Prabowo di PBB: Indonesia Menggugat Ketidakadilan Dunia

_(Diplomasi Global Ala Prabowo Membangun Multilateralisme yang Berkeadilan)_ Oleh MS.Tjik.NG

 

*Bismillahirrahmanirrahim*

Pendahuluan

Pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB ke-80 pada 23 September 2025 menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam diplomasi Indonesia.

Pidato tersebut bukan sekadar formalitas diplomatik, tetapi sebuah manifesto politik luar negeri yang mencerminkan posisi Indonesia di panggung global: tegas, proaktif, dan membawa solusi.

Dunia menyaksikan bagaimana Indonesia mengartikulasikan kepentingan Global South, menggugat ketidakadilan global, dan mengusulkan multilateralisme yang lebih berkeadilan.

Dalam pidatonya, Prabowo mengangkat empat isu utama: (1) keadilan global dan reformasi tata kelola dunia, (2) solusi damai untuk Palestina, (3) ketahanan pangan dan energi sebagai isu strategis, dan (4) komitmen Indonesia dalam penanganan perubahan iklim.

Artikel ini akan mengupas tuntas konteks, isi pidato, respons dunia, serta implikasinya terhadap politik luar negeri Indonesia.

Konteks Geopolitik Global 2025.

Tahun 2025 adalah periode turbulensi global. Konflik Gaza semakin memanas, menelan korban sipil dan mengancam stabilitas Timur Tengah.

Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok memunculkan ketegangan di kawasan Indo-Pasifik, sementara perang Rusia-Ukraina masih berlanjut dalam bentuk perang posisi.

Dampak dari krisis global ini sangat luas: harga pangan melonjak, rantai pasok energi terganggu, dan inflasi mengancam perekonomian negara berkembang.

Perubahan iklim menambah kompleksitas, dengan bencana banjir dan kekeringan di berbagai belahan dunia. Dalam situasi seperti ini, negara-negara berkembang menuntut suara yang lebih kuat di forum global.

Prabowo hadir membawa mandat dari 280 juta rakyat Indonesia dan berbicara bukan hanya untuk negaranya, tetapi juga untuk Global South.

Latar Belakang Diplomasi Indonesia.

Sejak era Sukarno, Indonesia konsisten dengan politik luar negeri bebas-aktif. Pidato Sukarno di PBB tahun 1960, To Build the World Anew, menyerukan tatanan dunia yang lebih adil bagi bangsa-bangsa yang baru merdeka.

Pidato Prabowo melanjutkan tradisi ini dengan pendekatan realistis: tidak hanya menyerukan keadilan, tetapi juga menawarkan aksi konkret seperti bantuan pangan dan pengiriman pasukan penjaga perdamaian.

-888-

Isi Pidato: Seruan Moral dan Tindakan Nyata

Pidato Prabowo berdurasi 25 menit namun padat isi. Beberapa kutipan pentingnya antara lain :

_“Indonesia menolak dunia yang hanya menguntungkan segelintir negara kuat. Multilateralisme hanya bermakna jika memberi perlindungan yang sama kepada semua negara, besar maupun kecil.”_

_“Kami siap mengirim 20.000 pasukan penjaga perdamaian jika PBB memberikan mandat, demi mengakhiri penderitaan rakyat Palestina.”_

READ  Sinergi Antar Forkopimda dan OPD di Muba, Gelar Senam Bersama

Selain itu, Prabowo juga mengumumkan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan dan siap membantu negara-negara yang mengalami kelaparan. Ia menegaskan komitmen Indonesia terhadap Paris Agreement dan target Net Zero Emission sebelum 2060.

4.Solidaritas untuk Palestina

Isu Palestina ditegaskan, dan tawaran pengiriman pasukan penjaga perdamaian memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain aktif, bukan hanya pengamat.

Hal ini mengingatkan dunia pada era Soeharto ketika Indonesia pernah mengirim Kontingen Garuda ke Mesir pasca Perang Arab-Israel 1957.

Dengan skala yang jauh lebih besar, tawaran Prabowo merupakan sinyal bahwa Indonesia siap menjadi “penjamin perdamaian” regional.

Multilateralisme yang Berkeadilan.

Prabowo menyoroti ketidakadilan dalam struktur Dewan Keamanan PBB yang hanya memberikan hak veto kepada lima negara (AS, Rusia, Tiongkok, Inggris, Prancis). Menurutnya, negara-negara berkembang harus diberi tempat dalam pengambilan keputusan global. Indonesia mengusulkan mekanisme keterwakilan regional agar keputusan Dewan Keamanan lebih inklusif.

Diplomasi Pangan dan Energi

Prabowo menggunakan forum PBB untuk mengumumkan keberhasilan Indonesia menjadi lumbung pangan regional. Ekspor beras, jagung, dan minyak sawit diarahkan untuk membantu negara-negara Afrika dan Timur Tengah yang menghadapi kelaparan.

Selain pangan, Indonesia juga menawarkan kerja sama energi terbarukan seperti biofuel dan panas bumi, mengajak dunia mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

World Bank (2024). Energy Transition Outlook for Developing Economies.

Isu Perubahan Iklim

Prabowo menyampaikan rencana pembangunan tanggul laut raksasa 480 km untuk melindungi Jakarta dari ancaman banjir rob. Program reforestasi 12 juta hektar dan kebijakan moratorium izin baru di hutan primer menjadi contoh nyata komitmen Indonesia dalam mitigasi iklim.

Respons Dunia Internasional.

Pidato Prabowo menuai pujian. Sekjen PBB menyebutnya sebagai “suara moral dunia”. Media internasional seperti The Guardian dan Al Jazeera menulis headline yang menyoroti keberanian Indonesia. Raja Yordania dan Presiden Turki secara terbuka memuji tawaran pasukan perdamaian

Analisis Geopolitik.

Pidato ini menandai pergeseran Indonesia dari negara penonton menjadi pemain utama dalam percaturan global.

Dengan kapasitas ekonomi terbesar di ASEAN dan populasi keempat terbesar di dunia, Indonesia kini memiliki leverage untuk memengaruhi agenda internasional.

Langkah Prabowo dapat dibaca sebagai strategi meningkatkan soft power, sekaligus memperkuat hard power melalui modernisasi militer dan diplomasi pertahanan.

READ  Ratu Dewa Sambut Baik Investor China, Kerja Sama Penanggulangan Banjir Hingga Optimalkan Sungai Musi Sebagai Destinasi Wisata

Kritik dan Tantangan

Meskipun menuai pujian, beberapa pihak mengkritik tawaran Prabowo. Tantangan logistik pengiriman 20.000 pasukan penjaga perdamaian dinilai berat, baik dari sisi biaya maupun kesiapan militer.

Selain itu, janji menjadi lumbung pangan dunia harus dibarengi kebijakan berkelanjutan agar tidak mengorbankan lingkungan

-888-

Implikasi bagi ASEAN

Pidato Prabowo memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin de facto ASEAN. Negara-negara tetangga mendukung gagasan reformasi PBB dan berharap Indonesia membawa aspirasi Asia Tenggara ke forum global.

Dampak Domestik.

Pidato di PBB berdampak positif pada politik domestik. Survei menunjukkan lonjakan approval rating Prabowo sebesar 7% pasca pidato. Media nasional menyebutnya sebagai “momen Sukarno kedua” bagi diplomasi Indonesia.

Perspektif Jangka Panjang.

Pidato Prabowo dapat menjadi tonggak transformasi politik luar negeri Indonesia dari reaktif menjadi proaktif. Jika diikuti kebijakan nyata, Indonesia berpotensi menjadi salah satu kekuatan penentu dalam tata kelola global pada dekade mendatang.

Kesimpulan

Pidato Prabowo di PBB adalah deklarasi moral dan politik: Indonesia menolak ketidakadilan dunia dan siap menjadi bagian dari solusi. Dengan menggabungkan idealisme dan realisme, Prabowo membangun visi multilateralisme yang berkeadilan.

Tantangan terbesar ke depan adalah mewujudkan janji-janji itu menjadi kebijakan nyata yang memberi dampak bagi rakyat Indonesia dan dunia.

والله اعلم بالصواب

C24092025, Tabik 🙏

Daftar Pustaka

1. Detik.com. (2025). “Pidato Lengkap Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB.”

2. Tirto.id. (2025). “Isi Lengkap & Poin Penting Pidato Prabowo di PBB.”

3. United Nations. (2025). General Assembly – Background Note on the 80th Session.

4. FAO. (2025). Global Food Security Report.

5. IPCC. (2023). Climate Change Synthesis Report.

6. Ikenberry, G. J. (2011). Liberal Leviathan. Princeton University Press.

7. Nye, J. (2021). Soft Power: The Means to Success in World Politics.

8. Foreign Policy. (2025). “Can Indonesia Deliver on Its Peacekeeping Promise?”

9. The Guardian. (2025). “World Leaders Praise Indonesian President’s UN Speech.”

10. Hatta, M. (1953) Mendayng Antara Dua Karang

11. The Economit (2025) “Global South Rising New voices in International Relatios”.

12. ASEAN Sekretariat (2025) Joint Communique on UN Reform

13. LSI (2025) Survey Nasional Pasca Pidato PBB.