dalam. Seolah-olah, ia berkata, Ya Tuhanku sesungguhnya aku tidak memiliki apapun bagi diriku. Inilah aku berdiri tegak di hadapan Mu”, jelasnya. “Seperti baru lahir dari Rahim ibu, tiada harta, tiada pangkat, tiada apapun yang kumiliki selain sehelai pakaian Putih yang menutup auratku”, lanjutnya. “Begitu juga Thowaf”, katanya. “Orang yang berjalan mengelilingi Ka’bah diserupakan Malaikat Muqorrobin yang sedang mengelilingi ‘Arsy”, katanya dengan menggelegar. “Sa’i dari Sofa ke Marwah”, sambungnya. “Jauh sebelum perintah Ibadah Haji, bukit Sofa dan Marwah berjarak sekitar 450 meter ini menjadi saksi sejarah perjuangan seorang ibu, Siti Hajar dalam menyelamatkan putranya Ismail dari kehausan. Kisa ini pula mengajarkan kepada kita, bahwa kita wajib berusaha atau berikhtiar dalam kehidupan ini untuk memperoleh sesuatu yang baik”, analoginya. “Dan bagi orang yang sedang melaksanakan Sa’i diumpamakan orang sedang mondar mandir kebingungan, diantara ujung Mizan/Timbangan amalnya pada hari perhitungan amal umat manusia. Dia dalam kecemasan apa yang akan diputuskan oleh Allah SWT terhadap dirinya. Apakah dosanya akan diampuni atau tidak. Demikian penjelasan Imam Ghozali,” katanya. “Maka kita harus selalu berdoa meminta ampun kepada Allah SWT”, pintanya. “Wuquf di Padang Arofah, sebagai penentu Ibadah Haji seseorang “, paparnya. “Di sisi lain berkumpulnya jama’ah di tempat itu sebagai gambaran situasi kelak di Padang Mahsyar, dimana ketika itu seluruh umat manusia berkumpul mengikuti nabinya masing-masing sambil mengharap syafa’at dari mereka”, urainya lebih jelas. “Maka itu takutlah kepada Allah SWT dan bertaqwalah kepada-Nya agar kita ditakdirkan dalam golongan orang-orang selamat dari siksa Nya”, ajakannya. Sementara itu, di Masjid AL Ikhlas jalan Tabanas ini melaporkan, untuk tahun ini bisa mendistribusikan daging hewan qurban kepada 505 warga yang berada di sekitar masjid ini. “Tahun ini ada penurunan sedikit hewan qurban, biasanya sampai 800 warga yang bisa terdistribusi”, kata H. Syarisman Wiryadi Ketua DKM. (H. Azkar Badri)