SIMPOSIUM NASIONAL KAHM

Jakarta_Coganew.co.id/Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Brian Yuliarto menegaskan Indonesia harus mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) melalui penguatan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan inovasi.
Hal itu disampaikan Prof. Brian saat menjadi pembicara dalam Simposium Nasional Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) bertajuk “KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa” di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (10/9/2026). Simposium digelar dalam rangkaian Milad KAHMI ke-60.
Dalam paparannya, Prof. Brian menyampaikan Indonesia perlu meningkatkan PDB per kapita hingga sekitar USD15.000 untuk naik kelas dan keluar dari middle income trap. Saat ini PDB per kapita Indonesia sekitar USD5.000, dibandingkan Malaysia sekitar USD12.000, Jepang USD14.000, dan Singapura USD85.000.
“Indonesia harus berani menargetkan PDB per kapita USD15.000. Kita harus keluar dari middle income trap,” ujar Prof. Brian.
Menurutnya, target tersebut bukan sekadar angka ekonomi, tetapi harus diwujudkan melalui peningkatan produktivitas, kualitas pekerjaan, pendapatan masyarakat, penguasaan teknologi, dan kesejahteraan rakyat. Indonesia, kata dia, tidak boleh hanya menjadi pasar, tetapi harus mampu menghasilkan teknologi dan karya bernilai tambah tinggi.
KAHMI Harus Beyond Nationalism
Prof. Brian juga mendorong KAHMI menggagas masyarakat Indonesia yang “beyond nationalism”, yakni masyarakat yang tidak hanya memiliki kebanggaan kebangsaan, tetapi mampu menghasilkan karya yang berdaya saing dan berpengaruh secara global.
“KAHMI harus bisa menggagas masyarakat Indonesia yang beyond nationalism,” ujarnya.
Menurutnya, jaringan alumni HMI yang tersebar di berbagai bidang merupakan modal strategis yang harus dikonsolidasikan. Penguasaan jejaring ilmu pengetahuan dan teknologi KAHMI dapat menjadi enabler lahirnya karya-karya besar anak bangsa.
“Penguasaan network iptek KAHMI bisa menjadi enabler lahirnya karya besar,” tegasnya.
Ia menilai kedaulatan bangsa pada akhirnya juga ditentukan oleh kemampuan anak bangsa menghasilkan karya yang mampu bersaing dan menguasai dunia.
“Kedaulatan bisa tercapai dari karya anak bangsa yang menguasai dunia,” katanya.
Karena itu, KAHMI didorong mengoptimalkan jejaring intelektual dan profesionalnya untuk membangun kolaborasi di bidang iptek, inovasi, dan kewirausahaan sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi mampu menjadi pencipta teknologi dan karya kelas dunia.
Prof. Brian menilai kiprah alumni HMI yang telah mewarnai berbagai bidang kehidupan nasional menjadi modal penting untuk memperkuat kontribusi tersebut.
Gagasan KAHMI Disampaikan kepada Presiden
Sementara itu, Koordinator Presidium MN KAHMI Romo Muhammad Syafii, yang merupakan inisiator Simposium Nasional, mengatakan berbagai gagasan kebangsaan dan keumatan yang dirumuskan dalam forum tersebut akan disampaikan kepada Presiden RI Prabowo Subianto.
“Gagasan kebangsaan dan keumatan dalam Simposium Nasional MN KAHMI ini akan disampaikan kepada Presiden RI Prabowo Subianto sebagai kontribusi KAHMI,” kata Romo.
Menurutnya, KAHMI tidak ingin berhenti pada forum diskusi, tetapi harus melahirkan gagasan konkret dan strategis sebagai kontribusi bagi umat, bangsa, dan negara.
Melalui Milad KAHMI ke-60, Simposium Nasional diharapkan menjadi momentum konsolidasi pemikiran alumni HMI untuk memperkuat kemandirian bangsa, mempercepat penguasaan iptek, meningkatkan kualitas SDM, dan mewujudkan Indonesia yang maju, berdaulat, serta mampu melahirkan karya yang diperhitungkan dunia.




