oleh

MEME “KING OF KELAKAR”, KRITIK TAK ESENSIAL ATAUKAH SARKASME BERAROMA POLITIK ?

Palembang|Coganews.co.id-Cukup menyengat, bahkan narasinya sedikit pedas dari kalimat yg disampaikan oleh adik2 mahasiswa sebuah Perguruan tinggi swasta di Palembang.
Berawal dari meme yg dipublish dan di artikulasikan sebagai sindiran (kritik ?) oleh BEM dari sebuah PT swasta (yg pernah “hampir kolaps” karena kasus mal-intelektual), dimana meme tersebut ditujukan kepada gubernur sumsel saat ini, Herman Deru.
Terus terang saya tidak membaca langsung “meme” tersebut, justru yg saya baca adalah sebuah komentar dari seorang pengamat politik Muhammad Arif yang menyikapi postingan “kritik ala BEM Una***” tersebut.
Dari tanggapan Muhammad Arif maka saya mencoba utk menggali dan menganalisa motif serta pola penyampaian ekspresi para intelektual muda yg mengatasnamakan Badan Eksekutif Mahasiswa diatas.
Dan inilah kesimpulan saya ;
Ciri ketajaman kritik intelektualistik yg harusnya dimiliki oleh organisasi mahasiswa sebagai kaum intelektual kampus tidak tampak, materi kritik (jika maksudnya utk melakukan oto kritik) juga terlalu naif, sehingga dapat dimaklumi jika muhammad arif lantas membuat analisa dlm perspektif bernuansa politik.
Kalau saya cenderung menggunakan istilah Kritik Tak Esensial, dan jika memang ada aroma pesan politik, maka meme itu adalah sebuah wujud nyata dari Sarkasme Beraroma Politik, mengambil dari idiom narasi “nyinyir” versi Muhammad Arif”.
Mahasiswa yg cerdas, selalu berani melakukan kritik tetapi sebaliknya juga kaya wawasan serta gagasan solusif yg siap ditawarkan utk menjawab kritik yg disampaikan.
Dan saya yg juga yg dulu pernah berada dilingkungan kampus, sangat merindukan munculnya para intelektual muda yg bukan hanya cerdas dalam kemampuan akademisnya, tapi juga memiliki kecerdasan emosional.
Kritik yg cerdas akan memberikan energi positif, sebaliknya kritik “asbun” hanya menciptakan panggung stand up comedy.

Salam Nusantara,

DPW PEKAT Indonesia Bersatu
Ketua,
Suparman Romans

Berita Lainnya