Open House Lebaran. Budaya Politik Feodalistik ?.

Oleh: Azkar Badri. Dosen Dan Konsultan Komunikasi

 

coganews- tanggerang, 20 maret 2026 – Sudah jamak, di negeri ini. Dari pejabat tingkat pusat dan daerah. Pengusa dan juga kiayi/tokoh agama, setiap lebaran terutama Idul Fitri memberikan kesempatan kepada handai taulannya, relasi dan masyarakat umum untuk bertandang ke rumahnya atau suatu tempat yang disediakannya untuk bersalam-salaman atau memberi ucapan dan berma’af-ma’afan pasca puasa atau bulan Ramadhan, dikenal populernya Open House.

Biasanya Tuan Rumah menyiapkan segala macam konsumsi. Menu masakan bernuansa nasional dan lokal. Bisa juga internasional, tergantung selera Tuan Rumah untuk tamu yang bakal datang.

Dalam konteks memudahkan Silaturahmi dan berbagi makanan enak (sedekah) dan memupuk keakraban sesama. Hal yang sangat baik dan dianjurkan oleh agama. Dalam pemberian zakat fitrah diperintahkan bayarnya dengan beras yang biasa kita konsumsikan setiap hari (sekufu).

Dalam konteks politik, Open House merupakan Budaya Politik Feodalistik. Mereka disiapkan/disuguh hidangan, disuruh (diminta) datang ke rumah berma’af-ma’afan. Ini sama saja mereka disuruh datang minta ma’af. Kalau demikian, terkesan yang banyak melakukan kesalahan (dosa) adalah para tamu/orang-orang bawah. Baik dalam kesatuan kerjanya, maupun masyarakat luar di bawah strata sosial darinya. Sekali lagi kebanyakan tamu yang datang komunitas yang berasal dari level ini.Jarang didapati tamunya dari level atas atau sekufu (setara) dengan tuan rumah. Kalaupun ada bukan dalam konteks undangan Open House, tapi ada hal-hal tertentu.

READ  Pemkab Muba Gelar Rapat Persiapan Sambut Kunjungan Pemkab Sukabumi

Orang atas ( atasan) dianggap tidak pernah melakukan kesalahan. Bawahanlah yang sering melakukan kesalahan. Maka dia yang harus datang dan minta ma’af kepadanya (Tuan Rumah).

Padahal terbalik, di kalangan Anggota Kesatuan, Anak Buah tidak pernah salah. Yang salah adalah komandan (atasan). Banyak kasus, atasan yang banyak bersalah, terkadang dzolim dengan anak buah (Bawahan), dan kasus korupsi umumnya terjadi pada level /pusaran atas. Kalaupun bawahnya kena, itu karena membela atasan. Bawahan bahasa fulgarnya, ljadi tumbal.

Tidak sampai disitu saja. Karena pimpinan atau atasan di suatu lembaga. Anak Buahnya yang telah diberi kerjaan untuk menghidupi keluarga atau jabatan, tidak cukup bersalam-salaman atau setor muka saja, tapi dia harus bawa Buah Tangan, lazimnya Parsel sebagai bentuk ucapan terimakasih yang lebih konkret kepada atasan. Dulu namanya Upeti.

Terjadi hubungan Patron dan Klin, patronase politik. Atasan menjadi Patron, atasan yang harus dihargai, dihormati dan diberi materi sebagai bentuk konkret dan pandai berterimakasih. Sebaliknya, bawahan orang yang tidak berdaya dan harus patuh dan nunut pada kehendak pimpinan (atasan), tidak terbatas di lembaga/satuan kerja, tetapi di luar hubungan kedinasan sesama.

Di perkampungan/masyarakat desa, juga ada hal yang mirip dengan Open House jamak di kota. Boleh dikatakan di kampung itu semuanya Open House sesuai dengan tingkatan status sosialnya masing-masing. Ada yang menyediakan konsumsi laiknya perhelatan hajatan. Ada pula yang terbatas dengan makanan/kue kering atau basah.

READ  Hari Jadi ke 1.338, Ini Harapan Mahasiswa untuk Kota Palembang

Bersalam-salaman atau berma’af-ma’afan di jalan dianggap kurang afdhol, harus datang ke rumah. Budaya politik feodalistikpun disini terjadi. Bagi elite desa, di rumahnya disiapkan makan dan makanan. Umumnya, masyarakat dari strata sosial bawah yang datang. Dan sangat jarang terjadi para elite desa datang atau berkunjung ke rumah masyarakat bawah, sekalipun masih ada hubungan keluarga. Salam-salaman sudah dianggap selesai di rumahnya.

Dalam sistem kekerabatan, saudara tua umumnya di desa harus dikunjungi oleh adik-adiknya. Adik harus datang ke saudara tua, karena saudara tualah yang paling berjasa terhadap hidupnya, terutama pada masa kecil yang sering menggantikan peran ayah dan ibu. Mengasuh dan terkadang dalam membantu ekonomi keluarga. Kalau hal ini mungkin masih bisa dipahami. Ada pameo, kuwalat jika tidak hormat dengan saudara tua. Wallahu alam.

Juga lain halnya dengan Kiayi, kiayi sumber ilmu, tempat mengaji dan bertanya soal agama. Ketauladanan akhlaq nya. Sangat wajar kalau bersilaturahmi mendatangi rumahnya. Bersalaman dengan orang alim. Mudah-mudahan ketularan kealimannya. Kesholehannya dan ketaqwaannya. Lebih jauh lagi, bisa jadi di pintu surga Allah SWT kelak, dia ikut mengabsenkan kita. Aamiin yaa robbal alamiin. Semoga.