oleh

Konsep Gotong Royong Menanggung Beban Covid

Konsep Gotong Royong Menanggung Beban Covid

Oleh : Drs. H. Azkar Badri, M.Si.
The RAWAS (Riset Apresiasi Warga Dan Sosial) Institute Yayasan Pataka.

Pengalangan sistem Gotong Royong dalam penanggulangan pembiayaan penanganan Pandemi Covid 19 sekarang ini. Sebuah gagasan bagus dan harus cepat terealisir dengan baik dan maksimal, mengingat Dana yang sudah dikeluarkan Pemerintah sudah mencapai hampir di ambang batas.

Bagaimana tidak, sudah menguras sekitar Rp.1.045 triliun dan sekarang dianggarkan Rp.600 triliun lebih. Utang Indonesiapun sudah di atas Rp. 6000 triliun membengkak. Sementara berakhir bencana ini belum bisa dipastikan. Korban diindikasikan meningkatkan cukup signifikan, perhari Kamis ini jumlah yang meninggal sudah di angka 77.583 orang. Peningkatan dari hari ke hari bertambah pada angka yang sangat signifikan. Malahan diperkirakan setelah varian Delta ini akan muncul varian baru SARS-COV. Konon akan lebih dahsyat lagi. Astaghfirullah. Au’dzubillah min dzalik.

Sementara kenyataan di lapangan serba kekurangan, meliputi Tenaga Kesehatan, Obat-Obatan (Kalaupun ada harga melambung tinggi). Sebuah contoh Vitamin D500IU perbox berisi 5 strip, harganya mencapai Rp.150 ribu perbox di pasaran, itupun kalau barangnya ada. Vaksin, Alat Kesehatan, Tabung Oksigen, Fasilitas Tempat Rawat. Begitu Bansos (Bantuan Sosial) kepada masyarakat yang terdampak ekonominya. Banyak pasien meninggal karena terlambat pertolongan, lantaran kekurangan hal tersebut. Dan jangan-jangan korban paling banyak meninggal berasal dari keluarga berstatus ekonomi menengah ke bawah, karena mau berobat cepat dan mandiri keterbatasan kemampuan ekonomi.

Sumber perbantuan Gotong Royong ini mungkin atau bisa digali/mobilisasi dari, antara lain :
Perusahaan-Perusahaan besar. Biasanya perusahaan besar ada alokasi dana CSR (Corporite Social Responsibility). Alokasi dari dana ini yang dimiliki masing-masing perusahaan, hasilnya sudah bisa diestimasikan cukup besar. Konon selama ini dana CSR yang dipetik oleh daerah penggunaannya tidak begitu jelas. Banyak dimanfa’atkan oleh Kepala Daerah untuk kepentingan pribadi. Berarti pendapatan Dari penggalian dana CSR ini dikalikan dengan jumlah perusahaan besar yang ada, tentu hasilnya cukup signifikan juga.

Kemudian juga dana dari organisasi kemasyarakatan yang didapati dari Pengurus dan Anggota. Organisasi Keagamaan dan kemasyarakatan yang besar seperti Nahdatul Ulama (NU) punya anggota puluhan juta ummat (tentu dari yang berpunya dan lebih). Begitu juga Muhammadiyah jema’ahnya puluhan ribu juga. Belum lagi organisasi keagamaan dan kemasyarakatan lainnya, serta organisasi-organisasi sosial dan profesi yang ada. Dari sini juga bisa mendapat kontribusi yang besar.

Tak luput juga kontribusi para Koruptor Kelas Kakap. Mereka ini yang sudah banyak menikmati uang rakyat. Harus memberikan sumbangsih untuk rakyat yang dilanda duka dan papah. Duka terpapar Pandemi, Papah terdampar ekonomi dari imbas Pandemi. Jangan mereka berlepas tangan, harus digugah turun tangan untuk mempercepat keluar dari prahara bencana ini. Belum lama ini beredar video di media sosial, mereka sedang berpesta pora di dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP). Terlalu atraktif dan antagonistik, di tengah rakyat menjerit mereka berpestaria. Terkesan perlawanan terhadap realitas sosial sa’at ini. Tak ada empati, tak ada peduli, tak ada kepekaan sosial. Padahal mereka ini banyak juga orang organisasi atau orang partai. Artinya jamak bagi mereka membantu orang lain, apalagi orang susah, orang yang sedang terkena bencana wabah sekarang ini.

Kemudian personal masing-masing yang kebetulan mempunyai kelebihan rizki. Secara langsung mereka bisa menyalurkannya kepada yang terkena dan terdampak. Kemarin viral di media sosial. Sebuah mobil melaju dengan pelan menyelusuri daerah pedagang kaki lima, sembari mengulurkan tangan memberi uang tunai kepada masing-masing pedagang kaki lima yang sepi pembeli. Ekspresi para penerima, haru bercampur gembira. Ini melambangkan, bahwa mereka sangat berterimakasih dan merasa terbantu untuk kebutuhan sesa’at. Bisa dibayangkan, jika gerakan ini dilakukan oleh banyak orang.

Potensi untuk saling membantu, Gotong Royong ini insha Allah bisa berjalan dengan baik dan sukses. Yang penting sekarang mari tanggalkan kepentingan pribadi atau kelompok. Apalagi menjadi ladang korupsi dan tak amanah. Secara ikhlas bergandengan tangan fokus ikut menyelesaikan atau meringankan beban masyarakat kita yang terkena Bencana Pandemi Covid.

Kita tidak habis pikir secara akal sehat, kalau Pandemi Covid ini masih dijadikan lahan menangguk keuntungan pribadi atau kelompok. Orang sedang bersusah-susah, menderita dan menggadai nyawa. Tetapi di sebelah sana ada yang sibuk menumpuk harta, baik itu penumpukan obat-obatan ataupun korupsi di Bansos. Tapi hal ini terjadi. Astaghfirullah.

Korupsi seputaran Pandemi Covid ini, apalagi masalah Bantuan Sosial (Bansos) menimbulkan dua masalah, disamping negara atau rakyat dirugikan, karena haknya dinikmati oleh yang tidak berhak. Juga yang tidak kalah parahnya, secara tidak langsung telah membunuh spirit kebersamaan masyarakat, solidaritas dan empati masyarakat. Padahal sesungguhnya masyarakat Indonesia sejak zaman nenek moyang dulu telah ditorehkan dan ditanam semangat gotong royong pada anak bangsa. Dalam skala kecil, mereka saling memberi sumbangan pada waktu hajatan pernikahan atau hajatan lain. Di daerah Sumatera ada istilah Berselang dan Perayan dalam masyarakat desa, mereka saling membantu tenaga pada waktu membangun rumah atau mengerjakan tanam menanam di kebun atau sawah.

Akibat perilaku koruptif, mengerucut dalam konteks Bansos pada situasi ini, mengakibatkan timbul antipati pada sebagian kecil orang. Pikiran sederhana mereka, dana untuk Bansos sudah dialokasikan dalam anggaran pemerintah, tapi diselewengkan. Nah sekarang rakyat juga yang akan dimobilisasi hal ini. Ada yang tertindas dan ada yang ladas (Bahasa daerah Palembang, Bersenang-senang). Antagonistik sungguh.

Sekarang terbangun kembali, indikatornya telah banyak yang bergerak memberikan sumbangsih, baik personal mau melalui kelembagaan/organisasi. Semangat kebersamaan mengahadapi Pandemi Covid ini, sudah terbersit dalam hati masing-masing kita, saya punya apa. Dan apa yang harus diberikan dalam andil kebersamaan keluar dari Pandemi ini. Semoga.

Ciputat, 22 Juli 2021

Berita Lainnya