*Bismillahirrahmanirrahim*
Abstrak
Pertanyaan nyeleneh dan tidak logik acapkali terdengar seperti contoh tajuk di atas. Maka melalui momentum HUT ke 80 kemerdekaan RI, Saya coba mengupas sekenanya.
Indonesia dikenal sebagai negeri yang sarat tradisi mistik. Dukun, santet, teluh, dan jimat adalah bagian dari khazanah budaya Nusantara. Pertanyaan populer muncul: mengapa, jika bangsa ini memiliki “senjata gaib”, para penjajah Belanda tidak disantet agar cepat hengkang, sehingga kemerdekaan bisa dicapai lebih dini? Artikel ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan perspektif antropologi budaya dan sejarah kolonialisme.
Argumen utama adalah: santet berfungsi dalam ranah sosial personal, bukan politik; kolonialisme merupakan sistem kekuasaan, bukan sekadar individu; efektivitas sihir ditentukan oleh keyakinan kolektif sebagaimana dikemukakan Claude Lévi-Strauss; dan perlawanan bangsa Indonesia lebih banyak terartikulasikan dalam bentuk jihad, spiritualitas, dan gerakan fisik ketimbang praktik santet. Dengan demikian, narasi kemerdekaan Indonesia lebih dimaknai melalui perjuangan nyata daripada jalur gaib.
Pendahuluan
Masyarakat Nusantara sejak lama akrab dengan praktik mistik. Kisah tentang santet, teluh, guna-guna, dan pelet mewarnai kehidupan sehari-hari.
Dalam masyarakat tradisional, ilmu-ilmu ini tidak hanya dipandang sebagai “pengetahuan gelap”, tetapi juga bagian dari struktur sosial yang menjaga keseimbangan antara individu, komunitas, dan kekuasaan.
Namun, kehadiran kolonialisme Belanda yang berlangsung selama lebih dari tiga abad menimbulkan pertanyaan reflektif: mengapa kekuatan gaib Nusantara tidak digunakan secara masif untuk melawan penjajahan? Bukankah jika para gubernur jenderal atau serdadu Eropa disantet, sistem kolonial akan runtuh?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memeriksa tiga hal: (1) fungsi sosial santet dalam masyarakat, (2) sifat kolonialisme sebagai sistem kekuasaan, dan (3) teori antropologi tentang sihir yang dikemukakan Claude Lévi-Strauss.
Santet: Fungsi Sosial dan Ruang Lingkup
Santet dalam masyarakat Jawa, Sunda, Bali, dan daerah lain biasanya berkaitan dengan konflik personal. Seorang dukun dipanggil untuk mengirim penyakit, kecelakaan, atau malapetaka kepada orang yang dianggap musuh. Santet jarang sekali menjadi strategi kolektif dalam skala besar.
Menurut penelitian antropologi, fungsi santet justru lebih banyak bersifat social control (kontrol sosial). Dengan adanya kepercayaan bahwa siapa pun bisa disantet, masyarakat cenderung menjaga harmoni agar tidak menimbulkan dendam.
Clifford Geertz (1960) dalam The Religion of Java mencatat bahwa mistisisme Jawa berfungsi menyeimbangkan relasi sosial, bukan menumbangkan kekuasaan politik asing.
-888-
Kolonialisme sebagai Sistem, bukan Individu
Santet dapat menyasar individu, tetapi kolonialisme bukanlah sekadar kumpulan orang. Ia adalah sistem yang terorganisasi: ada administrasi sipil, militer, kekuatan ekonomi, dan teknologi senjata. Seandainya seorang pejabat Belanda sakit akibat serangan gaib, sistem kolonial tidak serta merta runtuh.
Hal ini terbukti dalam kasus perlawanan fisik: meski ribuan serdadu Belanda tewas di medan perang, kolonialisme tetap bertahan karena struktur kekuasaan tetap berjalan. Maka, santet tidak bisa menjadi solusi strategis dalam melawan kolonialisme.
Ilmu Gaib sebagai Legitimasi Kekuasaan Lokal
Dalam banyak kerajaan Nusantara, para dukun dan ahli mistik justru berperan mendukung penguasa lokal. Mereka menjadi penasihat spiritual, penjaga kerajaan, atau bahkan simbol karisma raja. Ilmu gaib dipakai untuk memperkuat wibawa internal, bukan untuk menyerang penjajah.
Terkadang, Belanda justru memanfaatkan kepercayaan rakyat pada mistik untuk melanggengkan kekuasaan. Misalnya dengan menciptakan mitos tertentu agar rakyat takut melawan, atau memanfaatkan tokoh lokal yang dianggap sakti untuk meredam perlawanan.
Claude Lévi-Strauss dan Teori Efektivitas Sihir.
Claude Lévi-Strauss, antropolog Prancis, menulis tentang sihir dalam kerangka strukturalisme. Dalam esainya The Sorcerer and His Magic (1949), ia menjelaskan bahwa efektivitas sihir tidak terletak pada kekuatan supranatural itu sendiri, melainkan pada keyakinan kolektif yang mengitarinya.
Ia menulis:
_”Efektivitas sihir terletak pada sistem kepercayaan kolektif: dukun percaya pada kekuatannya, pasien percaya pada dukun, dan masyarakat mendukung keyakinan itu.”(Lévi-Strauss, 1963: 176)_
-888-
Artinya, sihir hanya bekerja dalam kerangka budaya yang sama. Orang Eropa pada abad ke-19 umumnya tidak percaya pada santet Nusantara. Karena tidak ada “ruang simbolik bersama”, maka santet tidak efektif pada mereka. Sebaliknya, orang pribumi yang percaya bisa saja sakit karena sugesti atau rasa takut.
Spiritualitas Perlawanan di Indonesia
Meskipun ilmu mistik tidak dipakai sebagai senjata politik utama, perlawanan bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari spiritualitas.
Tokoh-tokoh besar seperti Pangeran Diponegoro mengandalkan doa, tapa, dan jimat sebagai sumber kekuatan. Imam Bonjol menggunakan semangat jihad sebagai pemicu perlawanan.
Artinya, aspek “gaib” tetap hadir, tetapi lebih sebagai penyemangat dan legitimasi perjuangan, bukan sebagai alat magis untuk langsung melumpuhkan penjajah.
-888-
Narasi Heroik vs Narasi Mistis
Bangsa Indonesia membutuhkan narasi kemerdekaan yang heroik. Kisah pertempuran, pengorbanan, dan semangat kolektif lebih mudah dijadikan simbol perjuangan ketimbang kisah tentang santet.
Jika kolonialisme runtuh hanya karena “dukun mengirim santet”, kemerdekaan tidak akan memiliki bobot heroisme yang sama.
Narasi sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia merdeka karena perjuangan panjang perang fisik, diplomasi, pergerakan politik, hingga akhirnya proklamasi. Inilah yang membentuk identitas nasional.
Kesimpulan
Pertanyaan “mengapa penjajah tidak disantet agar cepat merdeka” pada dasarnya mengandung humor, tetapi juga refleksi. Jawabannya terletak pada:
1.Santet berfungsi dalam lingkup personal, bukan politik.
2.Kolonialisme adalah sistem, bukan individu.
3.Efektivitas sihir bergantung pada kepercayaan kolektif (Lévi-Strauss).
4.Perlawanan Indonesia lebih banyak terwujud dalam bentuk jihad, spiritualitas, dan perjuangan nyata.
Dengan demikian, jalan kemerdekaan Indonesia ditempuh melalui darah, keringat, doa, dan diplomasibukan lewat santet.
والله اعلم بالصواب
C18082025, Tabik🙏
Referensi :
Geertz, Clifford. The Religion of Java. University of Chicago Press, 1960.
Lévi-Strauss, Claude. The Sorcerer and His Magic. In Structural Anthropology. Basic Books, 1963.
Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia since c.1200. Stanford University Press, 2008.
Carey, Peter. The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855. KITLV Press, 2007.
Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680. Yale University Press, 1993.








