Coganews.co.id. Palembang,- Siapa yang tidak tahu karakteristik netizen Indonesia. Salah satu netizen yang populer dengan sebutan tidak sopan se Asia Tenggara dibuktikan dalam riset micro Soft pada tahun 2020.
Salah satu pengguna media sosial terbanyak sebesar 77% dicatat pada tahun 2023. Media sosial maupun internet saat ini sudah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia,
khususnya generasi muda yang kesehariannya selalu berdampingan dengan internet.
Fakta yang lebih mengejutkan netizen Indonesia selain bar- bar dalam media Sosial. Netizen
Indonesia dibilang sangat berani dalam menyuarakan “Free Palestine” di segala media sosial yang ada. Netizen Indonesia selalu menjadi posisi pertama di setiap berita viral di mana pun
berada. Dan juga netizen Indonesia salah satu netizen yang sangat ahli dalam mencari data-data maupun aib seseorang.
Bukti pertama dalam SEA Games 2021 saat Indonesia melawan Thailand. Bek timnas Thailand
Jonathan Khomdee kehilangan dua akun instagramnya dikarenakan pemain timnas Thailand tersebut dianggap menjadi provokator yang membuat tiga pemain Indonesia terkena kartu merah dan harus keluar dari lapangan. Saat itu timnas Thailand memenangkan pertandingan.
Selesai pertandingan, netizen Indonesia langsung menyerang akun salah satu pemain dari
timnas Thailand tersebut.
Kedua, netizen menyerang aplikasi ResStock. Netizen Indonesia menyerbu akun media sosial ReStock.id terkait aksi “koboi Fortuner” di Duren Sawit, Jakarta Timur. Mereka marah-marah
dan mengecam tindakan buruk dari CEO ReStock.id. Tetapi, yang netizen serang salah sasaran.
Yakni aplikasi perhitungan untuk kebutuhan belanja milik developer dari luar negara Indonesia,
Alhasil, aplikasi ReStock salah sasaran dan kini penuh komentar negatif dan rating bintang 1.
Indonesia dengan pengaruh yang sangat besar didalam media sosial juga memiliki kelemahan
disisi literasi digital dimana netizen Indonesia terbilang cukup lemah. Dengan kelemahan ini
dengan mudahnya informasi serta penyebaran berita-berita hoaks masuk kedalamnya. Salah
satu contohnya pada tahun 2021 muncul anggapan bahwa babi ngepet itu nyata. Dengan
postingan dari seorang pelaku menyebarkan isu babi ngepet muncul didaerah Bedahan,
Sawangan, Depok.
Hal ini disebarkan untuk digunakan sebagai solusi warga yang selalu mengeluh kehilangan
uang senilai 1 juta sampai 2 juta rupiah. Pelaku pembuatan berita hoaks merekayasa bahwa untuk menangkap babi ngepet kita harus telanjang, serta ia juga membuat fakta lainnya bahwa
ukuran babi ngepet semakin mengecil dengan sendirinya. Hal ini pun terungkap dan ia pun
dihukum selama 10 tahun penjara.
Dapat kita lihat bahwa betapa mirisnya literasi digital netizen Indonesia dalam memilih dan
mempercayai berita. Hal ini menjadi salah satu faktor penting bagi pemerintah Indonesia untuk
memperkuat literasi digital netizen Indonesia agar tidak mudah percaya akan berita hoaks dan
dapat memilih berita maupun informasi yang fakta maupun yang hoaks. Pemerintah dapat
menerapkan cara kolaborasi antara pemerintah, platform digital dan masyarakat Indonesia
guna menciptakan lingkungan digital yang aman, sehat dan mendidik bagi netizen Indonesia.
Dengan kebebasan berekspresi di platform daring menjadi dua sisi pedang yang perlu
diperhatikan. Sementara netizen dapat menjadi agen perubahan positif dengan menyebarkan
informasi bermanfaat, mendukung gerakan sosial, dan menggalang solidaritas, mereka juga
memiliki tanggung jawab untuk menggunakan platform digital dengan penuh tanggung jawab.
Kita perlu menyaring apa yang kita dapat dan yang akan kita sampaikan agar tidak
mendapatkan berita hoaks dan menyebarkan berita hoaks kepada orang lain.
Budaya kita terkenal dengan tutur kata yang halus dan sikap lemah lembut, namun hal tersebut
cenderung memudar. Hal ini dapat dilihat dengan perilaku kasar dan kata-kata yang kasar, dan
sering mengumpat. Selain itu bahasa asing sudah merajalela menggantikan bahasa Indonesia.
Bahkan tidak jarang anak-anak Indonesia yang tidak lancar berbahasa Indonesia sedangkan
bahasa asingnya sangat lancar. Bahkan bahasa tersebut dijadikan bahasa keseharian mereka.
Dibalik upaya pemerintah dalam membangun masyarakat yang sehat dalam bermedia sosial,
peran individu pun menjadi salah satu faktor penting guna mengedepankan sikap menghargai
perbedaan pendapat, memiliki sifat empati, serta melakukan verifikasi sebelum menyebarkan
informasi. Dengan kesadaran diri dapat menciptakan lingkungan daring yang lebih sehat, dan beretika.(dafi/Rilis)











