Coganews.co.id | PALEMBANG – Jika masa kecil mu dulu suka main kejar-kejaran, hujan-hujanan dan kalau ada ‘layangan putus’ mulai berlarian kesana-kemari sakingkah hebohnya hingga tak sadarkan diri lagi didepan ada lobang dan sebagainya, yah berarti masa kecilmu dulu masa kecil yang sangat bahagia, memuaskan, hehehe…
Namun, potret hebohnya kejar-kejaran ‘layangan putus’ pada masa kecil di zaman ‘bingen‘ dulu ternyata jauh kalah atas fenomena serial drama ‘Layangan Putus‘ saat ini di era dunia digital abad XXI ini.
Dalam kajian internal disampaikan oleh Ketua Umum Badko HMI Sumbagsel Dede Irawan melalui Tomi Irawan selaku Ketua Bidang Informasi Komunikasi dan Digitalisasi Inovasi (Infokom dan Digvasi) BADKO HMI Sumbagsel bahwasanya,


“Sekarang ini beban kita semakin berat, kenapa tidak ternyata selain ‘krisis minyak goreng’ para emak-emak Milenial sudah banyak ‘krisis kepercayaan’ sama para suaminya.
Kami mengumpulkan banyak sekali data dari beberapa sumber terpercaya tentunya, para istri sudah mulai sangat over protektif sama suaminya dan para wanita muda pun mulai cemas jika mau memutuskan untuk menikah.
Tidak sedikit para istri sekarang, suami pulang kerja malam auto panik, tampil necis dan parlente jadi meriang, jarang makan di rumah jadi penuh tanda tanya bahkan sampai setiap detik selalu mau dibuatin laporan melalui PAP, video call bahkan sampai sleepcall antar suami istri yang padahal sudah lama saling jatuh cinta toh, hehehe...”
Belum lagi kita jumpai baik itu di angkutan umum, mall, hotel, kafe hingga dunia kampus pun, baik itu dari anak-anak, masyarakat hingga pejabat sudah berjibun menggunakan kata-kata “It’s My Dream! Fine, Thank You, Cappadocia!“
Adegan drama yang diperankan oleh Putri Marino sebagai Kinan dan Reza Rahardian sebagai Aris saat melakukan penggalan kalimat, “It’s my dream, not hers!” meledak viral di jagad maya sampai ke 28 negara, heboh sekali bukan!
Tak kalah menarik, meskipun drama yang di sutradarai oleh Benni Setiawan produksi MD Entertainment ini sudah mencapai episode terakhir pada hari Sabtu (22/01/2022) pukul 18.00 WIB tersebut namun efek sampingnya masih terngiang-ngiang sampai detik ini.
Ditambahkan juga oleh Sobri, selaku Wasekum Bidang Infokom dan Digvasi BADKO HMI Sumbagsel,
“Dahsyat memang, kita cek baik itu di IG, Facebook, Twitter, YouTube, Tik-tok dan media digital lainnya tidak asing lagi sama tuh Layangan Putus, bukan Layanan Putus ya.
Terlepas dari peduli atau tidak peduli terhadap serial Layangan Putus, sebagai insan intelektual harus kita kaji juga menjadi fakta tak terbantahkan bahwa serial sinetron Indonesia yang ini memang sangat hits, menyita perhatian semua kalangan masyarakat, sehingga menjadi suatu bentuk kebudayaan pop masa kini.”
Kajian internal ini kuga membeberkan beberapa pesan penting bagi generasi Milenial yang bisa diambil dalam serial Layangan Putus tersebut.
Arrijalu qawwamuna’alan nisa’ sejatinya para lelaki adalah Pemimpin, pelindung bagi para wanita. Dalam QS Annisa ayat 34 ini mengandung makna bahwa laki-laki merupakan ‘qawwam’ atau kawan, mitra bagi perempuan yang semestinya menjaga, memelihara dan melindungi Marwah dan harga diri wanita bukan malah merusaknya.
Demikian adanya HMI dan KOHATI, untuk saling menguatkan satu sama lain agar Berdaya Bersama Menuju Indonesia Emas 2045.
Pun teramat penting seperti pesan Eyang Habibie, “Tak perlu mencari yang sempurna cukup ia yang mampu membuatmu bahagia dan berarti lebih dari siapapun. Serta jangan sekali-kali meninggalkan seseorang demi seseorang!”
Bagaimana perjuangan Kinan sebagai wanita tangguh nan luar biasa. Mampu mengekspresikan segala luapan emosi kekecewaan, amarah dan kesedihannya dengan sangat elegan, lembut namun menusuk. Ingat juga dengan statement legendaris nya, “Sekarang yang saya bela bukan lagi suami, pernikahan tapi harga diri, harga diri yang harus diperjuangkan!”.

Terasa sekali atmosfer Drama Korea dalam balutan serial Layangan Putus ini juga membuktikan keberhasilan promosi tim kreatif dari Korea Selatan dalam melancarkan imperialisme kebudayaannya ke setiap penjuru dunia termasuk Indonesia.
Melalui kehebohan dunia digital yang penuh akan arus promosi dan informasi ini BADKO HMI Sumbagsel melalui Bidang Informasi Komunikasi dan Digitalisasi Inovasi (Infokom dan Digvasi) meminta Pemerintah Daerah terkhusus Dinas Kominfo, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Pariwisata agar gigih konsisten dan ‘jihad totalitas’ mendukung ekspor kreativitas anak bangsa, mahakarya kebudayaan Indonesia seperti misalnya beraneka pempek dari Palembang, pendap dari Bengkulu, seruit dari Lampung dan Lempah Kuning dari Bangka Belitung serta Kearifan Lokal lainnya yang ada, sehingga bisa mengangkat potensi daerah masing-masing di Sumatera Bagian Selatan tercinta.
Bukan tidak mungkin melalui kader dan pengurus BADKO HMI Sumbagsel akan menjadikan setiap daerah dengan potensi khas nya akan go international pada saatnya nanti, It’s My Dream!
(Danaz)








