*Bismillahirrahmanirrahim*
Pendahuluan
Perang dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan di Gaza telah mengguncang nurani dunia. Serangan udara, blokade, dan kelaparan yang melanda warga sipil, terutama anak-anak, memicu reaksi solidaritas dari berbagai penjuru dunia.
Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia secara konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina di berbagai forum internasional.
Namun, dukungan diplomatik perlu ditopang dengan aksi nyata di lapangan. Di sinilah peran pemimpin lokal menjadi penting. Salah satu contoh inspiratif datang dari Bupati Lahat, Bursah Zarnubi, yang baru-baru ini mendonasikan gajinya sebesar Rp 5,7 juta untuk membantu kemanusiaan di Gaza. Ia juga mengimbau DPRD dan OPD Lahat untuk ikut mendonasikan sebagian pendapatannya.
Langkah ini tidak hanya bernilai filantropi, tetapi juga simbol kepemimpinan moral. Jika diikuti oleh seluruh kepala daerah anggota APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) dan para wali kota di seluruh Indonesia, maka akan terbentuk gerakan nasional dengan dampak nyata bagi Gaza.
Profil Singkat Bupati Lahat dan APKASI
Bursah Zarnubi bukan hanya Bupati Lahat, tetapi juga Ketua Umum APKASI, organisasi yang menaungi 416 bupati dari seluruh Indonesia. Posisi strategis ini memberinya panggung untuk menginisiasi gerakan nasional berbasis solidaritas kemanusiaan.
APKASI selama ini dikenal aktif memperjuangkan kepentingan daerah di tingkat pusat, mulai dari desentralisasi fiskal, penguatan otonomi daerah, hingga advokasi kebijakan pembangunan.
Dengan mengusung program donasi kolektif untuk Gaza, APKASI bisa mengukir peran baru: menjembatani diplomasi kemanusiaan antara daerah-daerah di Indonesia dan dunia internasional.
-888-
Estimasi Potensi Donasi Nasional
Mari kita lihat secara matematis. Jika 416 bupati dan 98 wali kota di Indonesia (total 514 kepala daerah) menyumbangkan gaji yang sama seperti Bupati Lahat (Rp 5,7 juta per bulan), maka:
514 \times Rp 5.700.000 = Rp 2.929.800.000
Artinya, Rp 2,93 miliar bisa terkumpul setiap bulan. Dalam setahun, angkanya mencapai Rp 35,1 miliar. Jumlah ini cukup untuk:
Pengadaan pangan dan obat-obatan bagi ribuan keluarga di Gaza.
Pembiayaan layanan kesehatan seperti klinik darurat atau rumah sakit lapangan.
Dukungan pendidikan seperti beasiswa anak-anak korban perang.
Program rehabilitasi psikologis bagi anak-anak yang mengalami trauma.
Dampaknya sangat signifikan, bukan hanya secara material tetapi juga sebagai bentuk diplomasi rakyat Indonesia terhadap Palestina.
Gerakan Filantropi Kolektif: Efek Domino
Langkah para kepala daerah akan menjadi role model bagi banyak pihak. Efek domino yang mungkin terjadi antara lain:
1.DPRD dan OPD Ikut Berdonasi
Jika anggota DPRD (40–50 orang per kabupaten/kota) ikut menyumbang, potensi dana bisa berlipat ganda.
2.ASN dan Masyarakat Tergerak
Gerakan ini akan memicu partisipasi sukarela ASN, guru, tenaga kesehatan, bahkan pengusaha lokal.
3.Gerakan Nasional Terpadu
APKASI dapat berkoordinasi dengan APEKSI (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia), APPSI (Asosiasi Pemerintah Provinsi), dan Kementerian Dalam Negeri untuk menggalang donasi terintegrasi.
Dimensi Moral dan Politik
Gerakan ini tidak semata-mata soal uang. Ada dimensi moral dan politik yang melekat:
Dimensi Moral: Memberi pesan bahwa pemimpin daerah peduli bukan hanya pada pembangunan lokal, tetapi juga pada penderitaan umat manusia secara global.
Dimensi Politik: Menguatkan posisi Indonesia di forum internasional sebagai bangsa yang konsisten membela Palestina.
Dimensi Sosial: Menghidupkan kembali semangat gotong-royong dan solidaritas nasional yang menjadi warisan budaya bangsa.
Perspektif Sejarah
Indonesia memiliki tradisi panjang solidaritas internasional. Presiden Soekarno pernah menolak mengundang Israel dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina. Pada era 1980-an, pemerintah bahkan mengizinkan penggalangan dana publik untuk Palestina. Gerakan filantropi kepala daerah hari ini bisa dipandang sebagai kelanjutan sejarah dari diplomasi moral tersebut.
-888-
Rekomendasi Kebijakan
Agar gerakan ini berkelanjutan dan terkelola baik, beberapa langkah dapat ditempuh:
1.APKASI Membentuk Program “APKASI Peduli Gaza”
Mengumpulkan donasi rutin dari para bupati/wali kota.
Menyalurkan bantuan melalui lembaga terpercaya (BNPB, Baznas, PMI, atau lembaga internasional seperti UNRWA).
2 Transparansi dan Akuntabilitas
Laporan bulanan mengenai dana yang terkumpul dan penyalurannya dipublikasikan secara terbuka.
3 Sinergi Nasional
Menggandeng Kemendagri, Kemenlu, dan organisasi masyarakat sipil untuk memperluas jangkauan bantuan.
4.Pendampingan Program Jangka Panjang
Tidak hanya bantuan darurat, tetapi juga dukungan pendidikan, kesehatan, dan pemulihan pascakonflik.
Kesimpulan
Langkah Bupati Lahat, Bursah Zarnubi, adalah titik awal penting dari sebuah gerakan kemanusiaan yang lebih luas.
Jika ditiru oleh seluruh kepala daerah, maka akan terkumpul miliaran rupiah setiap bulan yang dapat meringankan penderitaan rakyat Gaza.
Gerakan filantropi kolektif ini akan memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa yang peduli, beradab, dan memiliki empati global.
Lebih dari itu, ia akan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk ikut bergerak, menjadikan solidaritas terhadap Palestina bukan hanya slogan, tetapi aksi nyata.
والله اعلم بالصواب
C30092025, Tabik 🙏
Daftar Pustaka
CNN Indonesia. (2025). Bupati Lahat Donasikan Gaji untuk Gaza. https://www.cnnindonesia.com
Disway.id. (2025). Ketua APKASI Bursah Zarnubi Serukan Donasi Kemanusiaan.
Kemendagri. (2024). Data Jumlah Kabupaten/Kota di Indonesia.
UNRWA (2025). Gaza Situation Report.
Tempo.co (2024). Indonesia dan Diplomasi Palestina: Sejarah Dukungan Konsisten.








