Coganews.co.id | Palembang – Indonesia adalah negara hukum berdemokrasi yang berketuhanan sesuai amanat dari Pasal 1 Ayat 3 UUD 1945.
Namun, semakin kesini semakin banyak pelanggaran yang terjadi bahkan ada yang terkesan kebal hukum.
Kali ini, kejahatan kelamin ataupun pelecehan dan kekerasan seksual melampaui dari ganasnya virus Corona atau Covid-19, terlebih ini banyak terjadi di lingkungan pendidikan seperti di kampus, sekolah bahkan di Pondok Pesantren.
Hal ini mendapat analisa tajam dari Pengurus BADKO HMI Sumbagsel, Dandi Nazor SE yang juga CEO Sinergi Institute.
“Kita selalu berikhtiar untuk objektif dan berimbang dalam mencermati setiap berita yang berseliweran mengenai ramainya kasus pelecehan seksual bahkan hingga pemerkosaan ini. Sangat ekstrim dan memilukan umat hal ini.” Ujarnya…
Untuk diketahui sebelumnya, seorang kiai berinisial FZ di Pondok Pesantren Lembah Arafah di Lumajang, Jawa Timur diduga telah tega mencabuli 3 santriwatinya.
Lalu, 11 santriwati di bawah umur menjadi korban pencabulan dan pemerkosaan yang dilakukan oleh 3 ustadz dan 1 kakak kelas di Pondok Pesantren Istana Yatim Ridayul Jannah yang berlokasi di Beji Timur, Depok.
Kemudian, Seorang pimpinan PonPes berinisial DAN (45) di Kabupaten Subang dengan tega memperkosa santriwatinya yang masih berusia 15 tahun. Orang tua korban pertama kali membuat laporan ke polisi pada 23 Mei 2022.
Dilanjutkan yang paling viral sampai kemana-mana, Herry Wirawan (37) pengurus sekaligus pemilik Pondok Tahfiz Al-Ikhlas, Yayasan Manarul Huda Antapani dan Madani Boarding School Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat, memperkosa belasan santriwatinya di berbagai tempat, salah satunya Pesantren Tahfidz Madani, rumah tempat korban belajar dan menghapal Al-Qur’an.
Terbaru sampai viral juga Kapolres Jombang AKBP Moh Nurhidayat menemui KH. Muhammad Mukhtar Mukhti pimpinan Pondok Shiddiqiyah atas kasus anaknya Mas Bechi atau Mochamad Subchi Azal Tsani (42) masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) setelah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pencabulan dan pemerkosaan terhadap santriwati di Pesantren Majma´al Bahrain Shiddiqiyah.
Dandi Nazor yang juga aktif di dunia Kepenulisan dan Kepemudaan mengajak agar para santri dan anak-anak muda agar berani speak up terhadap kejadian yang menimpanya, apalagi sudah menyangkut harga diri dan masa depan. Meskipun pastinya akan banyak impeachment, intimidasi dan ancaman. Soal fitnah atau fakta, biarkan pihak berwenang dan masyarakat sendiri yang menyimpulkan sesuai hasil kajian, bukti, dan ‘berani speak up’ nya itu tadi.
Semoga para generasi bangsa, bisa melindungi diri dan lingkungan pendidikan semakin bersahabat dengan para tunas bangsa.
(Danaz)












