Ada Jejak Sriwijaya Pada Sengketa Perbatasan: Warisan Kultural Candi Preah Vihear

MS.Tjik.NG

*Bismillahirrahmanirrahim*

_Abstraksi_

Sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja atas Candi Preah Vihear bukan hanya persoalan geopolitik kontemporer, tetapi juga mencerminkan bagaimana warisan budaya dan sejarah masa lampau — termasuk pengaruh Kekaisaran Sriwijaya — menjadi sumber legitimasi klaim kedaulatan. Artikel ini menelusuri dimensi historis dan kultural dalam konflik tersebut, sekaligus menunjukkan peran warisan imperium maritim Asia Tenggara dalam membentuk narasi dan batas-batas negara modern.

_Pendahuluan_

Konflik antara Thailand dan Kamboja mengenai Candi Preah Vihear sering dipahami semata dalam bingkai sengketa wilayah dan nasionalisme kontemporer. Namun, akar sejarahnya jauh lebih dalam. Situs candi ini tidak hanya mencerminkan kejayaan peradaban Khmer, tetapi juga menyimpan jejak hubungan budaya yang lebih luas di Asia Tenggara, termasuk interkoneksi dengan kekuatan besar masa lalu seperti Sriwijaya.

Penelusuran terhadap jaringan kultural dan politik Sriwijaya di wilayah ini memberi perspektif baru atas cara negara-negara modern mempersepsikan warisan sejarah sebagai landasan legitimasi teritorial.

2.Candi Preah Vihear: Situs Sakral dan Strategis

Terletak di pegunungan Dângrêk, Candi Preah Vihear dibangun dari abad ke-9 hingga ke-12 oleh raja-raja Khmer yang memuja Siwa dalam tradisi Hindu. Arsitektur dan letaknya yang menghadap ke dataran Kamboja menjadikannya simbol spiritual dan pengawasan teritorial. Pada masa kejayaannya, kawasan ini merupakan bagian dari jejaring kultural dan politik yang melintasi daratan dan maritim Asia Tenggara, di mana kerajaan Sriwijaya menjadi aktor penting.

 

3.Sriwijaya dan Jejaring Kultural Asia Tenggara

READ  Pastikan Keamanan dan Akurasi Pemakaian Listrik Pelanggan, PLN UID S2JB Lakukan Pemeriksaan kWh Meter Gabungan

Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 hingga ke-13) dikenal sebagai kekuatan maritim dan pusat studi Buddhisme Mahayana yang mengendalikan jalur perdagangan strategis Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Hubungan antara Sriwijaya dan dunia Khmer tercermin melalui:

Pertukaran ulama dan biksu antara Palembang dan Angkor.

Persebaran seni arsitektur dan ikonografi keagamaan yang serupa di candi-candi seperti Preah Vihear, Sambor Prei Kuk, dan Wat Phu.

Bukti epigrafis dan linguistik tentang pengaruh Melayu-Kawi di wilayah Indocina.

Dengan kata lain, Sriwijaya bukan sekadar kerajaan maritim, tetapi juga agen kosmopolitanisme regional yang membentuk identitas budaya Asia Tenggara.

-888-

4.Kolonialisme dan Batas Buatan

Klaim teritorial modern terhadap Candi Preah Vihear baru menjadi persoalan pasca- penjajahan. Perjanjian-perjanjian antara Prancis (yang menjajah Kamboja) dan Inggris (yang berpengaruh di Thailand) menciptakan garis batas yang mengabaikan realitas sejarah dan kultural.

Ketika Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan pada 1962 bahwa Candi Preah Vihear milik Kamboja, dan menguatkannya lagi pada 2013, yang dipertaruhkan bukan hanya batas wilayah, tetapi juga warisan dan kebanggaan sejarah.

5.Warisan Budaya sebagai Arena Politik

Candi Preah Vihear telah menjadi simbol nasionalisme:

Di Kamboja, candi ini adalah warisan luhur Khmer dan simbol kemenangan atas kolonialisme serta kedaulatan budaya.

Di Thailand, sebagian kelompok menolak keputusan ICJ karena menganggap kawasan sekitar candi adalah bagian dari identitas Siam.

Ini menunjukkan bahwa warisan budaya bukan entitas netral, melainkan dapat menjadi alat legitimasi, mobilisasi, bahkan konflik. Dalam konteks ini, jejak Sriwijaya menunjukkan bahwa budaya Asia Tenggara bersifat lintas batas, bukan milik eksklusif negara modern manapun.

READ  Door to Door ke Permukiman, PLN ULP Manna Tingkatkan Kesadaran Keselamatan Listrik Warga

6.Refleksi: Dari Nasionalisme ke Diplomasi Budaya

Pemahaman atas keterhubungan sejarah seperti pengaruh Sriwijaya seharusnya mendorong pendekatan diplomatik yang menekankan warisan bersama (shared heritage) daripada klaim eksklusif.

ASEAN sebagai entitas regional memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi pendekatan ini agar situs-situs seperti Preah Vihear dapat menjadi jembatan budaya, bukan batu ujian politik.

7. Kesimpulan

Jejak Sriwijaya dalam dinamika budaya kawasan, termasuk dalam konteks Candi Preah Vihear, memperlihatkan bahwa sejarah Asia Tenggara dibangun di atas jejaring keterhubungan, bukan pemisahan. Sengketa Preah Vihear mengingatkan bahwa warisan budaya dapat menjadi sumber konflik jika dilihat dari kacamata nasionalisme sempit.

Namun, jika didekati secara historis dan diplomatis, warisan ini justru dapat menjadi landasan perdamaian dan integrasi regional.

والله اعلم بالصواب

C27072025,Tabik🙏

Daftar Pustaka :

Coedès, George. The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press, 1968.

ICJ. Judgment of the Temple of Preah Vihear (Cambodia v. Thailand), 1962 & Interpretation 2013.

Mabbett, Ian & Chandler, David. The Khmers. Blackwell, 1995.

Wolters, O.W. History, Culture, and Region in Southeast Asian Perspectives. Cornell University, 1999.

Munoz, Paul Michel. Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Editions Didier Millet, 2006.

Wikipedia Preah Vihear.