Rise and Resilience ala Purbaya, Gasspoll Mari Kita Kaya Bareng!!

(Dandi Wahyu Pratama,SE/265641010-Mahasiswa Pasca Sarjana MM Universitas Tridinanti Palembang)

 

Palembang – Dunia manajemen keuangan identik dengan segala hal yang menyangkut masa depan, mulai dari rumah tangga hingga negara. Bahkan ketika ingin mencari pendamping hidup baik laki-laki maupun perempuan hal ini menjadi faktor utamanya, bagaimana visi misi keuangan masa depannya, porsi uang jajan,dana pendidikan,belanja rumah,investasi jangka panjang dan langkah-langkah konkret nya dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.

Demikian juga dengan posisi Menteri Keuangan sebagai bendahara negara yang memiliki peran sentral dalam setiap kebijakan fiskal maupun moneter. Jika dulu kita mengenal Sri Mulyani sosok legend Menkeu dari era Presiden SBY, Presiden Jokowi hingga Presiden Prabowo. Namun saat nama Purbaya muncul ke permukaan ternyata tidak kalah menariknya dalam setiap gebrakannya.

 

Purbaya Yudhi Sadewa resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia pada 8 September 2025 di Istana Negara. Purbaya (Eks Ketua Dewan Komisioner LPS) mengemban sisa masa jabatan periode 2024-2029 di Kabinet Merah Putih.

 

Dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo terutama untuk program unggulan seperti MBG (Makan Bergizi Gratis), Sekolah Rakyat dan target pertumbuhan ekonomi 8%, ditambah juga oleh tantangan ketidakpastian ekonomi global, perang dagang AS-China, perang Israel dan Iran dengan efek domino selat Hormuz-nya, inflasi, hingga ancaman resesi dunia, Indonesia membutuhkan sosok yang tidak hanya piawai menjaga stabilitas fiskal, tetapi juga mampu membangun optimisme masa depan. Spirit Rise and Resilience menjadi gambaran bagaimana arah kebijakan ekonomi Indonesia mulai difokuskan bukan hanya pada pertumbuhan angka semata, melainkan juga ketahanan sosial masyarakat di lapangan,sehingga dengan gaya senyuman khas Coboy dan salam jempolnya, Purbaya berani bilang “Mari Kita Kaya Bareng!”.

 

Konsep ini terlihat dari keberanian pemerintah mendorong program-program strategis seperti MBG (Makan Bergizi Gratis), Sekolah Rakyat, penguatan pajak sebagai instrumen pembangunan, hingga perluasan akses beasiswa LPDP untuk mencetak generasi unggul Indonesia Emas 2045.

READ  Silaturahim Ngopi Bareng Dibalut Diskusi Bersama Kepemudaan Mahasiswa Aktivis Sumsel Kapolrestabes Palembang dan Kapolda Sumsel

 

Ekonom dunia John Maynard Keynes pernah mengatakan bahwa negara harus hadir secara aktif ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi. Menurut Keynes, intervensi pemerintah melalui belanja publik mampu menciptakan multiplier effect bagi ekonomi. Dalam konteks Indonesia, program MBG bukan hanya berbicara soal makan gratis, tetapi investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.

 

Anak-anak yang sehat hari ini adalah fondasi produktivitas bangsa di masa depan. Ketika gizi diperbaiki, daya pikir meningkat, maka kualitas pendidikan dan produktivitas ekonomi juga ikut bertumbuh. Di sinilah negara memainkan peran strategis sebagai economic stabilizer sekaligus human capital builder.

 

Tak hanya itu, gagasan Sekolah Rakyat menjadi simbol bahwa pendidikan tidak boleh berhenti karena kemiskinan. Ekonom pemenang Nobel, Amartya Sen, menekankan bahwa pembangunan sejati adalah memperluas kebebasan dan kesempatan manusia. Pendidikan menjadi instrumen utama untuk memutus rantai kemiskinan struktural.

 

Sekolah Rakyat bukan sekadar bangunan fisik, tetapi representasi harapan bahwa anak desa, anak petani, anak buruh, hingga pelosok negeri memiliki hak yang sama untuk bermimpi besar. Ketika akses pendidikan diperluas, maka mobilitas sosial masyarakat akan ikut meningkat.

 

Di sisi lain, pajak tetap menjadi tulang punggung pembangunan nasional. Banyak masyarakat masih memandang pajak sebagai beban, padahal dalam teori ekonomi modern, pajak merupakan alat distribusi kesejahteraan. Adam Smith dalam *The Wealth of Nations* menjelaskan bahwa pajak yang dikelola secara adil akan menjadi fondasi negara yang kuat dan beradab.

 

Pajak dari rakyat sejatinya kembali kepada rakyat melalui jalan, sekolah, rumah sakit, subsidi, hingga program perlindungan sosial. Tantangannya hari ini bukan hanya meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga membangun kepercayaan publik bahwa pajak benar-benar dikelola secara transparan dan berpihak kepada kesejahteraan masyarakat.

 

Sementara itu, beasiswa LPDP menjadi simbol investasi jangka panjang Indonesia terhadap intelektualitas generasi muda. Negara sedang menanam benih kepemimpinan masa depan. Dalam teori human capital Gary Becker, pendidikan merupakan bentuk investasi paling bernilai karena mampu meningkatkan kualitas manusia sekaligus pertumbuhan ekonomi negara.

READ  dr. Letizia, M.Kes Resmikan Operasional Mobile Lab Biosafety level 2

 

Dengan pendidikan berkualitas maka akan lahir calon ilmuwan, ekonom, birokrat, diplomat, hingga inovator yang nantinya kembali membangun Indonesia dengan perspektif global namun tetap berpijak pada kepentingan nasional. Sehingga mimpi untuk bisa “kaya bareng” bisa terwujud dengan jalannya masing-masing.

 

Namun, semua program besar tersebut tentu membutuhkan pengelolaan fiskal yang hati-hati, pengawasan langsung dari masyarakat dan tepat sasaran. Di sinilah pentingnya orkestrasi keuangan negara yang adaptif, responsif, namun tetap menjaga disiplin anggaran. Spirit Rise and Resilience menunjukkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya bertahan menghadapi krisis, tetapi juga bangkit menciptakan peluang baru.

 

“Economic resilience is not about avoiding storms, but learning how to grow stronger through them.”

“Ketahanan ekonomi bukan tentang menghindari badai, tetapi belajar menjadi lebih kuat saat melewatinya.”

 

Namun kenyataannya di lapangan masih banyak sekali komentar negatif mengenai program MBG dan Sekolah Rakyat, tidak sedikit para pakar, mahasiswa,pedagang kantin hingga ibu-ibu rumah tangga yang memprotes MBG yang mubazir, buang-buang anggaran, harga-harga sembako menjadi mahal hingga terciptanya sekat-sekat baru di kelas masyarakat dengan adanya Sekolah Rakyat (SR).

 

Jika seluruh elemen ini dikawal dengan tata kelola yang baik, mahasiswa yang kritis, dan rakyat yang cerdas maka Indonesia bukan hanya mampu bertahan di tengah tekanan global, tetapi juga bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru dunia.

 

Karena pada akhirnya, kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi dari seberapa banyak rakyat kecil yang ikut merasakan harapan, kesempatan, dan masa depan yang lebih baik. Kito pacak man kito galak,ready to shine! (Danaz)