Egoisme Antar Perempuan : Meta Firdayanti Ketua Umum Kohati Cabang Palembang

Coganews.co.id. Palembang,- Hidup sebagai seorang perempuan tidak selalu mudah, sebagian perempuan berjuang untuk mengambil peran agar mendapat suara demi sebuah kursi lalu mendesak kaum laki-laki untuk memahaminya namun sisi kelamnya perempuan itu sendiri yang membuat sesama perempuan terpuruk dan terbelakang. Tidak sedikit perempuan yang meminta dukungan atau sekadar cerita di media sosial dan mendapatkan hujatan. Apapun masalahnya orang memang sering menjatuhkan sesama perempuan dan menganggap dirinya paling benar.

Sebagian dari kita pernah mendengar ungkapan atau melihat fenomena bahwa ‘musuh terbesar perempuan adalah perempuan itu sendiri’. Ya, tidak bisa dipungkiri, terkadang sesama perempuan bisa saling menjatuhkan, mengomentari satu sama lain dengan pedas, bahkan menjelek-jelekkan hingga memfitnah. Tentu saja pernyataan tersebut akan memicu pro dan kontra. Namun, ketika membahas sebuah hubungan ideal antar perempuan, maka mayoritas akan menyatakan pentingnya bersolidatitas tanpa menjatuhkan yang lainnya. Menjatuhkan sesama perempuan membuat perempuan yang dijatuhkan bisa merasa rendah bila terus menerima perilaku buruk dari sesama perempuan.

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan jurnal Development and Learning in Organisations, sebesar 70% pekerja perempuan merasa dirundungi oleh perempuan lain di kantor mereka, dan akibatnya perkembangan karier mereka jalan di tempat. Biasanya, menjatuhkan sesama perempuan ini disebabkan karena kita pada dasarnya ingin sekali menjadi nomer satu, sehingga kita harus menyeret perempuan lainnya untuk turun ke bawah kita. Tanpa kita sadari banyak sekali tuntutan yang kita minta terhadap laki-laki tapi dari sesama kaum perempuan kita tidak saling merangkul bahkan sering menjatuhkan sesama.

Feminisme bukan hanya tentang melawan konstruksi budaya Patriarki. Feminisme, bagi saya, adalah tentang memberdayakan perempuan. Kita hidup di dunia laki-laki, tapi perempuan masih saling membunuh sesamanya. Ada berapa banyak perempuan yang saling membandingkan diri satu sama lain? Atau menganggap perempuan A lebih baik dari perempuan B. Ikut-ikutan menentukan standar peran perempuan. Mengkritik sikap dan keputusan perempuan lain. Berapa banyak perdebatan antara siapa yang terbaik antara ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Saling pamer mana anak ASI eksklusif dan anak susu botolan. Saling membandingkan perempuan beralis sulam tidak lebih baik dari alis alamiah. Saling nyinyir mana yang pakai Birkin asli atau KW super. Saling sikut merebutkan posisi di pekerjaan. Juga saling sinis soal pilihan pakaian yang dikenakan.

Hal ini erat hubungannya dalam konteks kehidupan sehari-hari, tanpa disadari, sesama perempuan justru membentuk sebuah ‘kebiasaan’ tersirat yang menjatuhkan sesamanya. Bisa terlihat dari kebiasaan bergunjing tentang seseorang yang tidak dikenal, ejekan yang terselubung lewat candaan, menghakimi tanpa mengetahui permasalahan, hingga membuat perempuan ragu agar membatasi potensinya. Kebiasaan ini bisa menjadi sesuatu yang berbahaya dan memiliki dampak negatif, untuk itu perlu mengubahnya menjadi hal positif, yaitu saling mendukung sesama perempuan. Prinsipnya semua harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Saling bergandengan tangan, menguatkan bukan saling menjatuhkan.

READ  Wakil Bupati Rohman Sambut Tim Entry Meeting BPK Perwakilan Provinsi

Perempuan dapat berkembang untuk menjadi kuat dengan dukungan sesama perempuan. Yang perlu di ingat bahwa dengan mendukung perempuan yang berhasil bukan berarti mengakui kegagalan kita. Menjatuhkan sesama perempuan tidak mendapatkan apa-apa jika itu terus berlangsung. Membangun lingkaran kekuatan di antara perempuan juga perlu dilakukan sebagai wadah berbagi segala macam perasaan, ide, kreativitas sesama perempuan. Ubahlah sikap menyalahkan sesama perempuan, namun justru yang harus dipupuk adalah rasa saling menguatkan. Dan terpenting, menghentikan perilaku yang menciptakan keraguan, yang akan menghalangi dan membatasi potensi perempuan.

Mari jadikan Women Support Women menjadi aksi nyata, bukan hanya jargon semata !Hidup sebagai seorang perempuan tidak selalu mudah, sebagian perempuan berjuang untuk mengambil peran agar mendapat suara demi sebuah kursi lalu mendesak kaum laki-laki untuk memahaminya namun sisi kelamnya perempuan itu sendiri yang membuat sesama perempuan terpuruk dan terbelakang.
Tidak sedikit perempuan yang meminta dukungan atau sekadar cerita di media sosial dan mendapatkan hujatan. Apapun masalahnya orang memang sering menjatuhkan sesama perempuan dan menganggap dirinya paling benar.


Sebagian dari kita pernah mendengar ungkapan atau melihat fenomena bahwa ‘musuh terbesar perempuan adalah perempuan itu sendiri’. Ya, tidak bisa dipungkiri, terkadang sesama perempuan bisa saling menjatuhkan, mengomentari satu sama lain dengan pedas, bahkan menjelek-jelekkan hingga memfitnah.
Tentu saja pernyataan tersebut akan memicu pro dan kontra. Namun, ketika membahas sebuah hubungan ideal antar perempuan, maka mayoritas akan menyatakan pentingnya bersolidatitas tanpa menjatuhkan yang lainnya. Menjatuhkan sesama perempuan membuat perempuan yang dijatuhkan bisa merasa rendah bila terus menerima perilaku buruk dari sesama perempuan.


Menurut sebuah studi yang dipublikasikan jurnal Development and Learning in Organisations, sebesar 70% pekerja perempuan merasa dirundungi oleh perempuan lain di kantor mereka, dan akibatnya perkembangan karier mereka jalan di tempat.
Biasanya, menjatuhkan sesama perempuan ini disebabkan karena kita pada dasarnya ingin sekali menjadi nomer satu, sehingga kita harus menyeret perempuan lainnya untuk turun ke bawah kita.
Tanpa kita sadari banyak sekali tuntutan yang kita minta terhadap laki-laki tapi dari sesama kaum perempuan kita tidak saling merangkul bahkan sering menjatuhkan sesama.
Feminisme bukan hanya tentang melawan konstruksi budaya Patriarki. Feminisme, bagi saya, adalah tentang memberdayakan perempuan. Kita hidup di dunia laki-laki, tapi perempuan masih saling membunuh sesamanya. Ada berapa banyak perempuan yang saling membandingkan diri satu sama lain? Atau menganggap perempuan A lebih baik dari perempuan B. Ikut-ikutan menentukan standar peran perempuan. Mengkritik sikap dan keputusan perempuan lain. Berapa banyak perdebatan antara siapa yang terbaik antara ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Saling pamer mana anak ASI eksklusif dan anak susu botolan. Saling membandingkan perempuan beralis sulam tidak lebih baik dari alis alamiah. Saling nyinyir mana yang pakai Birkin asli atau KW super. Saling sikut merebutkan posisi di pekerjaan. Juga saling sinis soal pilihan pakaian yang dikenakan.

READ  Peduli Palestina Dengan Menyerahkan Donasi Melalui Lembaga Filantrophy Rumah Zakat


Hal ini erat hubungannya dalam konteks kehidupan sehari-hari, tanpa disadari, sesama perempuan justru membentuk sebuah ‘kebiasaan’ tersirat yang menjatuhkan sesamanya.
Bisa terlihat dari kebiasaan bergunjing tentang seseorang yang tidak dikenal, ejekan yang terselubung lewat candaan, menghakimi tanpa mengetahui permasalahan, hingga membuat perempuan ragu agar membatasi potensinya. Kebiasaan ini bisa menjadi sesuatu yang berbahaya dan memiliki dampak negatif, untuk itu perlu mengubahnya menjadi hal positif, yaitu saling mendukung sesama perempuan.
Prinsipnya semua harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Saling bergandengan tangan, menguatkan bukan saling menjatuhkan. Perempuan dapat berkembang untuk menjadi kuat dengan dukungan sesama perempuan. Yang perlu di ingat bahwa dengan mendukung perempuan yang berhasil bukan berarti mengakui kegagalan kita. Menjatuhkan sesama perempuan tidak mendapatkan apa-apa jika itu terus berlangsung.


Membangun lingkaran kekuatan di antara perempuan juga perlu dilakukan sebagai wadah berbagi segala macam perasaan, ide, kreativitas sesama perempuan.
Ubahlah sikap menyalahkan sesama perempuan, namun justru yang harus dipupuk adalah rasa saling menguatkan. Dan terpenting, menghentikan perilaku yang menciptakan keraguan, yang akan menghalangi dan membatasi potensi perempuan.

Mari jadikan Women Support Women menjadi aksi nyata, bukan hanya jargon semata !