JELANG HUT RI Ke-80 BERKIBAR BENDERA ONE PIECE, ADA APA?

MS.Tjik.NG

 

*Bismillahirrahmanirrahim*

*Pendahuluan*

Setiap bulan Agustus, suasana merah-putih menyelimuti penjuru Indonesia. Bendera Merah Putih dikibarkan di rumah-rumah warga, instansi pemerintah, sekolah, hingga pusat perbelanjaan.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sebuah fenomena menarik muncul di ruang publik dan media sosial: bendera bajak laut Straw Hat Pirates dari anime One Piece turut berkibar menjelang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.

Media sosial diramaikan dengan video pengubaran bendera berwarna hitam dan putih dengan logo bajak laut.

Bendera One Piece ditempel di truck, mobil, di warung kopi dan lain sebagainya.

Menurut Ahli Hukm Pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar mengatkan, “tidak ada larangan dalam pengibaran Merah Putih bersamaan dengan Bendera lain, kecuali bendera kain itu bendera yang dilarang untuk dikibarkan karena ada larangan hukum atau putusan Pengadilan” Menurutnya Bendera yang dilarang adalah bendera dari Partai yang dilarang. Kompas.com (1/8/2025)

-888-

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: Ada apa dengan generasi muda Indonesia dan bendera One Piece? Apakah ini bentuk dekadensi nasionalisme atau ekspresi identitas baru dalam era global?

*One Piece dan Budaya Pop Jepang*

One Piece, karya mangaka Eiichiro Oda, adalah salah satu manga dan anime terpopuler sepanjang sejarah. Sejak pertama kali terbit pada tahun 1997 di Weekly Shonen Jump, One Piece telah menjual lebih dari 500 juta kopi di seluruh dunia dan mencatat rekor dunia Guinness untuk “komik dengan jumlah cetakan terbanyak dari satu seri yang ditulis oleh satu penulis” (Guinness World Records, 2015).

Lebih dari sekadar hiburan, One Piece adalah simbol budaya pop Jepang (Cool Japan) yang menyebar luas di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Bendera bajak laut dengan lambang tengkorak memakai topi jerami menjadi ikon global yang menandakan kebebasan, petualangan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

*Bendera One Piece: Simbol Perlawanan dan Impian*

Dalam konteks One Piece, bendera bajak laut bukan sekadar identitas kelompok, tetapi juga manifestasi dari mimpi, solidaritas, dan nilai kebebasan. Kapten Monkey D. Luffy dan kru-nya bukanlah bajak laut jahat, tetapi pejuang yang melawan ketidakadilan dan penindasan dalam dunia fiksi mereka. Dalam banyak arc, kru Topi Jerami berdiri melawan tirani dan membela rakyat tertindas – sebuah narasi yang resonan dengan semangat perjuangan dalam sejarah Indonesia.

READ  10.000 Pengurus Ranting dan Anak Ranting Masa Bakti 2020-2025 Se Muba Siap Dilantik

Pengibaran bendera One Piece menjelang 17 Agustus dapat dipahami sebagai bentuk cultural fusion, di mana generasi muda menggabungkan simbol budaya populer dengan semangat nasional. Sebagaimana dicatat Henry Jenkins (2006) dalam teorinya tentang participatory culture, anak muda bukan sekadar konsumen pasif, tetapi kreator dan pemakna ulang budaya.

*Antara Nasionalisme dan Globalisasi*

Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah pengibaran bendera One Piece di bulan kemerdekaan menandakan lunturnya nasionalisme?

Pertanyaan ini layak dikaji secara lebih dalam. Dalam konteks globalisasi dan media digital, identitas nasional dan kultural menjadi semakin cair. Budaya populer global seperti anime, K-pop, dan game online menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Namun, ini tidak serta merta menghapus nasionalisme, melainkan membentuk bentuk baru dari nasionalisme hibrida.

Menurut Koichi Iwabuchi (2002) dalam bukunya Recentering Globalization, budaya populer Asia seperti anime justru memperlihatkan dinamika cultural proximity, di mana masyarakat non-Barat membentuk kedekatan emosional dan simbolik dengan representasi dari sesama Asia. Dalam hal ini, keterikatan generasi muda Indonesia dengan One Piece tidak berarti mereka anti-Indonesia, tetapi sedang membentuk pemahaman baru tentang keberanian, perjuangan, dan kemerdekaan.

*Simbolisme Alternatif dan Aspirasi Sosial*

Di sisi lain, bendera One Piece juga bisa dilihat sebagai representasi kekecewaan simbolik terhadap kondisi nasional.

Ketika masyarakat merasa bahwa simbol-simbol resmi negara kurang mewakili aspirasi mereka seperti keadilan sosial, keberanian moral, atau integritas mereka bisa mencari simbol alternatif yang dirasa lebih otentik.

Fenomena ini mirip dengan apa yang disebut Slavoj Žižek (2008) sebagai ideological fantasy, yaitu bagaimana masyarakat membentuk imajinasi politik melalui simbol populer. Dalam konteks ini, Luffy bisa dipandang sebagai “pahlawan alternatif” yang berani melawan sistem yang bobrok sesuatu yang jarang ditemukan dalam dunia nyata atau dalam tokoh-tokoh nasional kontemporer.

*Reaksi Publik dan Negara*

Reaksi terhadap fenomena ini pun beragam. Beberapa kalangan menganggapnya sebagai gejala degradasi nasionalisme, bahkan lack of patriotism. Namun, sebagian lain melihatnya sebagai peluang untuk memahami bagaimana nasionalisme bekerja di kalangan generasi digital (Gen Z dan Alpha).

READ  PANGGILAN UNTUK GENERASI MUDA MUBA: KULIAH GRATIS & JADI AHLI SAWIT DUNIA Full Scholarship (Beasiswa Penuh)

Menurut survei CSIS (2022), meskipun generasi muda Indonesia sangat terbuka terhadap budaya asing, tingkat kebanggaan terhadap identitas nasional tetap tinggi, bahkan cenderung meningkat.

Pemerintah dan lembaga pendidikan seharusnya tidak merespons fenomena ini secara reaktif, tetapi menggunakannya sebagai titik masuk untuk mendekati generasi muda.

Alih-alih melarang bendera One Piece, mengapa tidak memanfaatkannya sebagai medium edukatif untuk membahas nilai-nilai perjuangan, etika moral, dan hak asasi?

*Penutup: Refleksi Jelang 17 Agustus*

Pengibaran bendera One Piece menjelang HUT RI bukanlah sekadar trend lucu-lucuan. Ini adalah cermin dari cara generasi muda berinteraksi dengan identitas nasional dan global dalam dunia yang terus berubah. Di satu sisi, ia menunjukkan pengaruh kuat budaya populer. Di sisi lain, ia juga mengandung potensi dialog antara simbol lama dan baru, antara sejarah dan masa depan.

Mungkin kita perlu bertanya ulang: Apakah nasionalisme harus selalu bersifat formal dan simbolik, ataukah bisa hadir dalam bentuk yang lebih cair, kreatif, dan personal?

Jadi, saat bendera One Piece berkibar di antara merah putih, bukan berarti nasionalisme pudar. Mungkin, justru di situlah semangat kemerdekaan sedang ditafsirkan ulang oleh generasi penerus bangsa.

والله اعلم بالصواب

CO6082025, Tabik🙏

Referensi :

1. Guinness World Records. (2015). Most copies published for the same comic book series by a single author.

2. Jenkins, H. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide. New York: NYU Press.

3. Iwabuchi, K. (2002). Recentering Globalization: Popular Culture and Japanese Transnationalism. Duke University Press.

4. Žižek, S. (2008). The Sublime Object of Ideology. Verso.

5. CSIS Indonesia. (2022). Survei Nasional: Persepsi Anak Muda terhadap Masa Depan Indonesia.

6. Oda, E. (1997–present). One Piece. Shueisha.

7. Yulianto, V. (2020). “Budaya Pop dan Nasionalisme Kaum Muda: Studi Kasus Anime Jepang di Indonesia.” Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 24(1), 65-80.

8. Sugihartati, R. (2019). “Pemanfaatan Budaya Pop dalam Pendidikan Karakter Generasi Milenial.” Komunika: Jurnal Ilmu Komunikasi 13(2), 145-160