Komunikasi Kebangsaan Rakyat Jalanan
Oleh : Drs. H. Azkar Badri, M.Si.
Pegiat The RAWAS (Riset Apresiasi Warga Dan Sosial) Yayasan Pataka.
Juga Dosen STIKOM MAA Ciputat.
“Jagung manis. Jagung manis makan kita. Gurih, lezat. Enak rasanya”. Begitu kira-kira penggalan rekaman lagu anak-anak. Diputar ulang berkali-kali oleh pendorong gerobak penjual makanan anak-anak yang terbuat dari Jagung Manis. Sebut saja, Tarjono (Bukan nama sebenarnya) penjual makanan anak-anak ini. Dia tiap pagi lewat jalan Tabanas Raya Kedaung Pamulang Tangerang Selatan menjajakan jualannya yang digemari oleh anak-anak usia sekolah Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Entah sampai kemana Tarjono mendorong gerobaknya berjalan kaki mengais rezeki di jalanan untuk menyambung hidup dirinya dan keluarga. Yang jelas mobilitas gerobaknya dengan lagu senandung anak-anak itu menebar kemana-mana, dan segmentasi khalayaknya anak-anak.
Esensi yang ingin disampaikan dalam hal ini. Seandainya dalam penggalan lirik lagu anak-anak tadi ada Pesan Kebangsaan yang runtut dengan iramanya. Misalnya, “Jagung Manis. Jagung Manis. Makanan Nusantara. Warisan nenek moyang kita. Gurih. Enak rasanya”. Sambungan kalimat dan kata-katanya masih sinkron. Masih enak di dengar. Pinjam istilah pegiat seni, tidak termasuk pelacuran seni.
Namun sayang, dalam bait perbait lagu anak-anak tersebut, tak satu katapun pesan nasionalisme terselip di dalamnya. Memang mungkin lantaran Pencipta Lagu anak-anak ini hanya berorientasi pada bisnis market, pemasaran produk dagangannya. Bagaimana anak-anak tertarik dan cinta makan ini, membeli dan berlangganan setiap hari. Pemilik/pemodalnya mendapat untung (Tarjono hanya mendapat komisi. Bukan pemilik).
Tanpa mereka berfikir panjang lebar. Bagaimana menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak Indonesia sedini mungkin, dimanapun, kapanpun dan cara apapun. Inilah persoalannya, mungkin nasionalisme masyarakat kita masih bisa ditakar. Belum secara menyeluruh dan penuh. Dimana andil kita terhadap kehidupan berbangsa untuk masa depan Indonesia. Apa dan di kesempatan mana kita bisa partisipasi kebangsaan. Memang hal ini tidak gampang, karena dituntut juga kecerdasan intelektual dan emosional kebangsaan, serta percontohan di tingkat lebih tinggi.
Tarjono, potret rakyat jalanan dari sisi penjual makanan kecil. Ada lagi yang mereka sebut Kereta Wisata, kendaraan pengangkut anak-anak rekreasi jalan rute dekat di daerah Botabek yang dilengkapi dengan musik dan lagu anak-anak. Juga kursi putar jalanan hiburan anak-anak. Musik Jalanan penggemarnya cukup banyak dan moving. Begitu juga Pengamen jalanan dengan modal Gitar Tunggal dan alat musik seadanya. Serta yang lainnya.
Kemudian ada lagi tempat-tempat keramaian rakyat insidental mingguan. Tempat olahraga, wisata dan pasar pekanan. Tempat semacam ini sebetulnya bisa menjadi sasaran khalayak deseminasi komunikasi Kebangsaan. Sifatnya rekreatif dan komunikatif. Dalam suasana bergembira, pesan komunikasi tersampaikan. Untuk penguatan sprit nasionalisme masyarakat di tengah kecenderungan degradasi kebangsaan.
Di tengah membeludaknya informasi dan bertebarannya informasi sampah (Hoax) serta penurunan nilai-nilai semangat kebangsaan terhadap generasi sekarang ini. Perlu mencari dan membuat strategi Komunikasi Kebangsaan yang tepat dan komprehensif terhadap khalayak generasi muda dan kelompok yang punya informasi terbatas (kebanyakan berada di pedesaan).
Sebetulnya di era Departemen Penerangan dulu ada yang namanya Direktorat Penra (Penerangan Rakyat). Direktorat ini di Kantor Wilayah atau Kabupaten/Kota struktur bawahnya mengadakan Penerangan Rakyat dengan pendekatan hiburan. Misalnya dengan, Pertunjukan Kesenian Tradisional, Orkes/Band, Pemutaran Film di lapangan terbuka dan lainnya. Dalam acara tersebut ada semacam breaking news, slot waktu memberikan informasi pembangunan.
Untuk sekarang ini, mungkin yang masih pas atau cocok adalah Hiburan Orgen Tunggal yang melibatkan khalayak dalam test vocalnya. Khalayak ikut menyumbang atau melantunkan tembang lagunya. Di sini peran MCnya dalam kesempatan terbatas menyempatkan menyampaikan pesan, Komunikasi Kebangsaan. Sekali berdayung, dua hal yang bisa diselesaikan.
Begitu juga dalam halnya Komunikasi Rakyat Jalanan, model pak Tarjono. Sebetulnya semacam mereka harus digarap pembinaannya. Mereka diberi pencerahan dan pemahaman tentang Keindonesiaan, Kebangsaan dan tanggung jawab sosial. Diberi stimulus, reward dan apresiasi kepadanya.
Hal ini memang kelihatan kecil, sepele dan tidak menarik. Tapi ingat sesungguhnya yang besar berasal dari yang kecil. Semangat kebangsaan dibangun dari segala lini, sekalipun itu lini terkecil. Memang kegiatan ini bagi Dinas Kominfo di daerah tidak menarik, disamping kreativitas dan idealismenya lemah, juga mereka lebih fokus pada kegiatan atau proyek yang bernilai nominalnya lebih tinggi. Mungkin secara personal dalam perhitungannya lebih menguntungkan. Ini salah satu kelemahan Bidang Kominfo diserahkan ke daerah pada era otonomi daerah. Semoga. (Danaz)










