oleh

Kayo vs Kaniayo. Sebuah Analogi Sumbangan 2T

Oleh : H. Azkar Badri, M.Si.
The RAWAS (Riset Apresiasi Warga Dan Sosial) Institute Yayasan Pataka.

Ada cerita di pedalaman Sumatera Selatan (Sumsel). Sa’at ia selesai membakar Pisang Mas di tempat memasak yang sering menggunaka kayu bakar. Tumpukan abu bakaran. Pisang yang dibakar dalam abu satu buah. Berubah menjadi tiga buah. Awalnya dia kira atas keajaiban yang terjadi. Ternyata yang dua buah adalah kotoran kucing yang biasa buang hajat di tempat tanah bercampur abu tanah bakaran. Dia surprise, kagum dan sangat bersyukur. Pisang bakar itu bertambah menjadi tiga buah. Tapi ternyata yang dua hanya tipuan, bukan pisang sebenarnya. Dia berkata, Tuhan, sampai hati Tuhan. Yang dibahasakannya dengan bahasa daerah Kaniayo.

Ini sebuah analogi, meskipun belum tentu pas benar. Di sa’at rakyat ini sangat membutuhkan bantuan dalam penanganan Pandemi Covid ini, baik korban yang terpapar virus maupun yang terdampak ekonomi. Tiba-tiba ada orang yang berbaik hati, memberikan bantuan yang memang sudah ditunggu-tunggu. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, 2 triliun rupiah. Angka yang fenomenal dan sangat luar biasa. Lantas, otomatis hampir seluruh anak negeri pasti mengapresiasinya sangat tinggi. Menyanjung, bahkan menjadikannya percontohan (role model) bagi pengusaha atau bagi kelompok/institusi lainnya, untuk bergotong royong dalam penanganan bencana Pandemi sekarang ini. Bahkan Dahlan Iskan mantan menteri BUMN mengatakan, ini tamparan bagi yang lain. Maksudnya, bagi pengusaha-pengusaha lain. Berarti hal ini, sangat luar biasa.

Sebelumnya, saya pernah menurunkan tulisan, Konsep Gotong Royong Menanggung Beban Covid. Kita ikut memberikan masukan beberapa hal yang bisa menjadi sumber perbantuan dalam kegotongroyongan ini. Kemudian setelah keluarga Akidi Tio mendeklarasikan pemberian bantuan untuk penanganan Pandemi Covid di Sumatera Selatan Ke Kapoldanya sebesar Rp 2 triliun. Saya menurunkan lagi Tulisan, Ditunggu Akidi Tio yang lain. Siapa Menyusul. Ini adalah dalam rangka mengapresiasi Keluarga Akidi Tio dan ikut mengetuk para darmawan yang lain. Meskipun kritisme juga muncul, antara lain melalui pertanyaan. Kenapa uang bantuan Covid sebesar itu tidak diserahkan langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Atau paling tidak ke Gubernur Pemerintah Sumsel. Dan persoalan ini sempat kita diskusikan dalam forum kecil. Tapi, iya sudahlah kata teman. Yang penting orang sudah berniat baik dan mau membantu.

Ternyata sekarang ini diperkirakan zonk, dananya tidak ada. Konon dananya masih di Singapura dan Hongkong. Aduh Emak. Dananya belum ada wujud di depan mata. Masih sebuah kemauan, antara cita dan fakta. Beda tipis dengan berharap memiliki burung yang masih terbang. Berharap makan keju belum tentu, lebih baik makan roti sumbu sudah kasat depan mata.

Mungkin kita lupakan pelan-pelan niat baik keluarga Akidi Tio memberikan sumbangan sebesar itu. Kalaupun nanti jadi kenyataan, Alhamdulillah. Jangan ditafsirkan pembohong publik dan sejenisnya. Yang jelas bangsa kita malu pada bangsa kita sendiri. Alhamdulillah, Presiden Joko Widodo tidak berkomentar sejak awal terhadap peristiwa ini. Jadi secara institusi pemerintah clear, tidak kena sangkut pautnya. Kenapa, dikhawatirkan timbul interpretasi bermacam-macam. Misalnya, Pemerintah terlalu berharap, Pemerintah sudah lemah atau lainnya. Padahal Pemerintah sudah mengucurkan Rp 1.035 triliun dan sekarang dianggarkan Rp 600 triliun lebih dan korban sosial lainnya.

Kita sangat yakin, masih banyak pemilik perusahaan besar di negeri ini yang punya dana ratusan triliun. Mereka punya nasionalisme tinggi, bakti untuk negeri. Sekarang mungkin sebuah momentum besar untuk menebus rasa malu rakyat, representasi dari bantuan keluarga Akidi Tio yang masih fatamorgana ini. Semoga.

*Penulis juga Dosen STIKOM MAA Ciputat.

Berita Lainnya