Coganews.co.id | Palembang, – Yan Hariranto, yang lebih dikenal dengan panggilan Yan Coga, lahir pada 8 Maret 1982, adalah figur yang tumbuh dari persilangan antara tradisi, keberanian, dan cita-cita besar. Dengan latar pendidikan yang kokoh S.Pd., S.H., M.H., M.Si., CMEV., CBMed, deretan gelar bukan sembarang gelar namun berkelindan perjuangan dan pengorbanan yang tentulah tidak mudah, ia menapaki jalan hidup sebagai intelektual, advokat, aktivis, sekaligus tokoh masyarakat Sumatera Selatan yang disegani.
Di tengah masyarakat, Yan Coga kerap dijuluki “Raja Sriwijaya”, sebuah sebutan yang lahir dari keyakinan akan zuriyat panjangnya dengan Dapunta Hyang Sri Janayasa, Maharaja Sriwijaya. Julukan ini tidak sekadar simbol genealogis, melainkan representasi nilai kepemimpinan, keberanian, dan tanggung jawab sejarah yang ia rasakan sebagai panggilan hidup: menjaga marwah, memperjuangkan keadilan, dan merawat harapan orang banyak.
Sebagai aktivis pemberani, Yan Coga dikenal tak gentar berdiri di barisan depan ketika kepentingan rakyat kecil dipertaruhkan. Ia dipercaya memimpin proses penyatuan FORBES KNPI Sumatera Selatan, sebuah peran strategis yang menuntut keteguhan prinsip, kecakapan komunikasi, dan jiwa pemersatu di tengah dinamika pemuda dan perbedaan kepentingan.
Komitmennya terhadap pendidikan karakter dan kepemimpinan rakyat terwujud nyata melalui rumah besar Posko Koalisi Aktivis Rakyat Bawah (KARB), bak rumah nya HOS Cokroaminoto yang mampu melahirkan Soekarno, Moh. Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir dan tokoh-tokoh peradaban lainnya.
Ini Lebih dari sekadar posko, tempat ini dirancang sebagai kawah candradimuka kepemimpinan ruang belajar kehidupan bagi siapa pun yang ingin memahami arti kebersamaan, integritas,perjuangan dalam mencari sesuap nasi, disiplin berhemat, menjaga kebersihan, serta nilai-nilai dasar kemanusiaan. Di sanalah idealisme bertemu realitas, dan keberpihakan pada rakyat bawah dibentuk melalui praktik, bukan retorika.
Dalam kehidupan pribadi, Yan Coga adalah seorang suami dan ayah yang menempatkan keluarga sebagai pusat energi hidupnya. Ia mendampingi Irmaya Haryani yang sehari-hari akrab dipanggil Maya, istrinya, dan bersama-sama membesarkan buah hati mereka: Rilli Saitila Lilayah, Aqilah Nur Ariska, Yasmin Fadilah dan M Abyan Faiz, generasi yang ia harapkan tumbuh dengan keberanian bermimpi dan kepekaan sosial.
Sebagai advokat yang kharismatik, Yan Coga dikenal memiliki gaya lugas, argumentasi tajam, dan keberanian moral dalam membela keadilan dengan prinsip “Aku adalah aku tidak ada sama orang seperti aku karena aku tiada duanya”. Di mata masyarakat Sumatera Selatan, ia bukan sekadar praktisi hukum, melainkan tokoh publik yang membawa gagasan besar tentang masa depan daerah dengan landasan kuat “Never put off till tomorrow what you can do today Apa yang Anda bisa kerjakan hari ini jangan tunda sampai besok”. Sehingga saat ini ia dipercaya oleh Gubernur Sumsel Dr. H. Herman Deru,SH.,MM menjadi Direktur Operasional PT Sumsel Energi Merang (SEM) dengan tujuan pembangunan daerah yang berkelanjutan di sektor minyak dan gas di Bumi Sriwijaya nan kaya ini.
At least Mimpinya jelas dan terbuka: menjadi Gubernur Sumatera Selatan, demi menciptakan ruang yang lebih adil bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi, meski lahir dari keterbatasan peran orang tua, ekonomi, dan akses.
Filosofi hidupnya terangkum dalam slogan khas yang membumi dan mudah diingat: “Mudah Berasan” sebuah ajakan untuk berpikir jernih, bertindak bijak, dan tetap membumi dalam setiap keputusan. Memasuki tahun 2026, Yan Coga meneguhkan langkah dengan semangat Strive for Excellence, menyalakan energi baru agar kehadirannya dapat memberi dampak yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih bermakna bagi semua lapisan masyarakat. Semangat itu ia bingkai dalam slogan baru yang optimistis dan inklusif:
“Menyala Untuk Semua.”
Sebuah pernyataan tekad dari seorang anak zaman yang percaya bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang keberanian untuk menyalakan harapan—dan menjaga nyalanya agar tak pernah padam. (Dandi)






