Bismillahirrahmanirrahim
Pertama, Nagham ‘Aam.
Pada tingkat ini santri diperkenalkan kepada dasar-dasar nagham dan maqamat umum.
Ini penting karena seseorang tidak mungkin langsung menjadi qari tingkat tinggi tanpa memahami fondasi.
Kedua, Nagham Khash.
Pada tingkat ini kemampuan santri semakin spesifik dan mendalam.
Mereka mulai memahami variasi dan karakter musikal yang lebih kompleks.
Ketiga, Nagham Khas al-Khas.
Inilah tingkat lanjut yang menuntut kemampuan improvisasi serta penguasaan variasi yang lebih tinggi.
Menurut hasil penelitian KH. Mudrik Qori pada tingkat ini ditemukan tiga variasi eksklusif yang dirumuskan dalam penelitian, yaitu Ma’zul, Tahwil dan Takhlith. UMM menyebut ketiganya sebagai salah satu kebaruan utama penelitian tersebut.
Ini bukan sekadar penambahan istilah.
Di sinilah penelitian mulai memasuki wilayah yang selama ini lebih banyak hidup dalam tradisi lisan dan praktik para qari.
Apa yang selama ini diketahui oleh praktisi secara turun-temurun mulai dicoba untuk dipetakan, dianalisis dan dikonstruksi secara akademik.
*Dari “Rasa” Menuju Ilmu (Algoritma Peradaban*
Di sinilah saya menggunakan istilah “algoritma peradaban”.
Apa itu algoritma?
Secara sederhana, algoritma adalah urutan atau pola langkah yang dapat digunakan untuk mencapai suatu hasil.
Dalam konteks nagham, kita dapat melihat sesuatu yang mirip.
Seorang guru mengetahui:
mulai dari mana → bergerak ke mana → kapan naik → kapan turun → kapan melakukan variasi → bagaimana kembali → bagaimana menyesuaikan dengan ayat → bagaimana membangun klimaks → bagaimana mengakhiri.
Selama ini banyak hal tersebut tersimpan dalam pengalaman dan dzauq seorang guru. Sekarang KH. Mudrik mencoba membuat nya lebih sistematis.
Maka dari sini muncul gagasan yang lebih besar: Bagaimana ilmu yang hidup dalam tradisi dapat ditransformasikan menjadi sistem pengetahuan yang dapat diwariskan secara lebih luas tanpa kehilangan ruhnya? Itulah yang sebut sebagai algoritma peradaban.
Bukan algoritma komputer.Tetapi algoritma pengetahuan
*Dari Al-Ittifaqiah untuk Indonesia*
Yang membuat penelitian ini semakin menarik adalah lokasinya.
Penelitian dilakukan di Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, tempat KH. Mudrik sendiri menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan Al-Qur’an.
Dengan demikian, penelitian ini tidak berdiri sebagai teori yang jauh dari praktik.
Ia lahir dari pengalaman pendidikan yang nyata.
Lebih jauh lagi, hasil penelitian menyebut bahwa pembelajaran nagham di Al-Ittifaqiah memanfaatkan metode talaqqi, musyafahah, sima’i, drill, modeling dan media digital.
Bahkan pembelajaran dan penyebaran materi nagham juga dikembangkan melalui media seperti radio dakwah dan kanal digital Al-Ittifaqiah.
Ini sangat penting.
Karena generasi muda hari ini hidup dalam ekosistem digital.
Kalau ilmu nagham hanya diajarkan di ruang tertentu, jumlah orang yang dapat mengaksesnya terbatas.
Tetapi kalau pengetahuan tersebut didokumentasikan, diajarkan melalui media digital, disusun dalam kurikulum dan dibuat mudah dipelajari, maka jangkauannya menjadi jauh lebih luas.
*Nagham Menjadi Ilmu yang Akrab*
Kita patut berharap agar setelah penelitian KH. Mudrik Qori, pembelajaran nagham tidak berhenti di Al-Ittifaqiah.
Mengapa tidak?
Model tersebut dapat dikembangkan di pesantren lain.Di PTIQ. IIQ. Lembaga tahfiz. Rumah-rumah tahfiz., Madrasah, Sekolah Islam, Perguruan tinggi, dan lembaga pembinaan qari qariah.
Bahkan di komunitas masyarakat luas.
Bayangkan suatu saat seorang anak Muslim tidak hanya mengenal nama Bayyati, Hijaz, Rast dan Sika, tetapi juga memahami karakternya masing- masing.
Ia tahu bagaimana mendengarkan.
Ia tahu bagaimana menirukan.Ia tahu bagaimana menjaga tajwid. Ia tahu bagaimana menghubungkan melodi dengan makna ayat.
Ia tahu kapan harus melakukan variasi dan kapan harus sederhana.
Dan yang paling penting, ia memahami bahwa semua itu bukan untuk mempertontonkan suara. Semua itu untuk memuliakan Al-Qur’an. MTQ Harus Naik Kelas
MTQ tentu tetap penting.Kompetisi dapat menjadi salah satu cara menemukan bakat.
Tetapi jangan sampai MTQ hanya menghasilkan juara.
Kita membutuhkan ekosistem ilmu Al-Qur’an.Seorang juara MTQ harus bisa menjadi guru.
Seorang qari harus bisa menjadi mentor. Seorang dewan hakim harus mampu menjadi sumber pengetahuan.
Seorang pesantren harus menjadi pusat kaderisasi. Dan ilmu nagham harus memiliki dokumentasi serta literatur yang terus berkembang.
Dengan demikian, MTQ tidak berhenti pada panggung kompetisi.MTQ menjadi bagian dari gerakan pendidikan Al-Qur’an nasional.
Disertasi KH. Mudrik memberi salah satu contoh bagaimana hal tersebut dapat dilakukan. Nagham dan Makna Ayat.Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Keindahan nagham jangan sampai membuat kita lupa kepada makna Al-Qur’an.
Penelitian tentang hubungan nagham dan makna Al-Qur’an pada konteks MTQ juga menunjukkan pentingnya persoalan ini: qari tidak cukup menguasai lagu, tetapi perlu memahami kandungan ayat yang dibacanya.
Maka masa depan ilmu nagham seharusnya bergerak ke arah integrasi:
tajwid + nagham + makna + vokal + spiritualitas.
Inilah yang membuat seni baca Al-Qur’an berbeda dari seni suara biasa.Yang dibaca bukan puisi. Bukan lagu.Bukan karya manusia.
Yang dilantunkan adalah wahyu Allah.
Karena itu, semakin indah bacaannya, semakin besar pula tanggung jawab moral dan spiritual pembacanya.
*Apresiasi untuk KH. Mudrik Qori*
Kita patut memberikan apresiasi kepadaKH.Mudrik Qori bukan semata-mata karena beliau berhasil meraih gelar doktor.
Gelar akademik adalah pencapaian personal. Yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah gelar itu diperoleh. Disertasinya membuka ruang yang lebih luas bagi ilmu nagham Al-Qur’an.
Dan ia memberi pesan bahwa ilmu Al-Qur’an harus terus dikembangkan dengan tetap menghormati sanad, tradisi dan adab. Bagi seorang Mudir ‘Am pesantren, ini memiliki makna tersendiri.
Sebab pimpinan pesantren bukan hanya menjaga apa yang telah diwariskan.
Ia juga mempunyai tanggung jawab mempersiapkan apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, nagham mungkin terlihat sebagai persoalan suara.
Tetapi kalau kita melihat lebih dalam, ia berbicara tentang peradaban ilmu.
Bagaimana pengetahuan diwariskan?
Bagaimana tradisi dijaga? Bagaimana pengalaman seorang guru didokumentasikan?
Bagaimana ilmu dikembangkan?
Bagaimana generasi muda belajar?
Bagaimana teknologi digunakan?Bagaimana nilai spiritual tetap menjadi pusat?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat penelitian KH. Mudrik Qori menjadi lebih luas daripada sekadar penelitian tentang seni baca Al-Qur’an.
Ia memberi contoh sebuah pola:
tradisi → penelitian → sistematisasi → pendidikan → digitalisasi → kaderisasi → peradaban.
Inilah yang kita maksud dengan algoritma peradaban.
Sebuah bangsa dan umat akan kuat apabila mampu mengubah pengalaman menjadi ilmu, ilmu menjadi sistem, sistem menjadi pendidikan, pendidikan menjadi kader, dan kader menjadi karya.
Mudah-mudahan disertasi KH. Mudrik Qori menjadi salah satu pintu menuju proses tersebut.
Dan mudah-mudahan dari Al-Ittifaqiah akan lahir bukan hanya qari-qari juara MTQ, tetapi generasi yang mencintai Al-Qur’an, memahami maknanya, menguasai seni tilawahnya dan menjadikan nilai-nilainya sebagai jalan kehidupan.
Karena pada akhirnya, tujuan tertinggi bukanlah sekadar suara yang indah.
Tujuannya adalah agar kalam Allah yang indah itu hidup dalam diri manusia.
Dari nagham kita belajar keindahan.
Dari Al-Qur’an kita belajar kehidupan.
Dari ilmu kita membangun peradaban.
Dan dari sanalah, perjalanan nagham menuju algoritma peradaban benar-benar dimulai.
والله اعلم بالصواب






