Calon Alternatif Mampukah Merubah Peta Politik ?

Coga Opini70 Dilihat

COGANEWS.COM | Palembang – Menarik, sungguh menarik menyimak dinamika politik menjelang pilkada kabupaten Ogan Ilir yg sudah semakin mendekati tahapan pendaftaran bacalon oleh KPU Kab Ogan Ilir. Khususnya saat ada pemberitaan di berbagai media tentang pengunduran diri Ahmad Wajir Noviandi dari bakal calon bupati Ogan Ilir.

Mengapa menarik ?

Pertama, karena AW Noviandi (Ovi) bahkan sudah memperoleh dukungan resmi partai-partai politik sebagai syarat atau tiket untuk mendaftarkan diri bersama pasangannya Ardani ke KPU sebagai salah satu pasangan bacalon bupati & wakil bupati selain pasangan incumbent Ilyas Panji Alam dan Endang PU.

Dengan digantikannya posisi Ovi oleh Panca Wijaya Akbar yg notabene adalah adik kandungnya sendiri, maka sangat menarik untuk dikaji dan dianalisa oleh para praktisi maupun pengamat politik di Sumsel.

Kedua, inilah pertarungan prestisius sekaligus ajang perang politik “revans” antara dinasti Mawardi Yahya yang merupakan wagub provinsi sumsel dan mantan bupati Ogan Ilir dua kali, dengan dinasti Ilyas Panji Alam yang mencoba menancapkan cakar dinasti baru selain klan Mawardi Yahya.

Mengutip tulisan sahabat saya pengamat politik Bagindo Togar yang begitu jeli melihat aroma “Balas Dendam Politik” didalam kontestasi pilkada Ogan Ilir.

Bagaimana dua kubu yang awalnya bersatu (ovi dan ilyas) sebagai paslon bupati dan wakil bupati Ogan Ilir yang berhasil memenangkan kontestasi pilkada tahun 2015 mengalahkan pasangan Helmy Yahya dan Muchendi Mahzareki, kini harus saling berhadapan sebagai seteru politik.

Bagindo melihat dalam pandangan analisisnya bahwa sesungguhnya ini bukan semata-mata pertarungan antar dua pasangan calon bupati /wakil bupati, tapi ini lebih merupakan pertaruhan prestise dan ajang balas dendam politik (revenge).

READ  PT PUSRI Berjanji Realisasikan Tuntutan FAML

Oleh karena itu dengan mundurnya Ovi digantikan Panca, tidak otomatis akan mengubah peta politik Ogan Ilir secara signifikan, karena dapat dirasakan sesungguhnya pilkada Ogan Ilir adalah pertarungan antara Mawardi Yahya (MY) dengan Ilyas Panji Alam (IPA).

Hanya saja memang MY bersama think tank nya harus sedikit bekerja keras untuk menyusun kembali strategi pemenangan dengan penggantian posisi Ovi kepada Panca.

MY dengan sosok berjiwa petarung dan politikus kawakan tentu telah memperhitungkan serta mengantisipasi sejak awal tentang berbagai kemungkinan yg akan terjadi jika Ovi dimajukan kembali sebagai calon bupati.

Hal ini sangat jelas ditunjukkannya saat diawal-awal masa sosialisasi MY menyebutkan kedua putranya Ovi dan Panca sebagai kandidat yang akan dipersiapkan untuk masuk bursa calon bupati.

Namun memang ada kesan MY lebih memprioritaskan Ovi untuk maju, dan ini bisa diamati dengan berbagai aktifitas positif Ovi baik dalam hal melakukan recovery jatidirinya yg sempat tersandung kasus narkoba, maupun komunikasi politik dengan berbagai parpol untuk memperoleh dukungan.

Alhasil Ovi mendapat kepercayaan dari berbagai parpol dgn terbitnya rekomendasi resmi mendukung pencalonannya dan terakhir bahkan telah mencukupi syarat dukungan untuk mendaftar di KPU.

Namun putusan MK ibarat tembok yg menghadang tekad serta semangat Ovi untuk meneruskan perjuangannya. Sinyal-sinyal untuk menjegal langkahnya semakin kuat dgn fatwa dari KPU yg mensinyalir akan mengimplementasikan putusan MK, yakni melarang mantan pengguna narkoba untuk mencalonkan diri.

Oleh karena itu sebelum nasi menjadi bubur, MY langsung melakukan langkah taktis, menjalankan plan 2, menarik Ovi dan mendorong Panca untuk maju dengan pasangan cawabup yang tetap sama, Ardani.

READ  HERMAN DERU, BAGAIKAN KARANG DITENGAH GELOMBANG.

Lantas kira-kira bagaimana reaksi kubu IPA ? Jelas perubahan komposisi pasangan calon seterunya akan memberi spirit yang cukup besar untuk membangun keyakinan akan bisa memenangkan pertarungan politik di Ogan Ilir kali ini.

Dan tentu IPA juga berharap pergantian ini akan merubah konstelasi politik Ogan Ilir di fase-fase terakhir untuk menjadi keuntungan politik bagi pasangannya.

Namun IPA patut untuk waspada, karena siapapun lawannya, sejatinya dia tetap berhadapan dengan MY.

Jika dianalogikan maka pilkada Ogan Ilir saat ini merupakan pertarungan arus bawah dan arus atas. Panca-Ardani simbol kekuatan arus bawah yang mengandalkan jaringan politik langsung ke masyarakat pemilih selain jaringan parpol pendukung dan relawan, dan tentu saja yg paling terasa adalah kekuatan pengaruh politik MY yang sudah mengakar dimasyarakat Ogan Ilir.

Sementara diposisi yang lain IPA- Endang boleh dikatakan sebagai simbol kekuatan arus atas yang mengandalkan mesin birokrasi selain mesin partai dan relawan.

Bagi saya pribadi, inilah sejatinya pertarungan “Bharatayudha” antar dua dinasti kekuasaan dan politik yang akan berlangsung sengit dengan pembuktian kepiawaian masing-masing kubu untuk bisa memenangkan pertarungan yang penuh prestisius.

Dari sisi kekuatan politik, maka tiga mesin politik besar PDIP, Partai Golkar dan PKB versus beberapa mesin partai politik besar lainnya seperti Partai Gerindra, P. Demokrat, Partai Nasdem, PKS, PAN, Partai Hanura, dan lain-lain.

Bagaimana akhir perang bharatayudha ini ?

Wallahualam, pada akhirnya tangan tuhan yg akan menentukan.

Mari berpolitik dgn gembira selaras dengan suasana September ceria. (ZH)

 

Salam takzim,

  • Suparman Romans
  • Ketua presidium LKKPPD
  • Provinsi Sumatera Selatan