oleh

Trengginas dan Totalitas, Kejati Sumsel Terus Deteksi Kasus Masjid Sriwijaya

Edward Jaya: Kita Apresiasi Tinggi Atas Keberanian Kejati Sumsel

Coganews.co.id | PALEMBANG –  Kasus Masjid Sriwijaya bak bola salju yang terus membesar, semakin kesini semakin banyak tokoh-tokoh utama yang akan terdeteksi oleh Kejati Sumsel yang dengan trengginas dan berani mengusut tuntas sampai ke akar-akarnya proyek magkrak Masjid yang digadang-gadang menjadi Masjid terbesar di Asia.

Edward Jaya Ketua Umum DPP Dewan Pemuda Sriwijaya (DEMUSI) bersama tim turut mengapresiasi langkah berani dan sigap pihak Kejati Sumsel karena ini menyangkut perkara umat yang memang harus dipertanggungjawabkan secara moral sosial dan agama kepada masyarakat.

Diketahui anggaran pembangunan Masjid Sriwijaya tersebut sempat cair dan pada pencairan senilai 80 M, uang tersebut tidak langsung ke rekening Yayasan, melainkan ke rekening pribadi terdahulu melalui Bank Sumsel.

Gubernur Sumatera Selatan (pada waktu itu) diduga memerintahkan bawahannya untuk mencairkan dana hibah senilai 80 M tanpa proposal dan Naskah Pejanjian Hibah Daerah (NPHD).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, anggaran dana hibah untuk pembangunan Masjid Sriwijaya tersebut bernilai Rp130 ​​M.

Sampai saat ini, Tim Info Media Korupsi pun masih menelusuri di mana saja uang tersebut mengalir. Hal ini juga diduga kuat uang tersebut dapat diambil terlebih dahulu atau diinvestasikan sehingga dapat menguntungkan oknum tertentu.

Disisi lain, kasus Masjid Sriwijaya ini pun masih bergulir dimana akhir-akhir Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan (Kejati Sumsel) menghadirkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly Asshiddiqie, dalam agenda tindak pidana korupsi (tipikor) pembangunan Masjid Raya Sriwijaya Palembang.
Mengutip dari Media IDN Waktu Pemeriksaan terhadap Jimly akan dilaksanakan di Kejaksaan Agung (Kejagung) Jakarta, Senin (12/4/2021) mendatang.

Sesuai panggilan, pemeriksaan Pak Jimly dialihkan ke Kejagung. Memang panggilannya tertera harga di Gedung Bundar, ”ungkap Kasi Penkum Kejati Sumsel, Khaidirman.
Menurut Khiadirman, pemeriksaan di Kejagung dilakukan karena yang bersangkutan berdomisili di Jakarta. Jimly Asshiddiqie dihadirkan sebagai pengawas karena Ketua Dewan Pembina Yayasan Wakaf, Masjid Raya Sriwijaya pada 2015 lalu.

Mungkin waktu beliau sempit untuk ke Palembang. Jadi sistem tidak terhambat penyidikan, maka penyidik ​​jemput bola. Lagi pula dia dipanggil sebagai saksi, ”Khaidirman.
Alasan lain pemanggilan Jimly di Kejagung dilakukan untuk memudahkan proses pemeriksaan. Namun secara tugas, penyidik ​​Kejati tetap memeriksa diri Jimly.
“Penyidik ​​tetap dari Kejati Sumsel yang akan memeriksa pemeriksaan,” jelas dia.


Alasan lain pemanggilan Jimly di Kejagung dilakukan untuk memudahkan proses pemeriksaan. Namun secara tegas, penyidik ​​Kejati tetap memeriksa diri Jimly.
“Penyidik ​​tetap dari Kejati Sumsel yang akan memeriksa pemeriksaan,” jelas dia.
Dikonfirmasi secara terpisah, Jimly Asshiddiqie membenarkan pemanggilannya oleh Kejati Sumsel untuk pemeriksaan sebagai saksi. Jimly mengaku akan membeberkan semua hal yang dirinya tahu.
“Tanya ke penyidiknya, semua informasi hanya untuk penyidik ​​untuk menghapus pembuktian terhadap tersangka,” jelas dia.
Semoga berharap, Masjid Raya Sriwijaya akan segera mewujudkan. Bahkan pada 2019 lalu, Jimly menyebut Palembang merupakan satu-satunya wilayah di Indonesia yang tidak memiliki Masjid Raya baru sejak masa kemerdekaan.
“Semoga kasus ini cepat selesai dan mengungkap siapa yang salah. Apalagi urusan masjid harus ditindak tegas, ”jelas dia.


Sementara Kejati Sumsel mengambil alih tindak pidana tindak pidana korupsi (Tipikor) dalam pembangunan masjid yang diproyeksi menjadi terbesar di Asia. Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Pemprov Sumsel) telah mengeluarkan Rp130 ​​miliar untuk pembangunan awal masjid di atas lahan seluas 20 hektare (ha) menggunakan APBD.

Beberapa nama tokoh dan mantan pejabat telah dipanggil untuk diperiksa, seperti mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin yang beberapa kali dipanggil sebagai saksi. Hanya saja Alex berhalangan hadir dan dijadwalkan pemeriksaan ulang pada Kamis pekan depan.


Untuk saksi Alex Noerdin tetap akan diperiksa di kantor Kejati Sumsel,” ujar dia.
Penyidik pun telah menetapkan empat orang tersangka dalam dugaan tipikor Masjid Raya Sriwijaya. Me0reka adalah Ketua Umum Panitia Pembangunan Masjid Raya Sriwijaya 2015-2018, Eddy Hermanto, Ketua Panitia Divisi Lelang Pembangunan Masjid Sriwijaya, Syarifudin. Project Manager PT Brantas Abipraya-PT Yodya Karya, Yudi Arminto.

Lalu Dwi Kridayani sebagai Kerja Sama Operasional (KSO) dari PT Brantas Abipraya-PT Yodya Karya. Penyidik pidana khusus (Pidsus) Kejati Sumsel menilai, keempat tersangka terlibat dalam proses yang merugikan negara pada tahun 2017 lalu.  (Danaz)

(Sumber : IDN Time dan MAKI).

Berita Lainnya