Coganews – Lain era lain peristiwa. Setiap masa ada isu generasinya. Setiap generasi ada tantangannya. Tantangan dulu dan tantangan sekarang berbeda. Begitu juga tantangan mendatang. Tinggal lagi persoalannya kompleksitas atau tidak.
Dulu, 28 Oktober 1928, di sebuah rumah di Jalan Kramat 106 Jakarta, pemuda dari berbagai suku berkumpul, bersepakat dan bersumpah untuk tanah air, berkomitmen Bahwa, Bertumpah Darah Satu, Berbangsa Satu, Berbahasa Satu – Indonesia. Itulah Indonesia sebuah negara.
Sekarang sudah masuk ke 98 tahun Sumpah Pemuda. Sering kita lihat pemandangan di Bandara Antrean panjang bukan untuk kongres pemuda, tetapi untuk penerbangan ke Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Sumpah untuk membangun negeri berubah menjadi tekad untuk meninggalkan negeri demi pekerjaan dan makan.
Ini bukan pengkhianatan. Ini adalah cermin kegagalan kita menyediakan lapangan kerja yang layak bagi pemuda di negerinya sendiri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024 saja mencatat:
1. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok umur 15-24 tahun mencapai *16,89%*, hampir 4 kali lipat dari TPT nasional yang 4,91%. Artinya, hampir 1 dari 5 pemuda Indonesia menganggur.
2. Penduduk usia kerja yang termasuk NEET (_Not in Employment, Education, or Training_) mencapai 21,3% – pemuda yang tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak ikut pelatihan.
3. Sementara itu, data BP2MI menunjukkan penempatan PMI pada 2023 mencapai 274.965 orang, dan hingga Agustus 2024 sudah 217 ribu orang. Mayoritas adalah pemuda usia 18-35 tahun. Negara tujuan terbesar bukan lagi pekerjaan domestik saja, tetapi manufaktur dan service di negara maju.
Di satu sisi, kita merayakan bonus demografi: 68% penduduk Indonesia adalah usia produktif. Di sisi lain, bonus itu berubah menjadi bencana demografi jika pemuda produktifnya justru harus diekspor.
*Mengapa Pemuda Harus ke Luar Negeri?*
*1. Kesenjangan Pendidikan dan Industri (Skills Mismatch)*
Dulu pemuda bersumpah karena mereka punya musuh bersama: kolonialisme. Kini musuh pemuda adalah ijazah yang tidak laku. Riset World Bank (2023) menyebut 58% pemberi kerja di Indonesia kesulitan mencari lulusan dengan keterampilan yang sesuai. Kampus masih mencetak sarjana administrasi, sementara industri butuh operator robot, data analyst, dan perawat.
Pemuda mencari ke luar negeri bukan karena tidak cinta Indonesia, tetapi karena di Jepang gaji perawat magang bisa Rp 20-25 juta, sementara di Indonesia perawat honorer Rp 800 ribu.
*2. Lapangan Kerja Formal yang Menyusut*
Ekonomi tumbuh 5% per tahun, tetapi penciptaan lapangan kerja formal hanya tumbuh 2%. Fenomena _jobless growth_ terjadi. Sebagian besar lapangan kerja baru ada di sektor informal dan gig economy (ojol, reseller) yang tanpa jaminan sosial dan upah tidak layak.
Ketika di dalam negeri upah minimum tertahan dan kontrak kerja pendek (outsourcing), maka bekerja di luar negeri dengan sistem kontrak yang jelas dan perlindungan lebih baik menjadi pilihan rasional, bukan emosional.
*3. Hilangnya Makna Sumpah: Dari Idealisme ke Survival*
Sumpah Pemuda 1928 lahir dari pemuda terdidik yang sudah punya pekerjaan dan status – Jong Java, Jong Sumatranen Bond. Mereka bisa beridealisme karena perut kenyang.
Pemuda hari ini dihadapkan pada survival. Menurut survei CSIS 2023, kekhawatiran terbesar pemuda (Gen Z) bukan soal ideologi, tetapi soal lapangan kerja (32,9%) dan mahalnya biaya hidup. Sulit meminta pemuda bersumpah untuk bangsa jika bangsa belum memberi kepastian pekerjaan.
*Mengembalikan Sumpah Lewat Kebijakan*
Jangan salahkan pemuda yang ke luar negeri. Salahkan negara yang belum bisa membuat mereka tinggal di negeri tempat mereka dilahirkan.
Jika negara ingin pemuda kembali bersumpah untuk Indonesia, maka sumpah itu harus diterjemahkan dalam kebijakan nyata:
1. *Revolusi Vokasi:* Link and match pendidikan tidak bisa hanya slogan. Perbanyak SMK dan Politeknik yang kurikulumnya ditulis bersama industri, bukan oleh birokrat.
2. *Industrialisasi Padat Karya:* Hilirisasi nikel penting, tetapi hilirisasi yang menyerap ribuan pemuda di desa lebih penting. Kembangkan agroindustri, maritim, dan ekonomi kreatif yang menyerap tenaga kerja muda.
3. *Negara Hadir untuk PMI:* Selagi mereka masih harus ke luar negeri, berikan perlindungan. Jangan biarkan mereka berangkat lewat jalur ilegal karena biaya resmi terlalu mahal. Jadikan mereka duta, bukan korban perdagangan orang.
Dulu pemuda bersumpah karena mereka melihat harapan pada Indonesia. Kini tugas negara adalah mengembalikan harapan itu, agar pemuda tidak perlu bersumpah di negeri orang.
*Salam Indonesia Kuat.











