Mudrik Qori (MQ) Dan Kiprahnya Dalam Bayang-Bayang Kemerdekaan RI

Coga News0 Dilihat

*

Manusia lahir ke dunia dalam keadaan bebas dan merdeka, bebas pula menangis dan tersenyum bahkan bebas berkehendak (free will) dan bebas nilai dalam istilah Japan disebut sebagai “muro no kachi”.

Kebebasan dalam berkehendak , bermanuver atau berkelok-kelok merupakan fitrah suci yang bersih tanpa beban sebagai anugerah Allah Subhanahu Wata’ala. Dalam pandangan Islam Ilmu tidak bebas nilai ia dilandasi oleh hukum normatif transendental. Nilai yang menjadi dasar barometer dalam penilaian baik buruknya segala sesuatu dapat dilihat dari nilai etika (agama) dan estetika.

Dalam bulan Agustus, 14,1961 lahir seorang anak lelaki mungil, lucu tentu disambut riang gembira oleh kedua ortu dan handai taulan. Tangis bayi ini dengan suara begitu membahana, ternyata dikemudian hari kelak menghantarnya untuk mencintai Qur’an dan menjadi Qori.

Bayi itu kini sudah besar, besar pengaruhnya, besar wibawanya besar pula garapan dan tanggung jawabnya. Karena itu telah menjadi pilihan hidup, meski sarat beban tapi dihadapi dengan tenang dan sabar pada akhirnya “beban menjadi rahmat ( Blessing in disguise) yang berkah.

Selepas kuliah S1 Mudrik Qori yang sekarang sudah sangat layak dan pantas disebut sebagai seorang Syeikh, Kiyai, Ustadz , Mama atau Ajengan ini , kala itu masih labil dalam meniti jalur pengabdian dan masih meraba-raba dalam kegelapan dalam ketidak pastian. Masa-masa selanjutnya, terkesan beliau mendapat bisikan kalbu (ghaib). Signal kuat itu isyarat sang pendekar kelana kudu turun gunung

READ  Bupati Lantik Penjabat PJ Sekda Kabupaten Banyuasin

Mudrik Qori (MQ) diharap dan ditunggu kepulangan nya, kehadirannya untuk diberi amanah besar, MQ jika diibaratkan dengan 12 bersaudara Bani Ya’qub beliau adalah Nabi Yusuf AS -,nya yang kemudian mampu dan bisa mencerahkan dan membesarkan hati atas kiprahnya mengurus Al-Ittifaqiah dengan fokus serius dan profesional. Lambat laun kebesaran Ittifaqiah dibawah asuhan MQ yang bertangan dingin dan sangat gemar mendengar dan suka menerima masukan dari mana pun ia datang, kini Ittifaqiah menjadi “buah bibir” kebanggaan kita bersama, masyarakat dan daerah bahkan di level nasional.

Misi pulang kampungnya
tidak sia-sia. membesarkan hati dan mampu menengahi masalah-masalah yang menyembul. sejak puluhan tahun silam sebuah Pondok Pesantren yang tertua khususnya di Sumbagsel, telah mengeluarkan (alumni) ribuan santri dari Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir yang turut mewarnai nilai-nilai kehidupan nasyarakat dalam pengamalan kehidupan beragama.

READ  Sambangi Forkopimda, Tomas Hingga Pangkalan Tukang Ojek di Sekayu

Jika saja beliau MQ tergoda untuk menjadi ambtenar (PNS/ANS) seperti mayoritas para mahasiswa perantauan dari Sumsel di Jakarta dan tanah jawa, bercita-cita selalu mendamba untuk menjadi Pegawai Negeri, karyawan atau politisi dan profesi lainnya.

Boleh jadi kondisi seperti tampak terlihat sekarang ini, tidak akan pernah terjadi, seandainya MQ tetap berjibaku di Jakarta, Karena Pemimpin Keagamaan (Ponpes) jauh lebih berat dari tugas seorang Gubernur dan sejenisnya. Sudah sangat pas dan tepat MQ pulang kampung dengan pengalaman sebagai aktivis baik di internal kampus dan di luar kampus turut membekali MQ dalam menakhodai Al-Ittifaqiah.

Dalam konteks HUT RI Kemerdekaan ke 79, secara kebetulan pula beliau ber ULTAH (milad) hari ini 14 Agustus yang ke 61, menjadi lebih monumental dan sakral, sebuah anugerah yang luarbiasa.

Saya menulis ini bukan pada kapasitas yang tepat tapi sebatas bersimpati dengan adinda MQ yang super. Semoga selalu sehat panjang umur dan sukses selalu. Barakallah .

Wallahu A’lam,
C140824 , Tabik 🙏