Coganews – tanggerang, 18 maret 2026 – Kata Orang Bijak, waktu itu terbagi tiga. Waktu masa lalu, Waktu sekarang, dan Waktu masa mendatang. Waktu masa lalu adalah kenangan, Waktu masa mendatang hanya harapan. Waktu untuk kita adalah sekarang. Maka buatlah amal baik sekarang.
Masa lalu, bagi yang lahir dan dibesarkan di kampung pasti banyak kenangan. Dan bisa jadi itu pula yang mempengaruhi mentalitas dalam segala aktivitasnya. Masa kecil dan muda, masa pertumbuhan fisik dan mental. Masa itulah dia mendiami/berada dalam kehidupan kampung. Kenangan bagus dan lucupun ada. Sekali lagi, karena waktu itu masa belia dan masa mencari identitas.
Salah satu, hikmah mudik lebaran atau pulang kampung. Disamping tujuan silaturahmi secara total, kepada keluarga yang tertua, orang-orang terdekat dan dicintai, dihormati dan teman-teman sepermainan, ziarah kubur orangtua atau lainnya, sembari memberikan do’a kepada ahli kubur langsung di depan kuburannya. Adalah napak tilas sejarah atau rekonstruksi kehidupan.
Napak tilas sejarah atau rekonstruksi kehidupan, semasa dibesarkan di kampung, misalnya bagaimana kehidupan kesehariannya dalam lingkungan keluarga. Aktivitasnya sehari-hari waktu itu, misalnya pagi sekolah pada Sekolah Dasar (SD), siang sekolah di Ibtidaiyah (sekolah agama) dan malamnya mengaji. Dalam tiga kegiatan rutin ini banyak hal yang terjadi, karena semuanya itu bersentuhan atau berinteraksi dengan manusia lain, guru dan sesama murid (teman).
Dalam event lebaran, sudah bisa dipastikan orang-orang desa yang merantau di berbagai kota besar. Tujuannya pasti tidak jauh berbeda. Dalam event penuh nuansa spritualitas uni, bisa bersilaturahmi sesama, saling berjabat tangan langsung. Saling bertanya kabar dan saling berada dalam kangen-kangenan. Meskipun mungkin umur sudah sama-sama berubah, lantaran usia tergerus tanpa terasa. Boleh dikatakan, reuni dan silaturahmi akbar.
Kemudian di luar itu, ketika ada waktu-waktu yang dimanfa’atkan untuk membantu orangtuanya, terutama dalam menunjang ekonomi keluarga. Ke sawah atau ke kebun. Mungkin juga berbelanja buat barang dagangan ke kota untuk warung atau toko. Semuanya itu terbersit lagi pada ingatannya.
Dalam berinteraksi sesama teman, terlibat pada permainan laiknya anak desa waktu itu, bermain kelereng, gasing, karet, tembak-tembakan, berburu burung pakai ketapel, Main kerbau lepas di lapangan olahraga, dan masih banyak lagi. Permainan-permainan ini sudah susah ditemui. Desa sudah jauh berubah. Bukan desa dulu seperti di benak kepada orang tentang desa.
Desa sudah bermetamorfosis, sudah menjadi sub urban (setengah kota), karena mengalir program desa dari pemerintah pusat. Plus, masuk proyek swasta, perkebunan raksasa (baik sawit atau karet) yang menyerap tenaga kerja masyarakat desa. Ekonomi rakyat menggeliat, tenaga kerja yang tidak terdidik dapat mencari makan disini. Memang ada dampak negatifnya, masyarakat kebanyakan kehilangan lahan pertanian, dan hidup menjadi buruh tani atau buruh pabrik kelapa sawit.
Dalam sosiologi, urbanisasi itu bukan hanya masyarakat desa pindah ke kota. Tetapi masyarakat tinggal di desa dengan kemajuan desa, otomatis mereka hidup layaknya masyarakat kota, indikator sektor jasa dan perdagangan menjadi lahan kehidupan. Otomatis dikatakan urbanisasi.
Ornamen kehidupan masa lalu di desa seperti sudah pasti tidak ada lagi. Namun kenangan bagi yang mengalami pada kehidupan masa lalu pasti tidak lupa dalam konstruksi kehidupannya. Dari konstruksi kehidupan ini melahirkan kalkulasi masa lalu dan masa kini. Berujung dengan rasa Syukur kepada Allah SWT, menguatkan iman ketaqwaan kepadaNya. Sebab semuanya itu atas kehendak atau skenario Allah SWT.
Desa yang ditinggalkan sekian lama sudah maju. Begitu juga masyarakatnya, sejahtera dan aman. Sebab keamanan berhimpitan dengan kesejahteraan. Ekonomi aman, rakyatnya aman secara fisik. Semoga.












