Phubbing Dan Kekagetan Budaya

Oleh Azkar Badri. Dosen Dan Konsultan Komunikasi

Coganews – tenggerang, Kemajuan teknologi komunikasi di samping memberikan keuntungan besar bagi manusia, terutama dalam mempermudah kerja di segala lini kehidupan, termasuk ekonomi yang menjadi hajat hidup manusia.

Namun di sisi lain pasti ada dampak negatifnya, jika pemakainya tidak bijak. Ibarat sebuah pisau. Bagaimana benda jika dipegang oleh dokter bedah, justeru bisa membantu bahkan menyelamatkan nyawa manusia. Tapi bagaimana pisau itu di tangan orang stres. Bisa membahayakan bagi dirinya sendiri atau orang lain.

Analogi ini juga berlaku bagi pemegang gadget, handphone/Ponsel. Komunikasi dan informasi berada dalam genggaman. Mencari informasi yang dibutuhkan cukup memainkan jemari di benda kecil ini. Tak perlu membolak-balik halaman surat kabar atau majalah seperti era lalu yang dilakukan oleh kebanyakan orang.

Begitu pula untuk berteleponan dengan orang seberang sana. Tak perlu dari rumah atau antri di Warung Telepon (Wartel) seperti antrian mau berobat di rumah sakit. Cukup jemari . menekan nomor di benda ajaib ini. Sudah terhubung memanggil dan menerima komunikan di seluruh jagat raya ini. Atau untuk keperluan lainnya. Luar biasa hebatnya.

Namun akhir-akhir ini orang dirisaukan dengan pemakaian gadget yang berlebihan, tanpa menghiraukan situasi, kondisi dan tempat berada. Bahkan terkadang bisa mungkin pemakaian ponsel ini tidak dalam hal yang urgen. Sebut saja WA-an iseng dengan sesama teman atau bertelepon. Bisa juga pengetikan naskah ringan. Atau juga nonton YouTube dan lainnya. Padahal terkadang juga untuk pamer, menghilangkan kegalauan dan bernuansa hiburan. Sedangkan dia lagi berada dekat dengan satu komunitasnya.

READ  Upacara HUT Ke-79 RI di IKN Berlangsung Khidmat, Listrik PLN Aman Tanpa Kedip

Hal demikian, menyebabkan terkesan terasing (alinasi) dengan lingkungan sekitar. Paradoksal dengan budaya l Indonesia, ramah, penuh sopan santun, beradab dan silaturahim. Keterasingan dan cenderung cuek dengan orang lain ini dinamakan Phubbing (singkatan dari phone dan snubbing). Indonesia belum kita dengar secara jelas gerakan untuk menurunkan tingkat Phubbing ini terutama di kalangan generasi muda. Malah justeru sudah lama didahului oleh lembaga swasta di luar. Perusahaan McCann Melbourne Australia tahun 2012/2013 mengadakan kampanye tentang hal ini yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak negatif penggunaan Ponsel yang berlebihan.

Begitu juga WSIS (World Summit Information Society) Kelompok Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB belum terdengar mengantisipasi hal ini. Hanya masalah Kesenjangan Digital atau Digital Ramah Anak. Padahal ini perlu meskipun mungkin budaya luar sudah terbiasa dengan hidup asosial, cuek, individual, berbeda dengan Indonesia.

READ  Tips Budget Listrik Aman Selama Ramadhan, Catat Meter Listrik Pascabayar dan Dapatkan Estimasi Tagihan

Phubbing di Indonesia menjadi budaya baru di kalangan generasi muda. Sementara mereka meskipun lahir dan dibesarkan oleh orangtuanya, orang Indonesia. Namun tidak begitu mengakar dengan budaya kearifan lokal, lokal Indonesia. Sehingga mereka ini terjebak dalam Kekagetan Budaya.

Kekagetan Budaya ini dalam istilah Kalervo Oberg disebut Culture Shock, tahun 1960. Antropolog Kanada ini mendefinisikannya sebagai rasa kurang nyaman atau kebingungan yang dialami oleh seseorang ketika berada di lingkungan budaya yang masih asing, belum terbiasa, belum menjadi kebiasaan umum orang banyak.

Kalevo Oberg membagikan tahapan Culture Shock ini, meliputi: Honeymoon, fase gembira dan penasaran. Frustrasi, fase orang tidak merasa nyaman dengan perbedaan budaya. Penyesuaian, fase orang sudah mulai nyaman dan beradaptasi dengan budaya baru. Dan Aklimasi, Fase orang sudah merasa nyaman dan dapat beradaptasi dengan lingkungan budaya baru.

Untuk itu jangan sampai Phubbing menjadi budaya baru yang dapat menghilangkan atau mengganti budaya Indonesia. Bisa jadi, jika tidak dari sekarang memulaikan secara nasional mengkampanyekan Anti Phubbing. Mari hidup bersama keluarga Indonesia. Semoga.

Berita Lainnya