Coganews.co.id. Artikel ini tidak sedang mengulas tembok ratapan yang dianggap sakral oleh suatu kaum Yahudi, meski mungkin terdapat kemiripan makna, namun tembok yang diulas pada artikel kali ini dalam pembahasan yang berbeda.
Tembok, pada fungsinya adalah bermanfaat sebagai dinding, selain untuk menahan tiupan angin dan berbagai kemungkinan gangguan hewan khususnya yang dapat mengancam kapan saja, juga sebagai penutup berbagai penghuni di baliknya, baik berbagai kegiatan positif dalam rumah sampai berbagai kemungkinan aktivitas lainnya.
Adapun muka tembok seringkali dikaitkan dengan sikap tidak tahu malu. Muka tembok merupakan pengibaratan terhadap seseorang yang mengambil sikap di luar kapasitas atau kapabilitas serta melampaui batas. Maka muncullah kenyataan yang tidak biasa.
Sikap yang diambil si muka tembok, bukan karena dilandasi kebenaran melainkan hawa nafsu dan bisikan setan yang diperturutkan. Tidak ada bimbingan selain diacuhkan dan senantiasa mengabaikan hawa nafsu dengan terus-terusan bertindak sesuka hati dan bermuka tembok.
Ya, sikap ini merupakan (maaf) bentuk kekurangajaran dan jauh dari kebijaksanaan. Sikap bermuka tembok adalah bentuk dari kurang sadar dan kurang mengenal siapa dirinya lingkungannya serta dalam menetapkan dalam hati siapa musuhnya.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “(apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri karena takut pada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran” (az-Zumar: 9).
Selanjutnya sikap semaunya dari seorang muka tembok tersebut dapat berpengaruh bukan hanya ketidaknyamanan lingkungan sekitar, namun juga akan mengikis adat kebiasaan suatu masyarakat dalam jangkauan lebih luar dari lingkungan. Lebih jauh, sikap demikian secara berkelanjutan akan menimbulkan premanisme. Bukan rahasia, bahwa sikap premanisme hanya akan membawa kepada jurang kekacauan di tengah-tengah kehidupan bersosial-masyarakat.
Maka, ketika teguran atau peringatan sudah tidak berlaku bagi seorang atau beberapa orang muka tembok, maka tunggulah saatnya ancaman kehancuran. Terlebih kesadaran di masyarakat sudah tidak ada, bahkan cenderung membenarkan sikap muka tembok dan menjadi pengikut setia, maka kemungkinan terburuk berupa ancaman yang diberikan Allah langsung dan ini adalah suatu bahaya dan kebinasaan yang sesungguhnya.
Kembali kepada tembok, apa hubungannya dengan istilah muka tembok? Meski terkesan mengandung makna kiasan dan dalam, penulis hanya akan menjawab dengan sebuah dalil sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an Surat al-Hasyr Ayat 14 yang sekaligus dijadikan penulis sebagai penutup ulasan kali ini, berikut lafalnya.
“Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antar sesama mereka sangat hebat. Kamu mengira bahwa mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah belah. Hal itu disebabkan mereka kaum yang tidak berakal. Artikel :Nazwar, S. Fil. I., M. Phil Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera( Rilis)











