Coganews.co.id | Jakarta – Pada tahun 2021 ini tepat enam tahun ketika pada 2015 para pemimpin dari 193 negara mengesahkan dokumen Sustainable Development Goals (SDGs). Dokumen ini berisi 17 tujuan dan 169 target yang harus dicapai pada 2030. Rentang 15 tahun ini merupakan tenggat yang sama ketika pada tahun 2000 masyarakat dunia di bawah naungan PBB menyepakati Millennium Development Goals (MDGs) dgn 8 tujuan dan 50 target yg hrs dicapai pada 2015. Kemudian MDGs ini lalu dilanjutkan dgn SDGs.
Masyarakat dunia hrs sadar bahwa problem di suatu wilayah merupakan tanggung jawab seluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa umat manusia saling terkoneksi. Apa yang diperbuat di suatu wilayah memiliki dampak di wilayah lain. Apa yang dilakukan satu individu akan berdampak terhadap individu lain. Padahal masing-masing terpisah oleh jarak ribuan kilometer dan budaya yang berbeda.
Melalui ilmu pengetahuan dan teknologi telah menyatukan umat manusia di seluruh dunia secara tak terbayangkan tingkat akseleratif dan kekuatan keterkaitannya. Karena itu kemiskinan, kesetaraan jender, kematian ibu dan anak, wabah penyakit menular, kesenjangan, ketertinggalan, dan kerusakan lingkungan merupakan tanggung jawab seluruh umat manusia. Hal itu tidak bisa dibebankan pada satu etnik saja, pada satu bangsa saja.
Maka melalui MDGs, masyarakat dunia bisa merumuskan masalah, tujuan, dan targetnya secara terukur dan jelas. Karena itu, dalam waktu 15 tahun kualitas hidup umat manusia dan lingkungan hidup mengalami perbaikan dan peningkatan. Memang tak semua bangsa dan negara bisa mencapai target yang diharapkan, namun harus diakui telah terjadi peningkatan.
Maka itu utk memperbaiki dan mengejar apa yang belum tercapai maka melalui SDGs tujuan-tujuan dan target-targetnya disusun secara lebih tajam serta lebih komprehensif. Unsur-unsur kuantitatif dan kualitatif diperbaiki. Pendekatannya pun lebih partisipatif dan inklusif dgn melibatkan semua pemangku kepentingan. Aktornya tak hanya pemerintah dan birokrasi, tapi juga akademisi, LSM, sektor bisnis, dan lain-lain. Forum pertemuan parlemen global ini juga bagian dari upaya inklusivitas dan partisipatif tersebut.
Parlemen adalah lembaga yang sama pentingnya dengan pemerintah. Karena parlemen merupakan ekstraksi dari beragam kepentingan politik dan agregasi beragam aspirasi masyarakat. Di zaman modern ini, tak ada pemerintahan tanpa ada parlemen.
Pada awal 2020 lalu hingga kini dunia dilanda pandemi Covid-19. Inilah pandemi terhebat yang pernah dihadapi umat manusia. Hal itu menciptakan penderitaan hebat dan kematian yang tingggi serta menghambat pencapaian semua tujuan-tujuan yang telah disusun. Pada sisi lain, kita juga menyaksikan meningkatnya eskalasi persaingan antara negara-negara kuat. Selain itu, peperangan, terorisme, dan beragam tindak kekerasan lainnya masih menghinggapi kehidupan umat manusia.
Pandemi Covid-19 ini makin menyadarkan kita bahwa keseimbangan ekologis harus makin dijaga. Munculnya virus korona ini merupakan bentuk evolusi makhluk hidup untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Pandemi Covid-19 juga makin menyadarkan bahwa kita sebagai manusia untuk mempererat kerja sama dan saling tolong menolong. Akses terhadap vaksin dan obat-obatan perlu ada kesetaraan.
Ilmu kedokteran, farmasi, dan mikrobiologi harus dibagikan bersama. Jangan dimonopoli oleh negara-negara tertentu saja. Jangan dikangkangi sendiri. Ini soal kemanusiaan. Kita tentu tak ingin orangtua kita, anak kita, saudara kita, pasangan hidup kita, sahabat kita tak tertolong hanya karena kesulitan akses terhadap vaksin, obat-obatan, dan alat bantu kesehatan lainnya.
Namun dari kasus pandemi Covid-19 ini, warga dunia patut bersyukur dan berbangga. Kemajuan dan kemampuan ilmu dan teknologi di bidang kesehatan telah berkembang demikian pesat. Dalam waktu cepat, dunia sudah bisa menghasilkan vaksin dalam waktu kurang dari satu tahun. Capaian ini belum pernah terjadi sebelumnya. Pandemi ini juga telah menunjukkan keluhuran budi umat manusia di seluruh dunia untuk dengan cepat saling menolong dan saling membantu.
Hambatan lain terhadap pencapaian tujuan dan target SDGs yang berasal dari persaingan politik dan lain-lain, lebih karena egoisme dan kerakusan belaka. Inilah penyakit manusia sejak zaman purba. Melalui forum ini, mengimbau agar para pemimpin dunia mengerem naluri purbanya. Sekarang adalah saatnya kita bergandeng tangan, bekerja sama, berbagi, dan saling menolong.
Dlm pertemuan selama tiga hari ini kami meyakini banyak hal positif yang telah disepakati dan diputuskan serta terbangunnya saling pemahaman bersama demi tercapainya tujuan dan target SDGs.
Demikian akhir dari pertemuan The First Global Parliamentary Meeting on Achieving the Sustainable Development Goals (SDGs) ini, secara resmi berakhir dan ditutup oleh Vice Speaker Indonesia House Representative Bpk. Rachmat Gobel.
Semoga bermanfaat bagi kita semua dan 193 negara dunia yg tergabung dlm kesepakatan Dokumen yg berisi 17 tujuan dan 169 target yang harus dicapai pada 2030 nanti.
Jakarta, 30 September 2021 Salam Hafisz Tohir
Wakil Ketua BKSAP DPR RI. (Rill)







