PENGAJIAN RUTIN IPHI TANGSEL. Bahas Kitab Syekh Abdul Shomad Al Falimbani

Coganews.co.id. Tangsel,- Sudah satu bulan berjalan Pengajian Rutin Ikatan Persaudaraan Haji (IPHI) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) membahas Kitab Bidayatu Assalikin karya Ulama Besar Syekh Abdul Shomad Al Falimbani yang mengupas Aqidah Ahlussunah Waljama’ah. Pelaksanaannya diadakan setiap Senin malam sudah sholat Isya atau Maghrib, tergantung kondisi.

H. Aidil Adha ketua IPHI Tangsel, pada pengajian kemarin, Senin, 06/03/2022 di Gedung Lembaga Keagamaan, Pamulang Tangerang Selatan, Mengatakan, Alhamdulillah kita sudah berumur lanjut masih mau mengaji kitab untuk menambah dan memperkokohkan Aqidah kita. Begitu juga anak-anak muda yang mumpuni di bidang ilmu agamanya mau berbagi kepada yang tua-tua. “Semuanya ini, Allah SWT menggerakannya. Berarti kita masih dalam koridor mendapat hidayah Allah”, katanya dengan khidmat.

READ  Bikin Bangga, Perolehan Medali Muba Masih On Track

Tutor atau pengajar kitab kuning ini, Muhammad Daud Bengkulah dosen Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) Jakarta dan jebolan pesantren Seribandung, Sumsel. “Isi kitab ini mengajarkan Aqidah Ahlussunah Waljama’ah. Kekhawatiran Syekh Abdul Shomad, tanpa panduan beribadah kepada Allah dikhawatirkan, manusia begitu yakin ibadahnya diterima oleh Allah SWT pada sa’at akhir hayatnya, ternyata ibadah yang ia lakukan selama hidupnya tertolak. Lantaran tidak sesuai dengan kehendak Allah “, kata ustadz Daud.

Pengajian ini cukup antusias diikuti para pengurus IPHI Tangsel, selain menerima materi yang dipandu tutor, juga terbuka ruang diskusi lebih memperluaskan pengetahuan dan pemahaman. Seperti, kelak aja jalan Shirothol Mustaqim, jalan yang lurus. Titian sehalus rambut dibelah tujuh. Ada interpretasi secara tekstual dan ada interpretasi yang bersifat majaz, tersirat.

READ  Kejar Mimpi Palembang Hadirkan Ecoenzympreneur: Literasi Finansial dari Food Waste untuk Mengurangi Limbah Makanan & Meningkatkan Finansial

Latarbelakang peserta sangat heterogen, ada yang Ahli bahasa Arab, Hafidz, jebolan pesantren, UIN dan ada yang masih dari bawah. Perbedaan latarbelakang pendidikan dan pengalaman tak menjadi penghalang dalam pengajian dan diskusinya.

Setelah pengajian, sudah dibiasakan makan malam bersama. “Niatkan makan ini biar kita kuat buat beribadah kepada Allah SWT. Supaya makan termasuk ibadah”, kata ustadz Daud disela makan bersama.
(H. Azkar Badri)