Palembang (Coganews.co.id) Tergerak kali ini saya mengangkat tulisan dgn judul diatas.
Mengapa saya terinspirasi dengan sosok seorang Herman Deru yg notabene adalah pemimpin tertinggi di Sumsel saat ini ?
Karena memang sosoknya sangat menarik utk menjadi topik bahasan saya.
HD (Herman Deru) memiliki karakter kepemimpinan yg khas, yang menurut versi saya adalah seorang pemimpin yg “membumi”.
Selain itu HD juga tipikal tokoh yg mampu beradaptasi dgn situasi lingkungan dengan cepat, dan yg paling membuat saya respek adalah kemampuan HD utk melebur dgn masyarakat melalui gaya komunikasi dan pendekatan yg sangat humanis.
Dia tidak memaksakan diri utk dianggap pemimpin intelektualistik, sebaliknya dia sgt faham bgmn memposisikan dirinya sebagai pemimpin yg mengakar ke rakyat, dgn penampilan yg relatif sederhana, berempati dan ramah senyum.
Mungkin HD sangat mahfum bahwa senyum adalah bentuk sedekah yg paling mudah namun miliki daya tarik yg kuat utk menarik empati thd dirinya .
Menariknya, ada satu kebijakan sekaligus cara berinteraksi HD yg cukup disoroti dan terkadang disalah artikan oleh bbrp kalangan, yakni tradisi mengantri bagi para tamu dan masyarakat yg ingin menghadap beliau utk kepentingan sesuatu dan lain hal, dan antrian tsb terjadi (diatur oleh protokol) disaat HD akan keluar kantor sehabis jam kerja, ataupun pada saat di kediaman resmi saat selesai menghadiri acara formal utk pulang beristirahat dirumah beliau.
Ada beberapa kalangan yg mengkritisi, namun blm ada yg saya dengar melihat dalam perspektif yg lebih permisif dan objektif.
Saya mencoba menganalisa berdasarkan penglihatan kasat mata dan sedikit intuisi.
Jika kita menilai dari perspektif rasa gengsi dan sensitifitas, maka kemungkinan gaya HD membuat hati org yg ingin bertemu beliau menjadi kurang nyaman.
Karena pengaturan protokoler terhadap org2 yg lazimnya masyarakat umum yg ingin menghadap HD disusun dalam formasi barisan seakan sebuah antrian, lantas dlm waktu yg sangat singkat HD melayani dan mendengarkan kehendak mereka yg menghadap dalam.posisi sama2 berdiri. Singkat dan tanpa basa basi.
Disini saya melihat gaya kepemimpinan yg beda dari seorang Herman Deru. Karakter kepemimpinan dan gaya HD utk menampung aspirasi warga betul2 unik, namun tuntas.
HD tahu betul mana urusan yg bisa dgn cepat dieksekusi, mana urusan yg perlu proses panjang utk penyelesaiannya.
Begitu juga mana urusan kepentingan pemerintahan dan mana yg urusan sosial kemasyarakatan.
Dan utk urusan sosial kemasyarakatan itulah HD melakukan komunikasi secara cepat, lugas dan tuntas, mungkin dlm waktu 5 menit paling tidak urusan 10 sd 20 org sdh direspon oleh nya.
Dan sebaliknya bagi masyarakat itu sendiri, bukan lamanya durasi bertatap muka dgn gubernur yg menjadi tolok ukur kepuasan mereka, tetapi esensinya apakah aspirasi mereka direspon atau tidak oleh HD selaku gubernur yg memimpin mereka.
Nah, gaya kepemimpiman seperti ini yg sering tidak dapat diterima oleh pihak2 tertentu. Mereka menganggap cara yg diterapkan oleh HD kurang etis, dan kurang manusiawi.
Padahal jika difahami lebih dalam, maka justru kita harus memberikan apresiasi atas style HD dlm melayani rakyatnya.
Karena mereka yg rela berbaris mengantri, adalah warga masyarakat yg tidak membuat janji sebelumnya utk ketemu gubernur. Mereka datang secara spontan untuk menyampaikan kehendak dan aspirasinya kepada gubernur, dan saat jumpa itulah mereka bisa menyampaikannya secara langsung.
Bagi warga, aspirasi yg langsung didengar dan direspon oleh seorang gubernur merupakan berkah dan kepuasan tersendiri, dan itu tidak dinilai dari lamanya durasi waktu yg disediakan HD utk berkomunikasi dgn mereka.
Sebaliknya HD cukup piawai utk memanfaatkan waktu yg sempit guna mendengarkan aspirasi rakyatnya.
Lantas bagaimana sikap HD terhadap penilaian “minor” sekalangan orang dengan gaya leadershipnya ?
Show must go on, itulah kesan yg saya tangkap. Dia tetap tegar dan kokoh utk terus melangkah kedepan, menunaikan tugas dan pengabdiannya dlm menjalankan amanah yg diberikan rakyat utk memimpin Sumatera Selatan.
Sebagai sahabat, teman sekaligus mitra kritis yg kadang perlu mengingatkan beliau utk tetap istiqomah sebagai seorang pemimpin rakyat, maka dengan ketulusan hati saya mendoakan semoga HD selalu dalam limpahan rahmat serta karunia Allah SWT, diberikan kekuatan lahir dan batin utk memimpin rakyat sumsel.hingga saatnya nanti Allah mentakdirkan sampai dimana amanah tersebut diambil kembali oleh Nya.
Tetaplah menjaga komitmen kepada rakyat, tetaplah menjadi pengayom serta pemimpin yg dicintai rakyat, tetaplah seperti Karang Yang Kokoh ditengah gelombang badai samudra.
Salam takzim,
Suparman Romans
Presidium Lembaga Kajian Kebijakan Publik Pemerintah Daerah (LKKPPD)
Provinsi Sumatera Selatan.








