DARI NAGHAM KE ALGORITMA PERADABAN: DISERTASI KH. MUDRIK QORI DAN IKHTIAR MENGAKRABKAN SENI BACA AL-QUR’AN

Oleh: MS.Tjik.NG

 

*Bismillahirrahmanirrahim*

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan seorang ulama pesantren ketika memasuki dunia akademik.

Ia tidak meninggalkan tradisi pesantrennya. Sebaliknya, ia membawa tradisi tersebut ke ruang penelitian, mengkaji nya secara ilmiah, lalu berusaha mengembalikannya kepada umat dalam bentuk yang lebih sistematis dan mudah dikembangkan.

Itulah yang menarik dari disertasi Dr. KH. Mudrik Qori, M.A., Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Disertasinya di Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berjudul “Model Pembelajaran Nagham Al-Qur’an Syekh Musthafa Ismail di Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan.” Disertasi tersebut secara resmi tercatat dalam repository UMM sebagai doctoral thesis tahun 2026.

 

Repository UMM

Prsan pentingnya,

Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga harus dipelajari, dihayati, diwariskan dan dikembangkan cara pengajarannya.

Dan nagham merupakan salah satu bagian penting dalam tradisi tilawah Al-Qur’an.

Indonesia sebuah negeri dengan tradisi Musabaqah Tilawatil Qur’an yang sangat kuat. Hampir setiap tahun masyarakat menyaksikan MTQ dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi hingga nasional. Para qari dan qariah tampil dengan suara merdu, teknik vokal yang tinggi, penguasaan maqamat dan berbagai variasi lagu Al-Qur’an.

Namun ada pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan:

Seberapa banyak masyarakat Muslim Indonesia yang benar-benar memahami apa yang sedang mereka dengarkan?

Ketika seorang qari membaca dengan Bayyati, Hijaz, Rast, Sika atau maqam lainnya, berapa banyak penonton yang memahami struktur lagunya?

Ketika qari melakukan perpindahan maqam, improvisasi atau variasi melodi, berapa banyak masyarakat yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?

Bahkan istilah nagham, maqam, tausyih, tahwil, ma’zul dan takhlith masih terdengar asing bagi sebagian besar umat.

READ  Pemkab Muba Raih Predikat Kepatuhan Tinggi Pelayanan Publik 2022

Padahal, di balik suara merdu seorang qari terdapat ilmu yang cukup kompleks.

IIQ Press, misalnya, menjelaskan bahwa nagham Al-Qur’an berkaitan dengan seni membaca Al-Qur’an menggunakan irama yang indah dan mengenal sejumlah maqamat seperti Bayyati, Hijaz, Rast dan Sika.

Artinya, persoalannya bukan karena nagham tidak ada.

Nagham hidup.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana ilmu tersebut dapat dibuat semakin akrab, sistematis, terukur dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di sinilah penelitian KH. Mudrik Qori menjadi penting.

 

Nagham Bukan Sekadar “Lagu”

Ada kecenderungan sebagian masyarakat memahami nagham hanya sebagai “lagu membaca Al-Qur’an”.

Pemahaman tersebut tidak sepenuhnya salah sebagai pengenalan awal, tetapi terlalu sederhana jika dijadikan kesimpulan.

Nagham memiliki dimensi yang jauh lebih luas.

Ia berhubungan dengan musikalitas, teknik vokal, maqamat, improvisasi, penghayatan terhadap ayat, ekspresi, estetika dan suasana spiritual.

Penelitian tentang seni baca Al-Qur’an bahkan telah mengkajinya melalui pendekatan musikologi, termasuk aspek vokalisasi dan ornamentasi melodi dalam tilawah.

Karena itu, seorang qari tidak sekadar “menyanyikan” Al-Qur’an.Ia harus tetap tunduk kepada tajwid, makharijul huruf, sifat huruf, waqaf-ibtida’, ketepatan bacaan dan kehormatan terhadap kalam Allah. Nagham berada di dalam koridor tilawah.

Keindahan suara tidak boleh mengorbankan ketepatan lafaz.

Melodi tidak boleh mengalahkan makna.Dan kompetisi tidak boleh menggeser tujuan utama membaca Al-Qur’an: beribadah, mentadabburi dan menghadirkan kalam Allah dalam kehidupan.Karena itu, semakin tinggi ilmu nagham seseorang, seharusnya semakin tinggi pula kedisiplinannya terhadap Al-Qur’an.

 

Penelitian KH. Mudrik secara khusus mengambil gaya nagham Syekh Musthafa Ismail, salah seorang maestro tilawah Al-Qur’an dari Mesir.

READ  Muba Siap Jadi Tuan Rumah Porprov XV Sumsel: Panitia Besar Terbentuk, Target Sukses Ganda

Syekh Musthafa Ismail memiliki pengaruh besar dalam dunia tilawah.

Penelitian Universiti Malaya mengenai tokoh tersebut mencatat kontribusi nya dalam seni tilawah bertarannum serta kekhasan uslub al-qira’ah-nya. Rekaman-rekaman bacaannya juga terus diwariskan dan dipelajari setelah wafatnya.

 

Ini penting.

Karena dalam tradisi tilawah, seseorang tidak cukup hanya mengetahui nama maqam. Ia harus memahami bagaimana maqam itu bergerak.

Bagaimana seorang qari memulai.

Bagaimana ia menaikkan nada.

Bagaimana ia melakukan transisi.

Bagaimana ia kembali kepada nada dasar.

Bagaimana ia menyesuaikan irama dengan struktur ayat.

Dan bagaimana ekspresi musikal tetap tunduk kepada makna ayat.

Di sinilah gaya Syekh Musthafa Ismail menjadi bahan kajian yang sangat kaya.

Dari Talaqqi Menuju Model Pembelajaran

Salah satu kekuatan penelitian KH. Mudrik adalah tidak mempertentangkan tradisi pesantren dengan ilmu pendidikan modern.

Justru keduanya dipertemukan.

Dalam tradisi pesantren, ilmu nagham diwariskan melalui talaqqi, musyafahah, sima’i, latihan, peniruan dan pembimbingan langsung dari guru kepada murid.

Santri mendengar.

Santri menirukan.

Guru mengoreksi.

Santri mengulang.

Terus-menerus sampai terbentuk kemampuan.

Tradisi seperti ini sangat penting karena nagham tidak cukup dipelajari hanya melalui buku.

Ada unsur pendengaran.

Ada rasa.

Ada kepekaan nada.

Ada pengalaman.

Ada dzauq.

Ada hubungan langsung antara guru dan murid.Namun KH. Mudrik melihat bahwa tradisi tersebut dapat diperkuat dengan kerangka akademik.

Repository resmi UMM menjelaskan bahwa penelitian ini merumuskan model pembelajaran yang integratif, progresif dan adaptif, dengan menggabungkan praktik pedagogi pesantren dan teori pembelajaran modern.

Inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama disertasi tersebut.

Tradisi tidak dibuang. Tradisi diberi kerangka ilmiah.

 

*والله اعلم بالصواب