PERINDO DALAM WAJAH BARU


Palembang, Coganews.co.id,- Pegiat The RAWAS Institute (Lembaga Riset Apresiasi Warga Dan Sosial) Yayasan Pataka.

Keseriusan semua Partai Politik (Parpol) menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 yang terhitung tidak terlalu lama lagi sudah banyak tampak. Begitu halnya Partai Persatuan Indonesia (PERINDO) pimpinan oleh Harry Tanoesoedibjo, pengusaha berkaliber Internasional. Dari perubahan logo partai yang cukup simpel, elegan gampang dipandang mata dan mudah diingat. Tersirat komunikasi politik melalui logo partai cepat mengena di hati para konstituen. Harapannya bermuara untuk mendulang suara.

Bukan itu saja. Tokoh Agama potensial juga direkrut untuk memperkuatkan partai. Baik untuk penguatan partai secara internal maupun eksternal, komunikasi politik. Sebut saja, Tuan Guru Bajang (TGB) DR. Muhammad Zainul Majdi, MA. Dan Ketua PB NU (Nahdlatul Ulama) KH. Syaid Agil Siradj.

Sedikit tentang TGB. M. Zainul Majdi. Beliau ini mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dua periode (tahun 2008-2013 / 2013-2018) dan pertama kali orang Sasak menduduki jabatan orang nomor satu di Bumi Gogo Rancah (Nama ini sangat populer di era Gubernur Gatot Suherman tahun 1983 an yang berhasil menyulapkan Lombok Tengah gersang bisa berswasembada beras). Artinya, TGB Zainul Majdi punya kecerdasan dan kemampuan luar biasa, sangat mumpuni. Belum lagi pengalamannya di dunia Partai Politik. Pernah Anggota DPR RI dari Partai Bulan Bintang (PBB. Partai Yusril Ihza Mahendra) dan pernah memegang Partai Demokrat di wilayahnya.

Dalam Silsilah Biologis, TGB. Muhammad Zainul Majdi keturunan atau cucu TGKH. Zainuddin Abdul Madjid, seorang Sufi dan Waliyullah pendiri Nahdlatul Wathan (NW) organisasi keagamaan yang paling besar di pulau Lombok. Pengikut dan panatisme masyarakat (umat) cukup besar. Pernah suatu ketika sang ulama besar ini sedang ceramah tiba-tiba diguyur hujan besar. Tak ada jema’ah bergeming meninggalkan arena Tabligh Akbar di lapangan terbuka itu. Begitu kharismatik di kalangan pengikutnya.

READ  PLN Berjibaku dalam Penormalan Kelistrikan di Desa Sungai Semut Makarti dan Karang Anyar Sungsang

Setiap pengajian atau Yasinan, termasuk malam Jum’at. Pasti tidak luput membaca Hizif (do’a-do’a) karya TGKH. Zainuddin Abdul Madjid ini. Serasa bukan pengikut Nahdlatul Wathan jika Hizif ini tidak dibaca.

Begitu juga Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB. NU) yang juga punya kharisma memegang organisasi Keagamaan terbesar di Indonesia. Memang warga NU sudah interen dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), suara NU sudah otomatis ke partai Muhaimin Iskandar, meskipun tidak semuanya. Ya paling tidak kehadiran KH. Syaid Agil Siradj dalam partai PERINDO bisalah menjadi magnet menarik limpahan suara PKB. Juga yang tidak kalah pentingnya, PERINDO tidak menjadi sasaran politik identitas, dimana orang hanya melihat figur Ketua Umumnya. Tanpa melihat secara komprehensif.

Dua tokoh potensial tersebut, mungkin sudah cukup sebagai vote Getter untuk menarik dan meningkatkan elektabilitas partai PERINDO lolos ambang batas parlemen (Parlemen Threshold). Tinggal lagi bagaimana mendudukan para calon legislatif (Caleg) terutama tingkat pusat (DPR RI) dari para caleg potensial konstituen dan paham permainan lapangan (ini harus punya pengalaman dan memiliki telenta tersendiri). Apalagi calon yang ingin dijadikan ( ini sudah jamak, hampir terjadi di semua parpol).

READ  Layanan LRT Palembang Dipuji Menhub RI, Jadi Kota Percontohan Transportasi Indonesia

Fokusnya juga harus kuat di Badan Pemenangan Pemilunya. Bagian inilah yang harus merancang strategi dari isu yang diusung (ingat isu nasional tidak cukup, harus ada isu lokal yang sangat berkaitan dengan kebutuhan masyarakat setempat). Jika dibagi, ada masa pengkondisian, masa kampanye, ada masa pencoblosan dan ada masa Pasca Pemilihan (masa ini cukup rawan hilang suara atau transaksi suara di lapangan).

Sebetulnya perolehan suara pada pemilu 2019 lalu, masuk dalam prediksi dan hasil survey Denny JA, bahwa partai ini sebagai partai baru satu-satunya bisa lolos PT (4%). PERINDO sudah masuk kehati masyarakat. Baik melalui media sering ditayang dan dikumandangkan kegiatan bantuan Gerobak UMKM, Perbantuan jasa mobil ambulans serta lagu Mars Partai (Mungkin anak-anak lebih hapal lagu mars ini ketimbang lagu wajib kebangsaan). Angkat jempol kepiawaian ketua umumnya.

Mau masuk pada masa akhir perhitungan suara. Partai PERINDO berkutat di angka 3,8%, stagnan di angka ini. Di lapangan, suara masuk ke tingkat kabupaten kota. Di sini terjadi banyak suara hilang. Lantaran orang menganggap seolah suara tak bertuan ( partai sudah dipastikan tidak masuk PT). Di sini tidak ada pengamanan ekstra dari ujung tombak Badan Pemenangan Pemilu Partai. Sangat disayangkan.

Catatan memasuki usia partai PERINDO 8 tahun. Memang partai relatif muda dan baru pengalaman sekali pemilu. Ketika 2019 kedua tokoh agama potensial tersebut belum bergabung. Partai PERINDO sudah bisa meraup suara 3,8%. Logikanya di pemilu 2024 bisa lolos PT. Semoga.( Azkar )