Kritik dan Revitalisasi Sekolah: Perspektif Roem Topatimasang dan Ivan Illich

_Refleksi 7 hari jelang HUT ke-80 Kemerdekaan RI_ MS.Tjik.NG

 

*Bismillahirrahmanirrahim*

_Pendahuluan_

Sekolah, sejak era modern, dianggap sebagai pilar utama dalam membentuk generasi penerus. Ia tidak hanya berperan dalam transmisi pengetahuan, tetapi juga dalam membentuk perilaku sosial, moral, dan keterampilan hidup.

Namun, gagasan tersebut tidak pernah lepas dari kritik. Dua tokoh yang cukup keras dalam mengkritik institusi sekolah adalah Roem Topatimasang—penulis Sekolah Itu Candu—dan Ivan Illich—pengarang Deschooling Society. Meski berasal dari latar belakang sosial dan geografis berbeda, keduanya memiliki kesamaan pandangan: sekolah bukanlah satu-satunya sarana pendidikan, dan dalam banyak hal, ia justru bisa menjadi alat reproduksi ketimpangan sosial.

_Sekolah Menurut Roem Topatimasang_

Dalam bukunya “Sekolah Itu Candu” (2004), Roem Topatimasang menyoroti bahwa sekolah di Indonesia cenderung menjadi “pabrik” yang menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar, bukan membentuk manusia merdeka. Ia mengungkap beberapa kritik utama:

1.Indoktrinasi Sistemik
Sekolah kerap mengajarkan kepatuhan, bukan kemandirian berpikir.

Siswa diarahkan untuk menerima pengetahuan yang sudah jadi, bukan mengembangkan pertanyaan kritis.

2.Seleksi Sosial

Pendidikan formal menjadi ajang seleksi yang menciptakan hierarki: siapa yang “pintar” dan siapa yang “gagal,” seringkali berdasarkan standar sempit yang bias kelas.

3.Pemutusan dari Realitas Lokal

Kurikulum sering kali diimpor atau seragam secara nasional tanpa mempertimbangkan keragaman budaya dan kebutuhan lokal.

Roem menggunakan metafora “candu” untuk menggambarkan bagaimana masyarakat menjadi ketergantungan pada sekolah, seolah-olah kesuksesan hidup hanya dapat diraih melalui jalur ini.

READ  Konsumsi Listrik Kendaraan EV di SPKLU Terus Cetak Rekor, Dirut PLN: Meningkat 500% Sepanjang Nataru

_Ivan Illich dan Deschooling Society_

Ivan Illich dalam karyanya Deschooling Society (1971) mengajukan kritik radikal: “kita perlu membebaskan masyarakat dari sekolah”. Menurut Illich, sekolah telah menjadi institusi monopoli dalam memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan. Kritiknya meliputi:

1. Monopoli Pendidikan
Sekolah memonopoli definisi belajar, sehingga belajar di luar institusi dianggap kurang sah.

2 .Pemisahan dari Kehidupan Nyata
Proses belajar di sekolah seringkali terpisah dari konteks nyata kehidupan, menjadikannya tidak relevan bagi siswa.

3.Penciptaan Ketergantungan
Masyarakat dibuat percaya bahwa tanpa ijazah, seseorang tidak memiliki nilai di mata sosial dan ekonomi.

Illich menawarkan konsep “learning webs” atau jaringan pembelajaran, di mana pengetahuan dapat diakses secara terbuka dan organik melalui komunitas, teknologi, dan pengalaman langsung.

_Persinggungan Gagasan Roem dan Illich_

Meski lahir di konteks berbeda Indonesia pascareformasi dan dunia Barat pasca-1960-an—gagasan keduanya saling melengkapi:

Kritik terhadap Standarisasi
Keduanya menolak gagasan bahwa satu kurikulum nasional atau global dapat berlaku untuk semua.

Pendidikan sebagai Proses Sosial Mereka memandang pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses sosial yang terkait erat dengan budaya, ekonomi, dan politik.

Kemandirian Belajar
Baik Roem maupun Illich menekankan pentingnya otonomi belajar, di mana individu memilih jalannya sendiri dalam mencari pengetahuan.

READ  Jaga Kondusifitas Pemuda Lintas Agama Sumatera Selatan PELITA SUMSEL Jaga Puluhan Gereja di Sumatera Selatan

-888-

_Revitalisasi Sekolah_

Daripada menghapus sekolah sepenuhnya, kritik ini dapat dijadikan landasan untuk revitalisasi pendidikan di Indonesia:

1.Desentralisasi Kurikulum

Memberi ruang bagi sekolah untuk merancang kurikulum sesuai kebutuhan lokal.

2.Integrasi dengan Kehidupan Nyata

Pembelajaran berbasis proyek, kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat dapat menjembatani jarak antara teori dan praktik.

3.Mengakui Pendidikan Alternatif

Menghargai jalur pendidikan non-formal dan informal sebagai bagian sah dari proses belajar.

4.Sekolah sebagai Pusat Komunitas

Sekolah bisa menjadi ruang kolaborasi warga, bukan sekadar ruang kelas.

_Kesimpulan_

Kritik dari Roem Topatimasang dan Ivan Illich mengingatkan kita bahwa pendidikan bukanlah monopoli sekolah. Untuk menjawab tantangan abad ke-21, kita membutuhkan paradigma baru yang memandang belajar sebagai proses seumur hidup, terintegrasi dengan kehidupan, dan terbuka bagi semua.

Revitalisasi sekolah harus berangkat dari kesadaran ini, agar sekolah tidak lagi menjadi “candu” yang memabukkan, tetapi menjadi ruang pembebasan yang menghidupkan.

والله اعلم بالصواب

C08082025, Tabik🙏

Referensi

Illich, I. (1971). Deschooling Society. New York: Harper & Row.

Topatimasang, R. (2004). Sekolah Itu Candu. Yogyakarta: Insist Press.

Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.

Dewey, J. (1916). Democracy and Education. New York: Macmillan.